Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
KOMPAS.com - Varises atau pembesaran pembuluh darah pada kaki biasanya terjadi pada orang dewasa. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan tidak baik seperti berdiri atau duduk terlalu lama. Meski identik dengan orang dewasa, ternyata anak-anak juga bisa menderita varises.
Spesialis Bedah Vaskular RS Premier Bintaro dr. Suhartono, Sp.B(K)V mengatakan, varises mungkin saja terjadi pada anak, meskipun sangat jarang. Varises yang terjadi pada anak disebabkan oleh kelainan bawaan, bukan kebiasaan.
Suhartono memaparkan, kebiasaan buruk yang menyebabkan varises dilakukan dalam waktu yang lama. Meskipun anak melakukan kebiasaan buruk penyebab varises, namun jika terjadi kerusakan pada pembuluh darahnya, belum tentu menimbulkan varises.
"Maka pemeriksaan varises pada anak harus lebih tahap yang lebih lanjut. Tidak bisa dilakukan seperti pemeriksaan yang dilakukan pada orang dewasa," ujar Suhartono dalam konferensi pers pada peresmian Vascular Centre di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Minggu (26/5/2013).
Jika pemeriksaan varises pada orang dewasa meliputi pemeriksaan fisik dan ultrasonografi (USG), maka pada anak diperlukan pemeriksaan riwayat penyakit dari orangtua hingga keturunan-keturunan sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apabila varises disebabkan oleh faktor kelainan bawaan.
Varises dapat mengakibatkan komplikasi seperti luka sulit sembuh pada kaki, hingga penyumbatan pembuluh yang berakibat fatal.
Lantaran komplikasinya serius, Suhartono menyarankan agar tidak menyepelekan varises dengan mengetahui faktor risikonya. Selain kebiasaan banyak duduk dan berdiri, kebiasaan seperti merokok dan kurang aktivitas fisik juga meningkatkan kemungkinan menderita varises.
KOMPAS.com - Pernahkah Anda mengalami kram pada salah satu sisi perut saat berolahraga? Hal ini sebenarnya normal, bahkan seorang atlet profesional pun pernah mengalaminya. Namun kram pada satu sisi perut tentu akan mengganggu aktivitas olahraga. Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Sebelum mengetahui cara untuk mengatasi kram satu sisi perut, kita terlebih dahulu harus mengetahui gejala dan penyebabnya. Gejala dari kram satu sisi perut bervariasi tergantung pada tubuh masing-masing orang, tingkat kerentanan, dan jenis olahraga yang dijalani.
Mungkin Anda bisa mengalami rasa nyeri ringan, atau malah rasa nyeri yang tajam dan tiba-tiba di satu sisi perut. Bahkan, Anda juga bisa merasakan sensasi seperti ditarik dan kram di perut. Jika perlu, catat gejala yang dirasakan untuk didiskusikan lebih lanjut dengan dokter.
Penyebab kram pada satu sisi perut pun bervariasi, meskipun penyebab sesungguhnya masih belum diketahui. Menurut situs Aetna's Intellihealth, kekurangan potasium dan elektrolit merupakan salah satu penyebabnya. Ketika berolahraga, tubuh berkeringat dan kehilangan elektrolit.
Selain itu, penyebab lainnya adalah kelelahan pada otot perut yang menyebabkan kram, terutama jika jenis olahraga yang dilakukan berfokus pada otot perut. Kelelahan otot juga dapat menyebabkan nyeri pada kram otot.
Saat terjadi kram di satu sisi perut, maka yang perlu dilakukan adalah mengurangi intensitas olahraga perlahan dan kemudian berhenti. Menghentikan olahraga mendadak justru akan memperburuk keadaan. Setelahnya, beristirahatlah dari olahraga.
American Academy of Orthopaedic Surgeons menyarankan untuk melakukan pijatan di sisi perut dengan jari untuk membantu rileksasi otot. Jika perlu beri penghangat di bagian tersebut untuk mempercepat rileksasi otot. Jangan mulai olahraga kembali ketika kram belum hilang.
Untuk mencegahnya, maka pastikan tubuh terhidrasi dengan baik sebelum dan selama berolahraga. Sebelum berolahraga, lakukan peregangan otot perut yang cukup. Serta hindari berlari dalam keadaan perut penuh makanan. Bernapaslah dalam-dalam saat berolahraga untuk memberikan suplai oksigen yang cukup pada otot.
Kompas.com - Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan adalah soal bagaimana pilihan otak untuk mengabaikan sesuatu, bukannya tentang kemampuan otak memproses informasi dengan cepat.
Orang yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) tinggi cenderung lebih lambat mendeteksi gerakan besar di latar belakang karena otak mereka menyaring informasi yang dianggap tidak penting. Karena itu mereka lebih pandai dalam mendeteksi obyek bergerak berukuran kecil.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 53 orang dan dimuat dalam Current Biology. Penelitian dilakukan dengan tes penglihatan dan tes kecerdasan standar.
Hasil penelitian menunjukkan, orang dengan skor IQ tinggi lebih cepat dalam mengenali gerakan arah panah berukuran kecil di layar komputer.
"Dari studi sebelumnya kami menyangka para partisipan akan kesulitan mendeteksi gerakan besar, tetapi ternyata orang dengan IQ tinggi paling payah dalam hal itu," kata Michael Melnick dari Universitas Rochester.
Para peneliti menjelaskan bahwa dalam kebanyakan skenario, gerakan di latar belakang tidak terlalu penting dibanding objek kecil yang bergerak di bagian depan. Misalnya saja saat menyetir mobil, berjalan di lorong, atau menggerakkan mata ke dalam ruangan.
Semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang, demikian juga dengan kemampuan mereka menyaring gerakan di latar belakang yang mengganggu dan berkonsentrasi pada apa yang ada di depan.
"Untuk kecerdasan, dibutuhkan kemampuan memproses informasi penting dengan cepat. Tapi kita juga perlu bisa fokus pada informasi yang paling penting dan menyaring yang tidak penting," kata Duje Tadin, salah satu peneliti.
Dalam studi awal terhadap 12 orang, ada korelasi sebesar 64 persen antara penekanan gerakan dan tingkat IQ. Dalam studi lebih besar terhadap 53 orang, kaitannya mencapai 71 persen.
Meski begitu kemampuan untuk mengabaikan gerakan di latar belakang bukan satu-satunya cara untuk mengukur kecerdasan. Hal ini karena kecerdasan adalah susunan yang selalu berubah, kita tidak bisa mendeteksinya hanya dari satu bagian otak saja.
"Namun karena tes ini sangat sederhana dan paling dekat dengan nilai IQ, maka ini bisa menjadi petunjuk tentang apa yang membuat otak lebih efisien dan tentunya lebih cerdas," kata Tadin.
Kompas.com - Penyakit diabetes tipe dua pada anak ternyata lebih agresif jika diderita anak-anak ketimbang orang dewasa. Tanda-tanda komplikasi serius juga lebih cepat muncul beberapa tahun setelah didiagnosis.
Penelitian yang dilakukan Dr.Jane Chiang dari American Diabetes Association menunjukkan hal tersebut. Hasil riset tersebut dinilai para pakar sebagai hal yang mengkhawatirkan.
"Jika perburukan penyakit pada anak-anak dengan diabetes tipe dua berlangsung cepat, kita akan melihat dampak buruk dari komplikasi diabetes pada usia yang begitu muda, misalnya penyakit ginjal atau penyakit jantung," kata Chiang.
Riset yang dilakukan Chiang tersebut merupakan studi lanjutan mengenai pilihan terapi untuk penderita diabetes melitus pada anak dan remaja. Para peneliti menggunakan data dari studi tersebut untuk mengetahui faktor yang terkait penyakit ini, misalnya komplikasi.
Penderita diabetes tipe dua memiliki kadar gula darah yang tinggi karena tubuh mereka tidak bisa menggunakan atau menghasilkan insulin, hormon yang diperlukan untuk mengubah gula menjadi energi.
Menurut American Diabetes Associatioon, kegemukan adalah faktor terbesar terjadinya diabetes tipe dua. Jumlah anak-anak yang menderita diabetes tipe dua di AS terus meningkat. Padahal, penyakit ini sebenarnya lebih banyak menyerang orang berusia di atas 40 tahun.
Penelitian yang dilakukan Chiang melibatkan 700 anak penderita diabetes tipe dua yang penyakitnya muncul saat mereka berusia 10-17 tahun. Seluruh partisipan rata-rata berbadan gemuk.
Pada awal dimulainya studi sekitar 12 persen anak menderita hipertensi. Empat tahun kemudian, 34 persen menderita hiperetnsi dan risiko tersebut paling besar dialami anak laki-laki dan bobot badan paling gemuk.
Gejala awal penyakit ginjal, yang disebut microalbuminuria, hampir meningkat tiga kali lipat empat tahun kemudian.
Selain itu, kerusakan sel beta (yang memproduksi insulin), pada anak dan remaja terjadi empat kali lipat lebih tinggi. Anak-anak yang kadar gulanya tinggi juga lebih buruk dalam merespon pengobatan oral sehingga perlu menggunakan insulin.
Dalam tiga tahun, jumlah anak yang membutuhkan obat untuk menurunkan kolesterol jahat meningkat dari 4,5 persen ke 10,7 persen. Perubahan gaya hidup juga tidak banyak berperan menurunkan kolesterol LDL, meski kadar trigliseridanya turun.
Kerusakan pada mata juga ditemukan dalam skala yang sama pada orang dewasa. Sekitar 5 tahun setelah didiagnosis 13,7 persen mengalami gangguan pada mata.
"Kondisi tersebut mengejutkan. Selama ini para dokter merasa sudah melakukan yang terbaik untuk terapi diabetes pada anak tetapi penyakitnya ternyata terus memburuk," kata Dr.Jane Lynch, salah satu peneliti.
Ia menjelaskan, hormon pubertas yang memicu resistensi insulin, mungkin berpengaruh pada terjadinya perburukan penyakit. "Kami belum diketahui apakah perburukan penyakit akan berhenti setelah melewati masa pubertas," katanya.
Karena itu para pakar menekankan pentingnya pencegahan diabetes tipe dua. "Tindakan pencegahan harus dimulai sejak kehamilan dengan cara mencipatkan gaya hidup sehat dan terus dilanjutkan sampai usia sekolah," katanya.
KOMPAS.com - Sebuah studi baru mengungkap bahwa bayi yang lahir dengan operasi caesar dua kali cenderung untuk kelebihan berat badan di usia praremaja dibanding dengan bayi yang lahir melalui persalinan normal.
Adalah tim peneliti dari New York University School of Medicine yang melakukan analisa terhadap catatan kesehatan lebih dari 10.000 anak Inggris. Mereka menemukan bayi yang dilahirkan dengan cara operasi caesar 83 persen lebih mungkin untuk kelebihan berat badan di usia 11 tahun dibandingkan bayi yang dilahirkan normal.
Hasil ini mendukung studi sebelumnya yang mengatakan adanya hubungan antara bayi yang lahir dengan operasi ceasar dengan obesitas di usia anak-anak.
Para peneliti mengatakan bahwa bayi yang lahir dengan cara alamiah terkena paparan bakteri di jalan lahir. Bakteri ini dapat membantu meregulasi metabolisme setelah mereka memasuki usia yang lebih tua.
Studi ini bertujuan untuk memberikan informasi dari konsekuensi melahirkan caesar yang selama ini belum banyak diketahui. Banyak orang memilih untuk melahirkan dengan cara caesar meskipun tidak ada masalah pada kehamilan mereka. Operasi caesar seharusnya dijadikan pilihan ketika ada masalah pada kehamilan.
Ketua studi dr. Jan Blustein dari New York University School of Medicine mengatakan, wanita hamil perlu mempertimbangkan alasan untuk memilih operasi caesar saat melahirkan, mengingat ada konsekuensi yang harus dihadapi setelahnya.
Studi ini juga melakukan investigasi pada sekitar 14.000 anak yang lahir di awal tahun 1990-an. Para peneliti menemukan, bayi yang dilahirkan dengan cara operasi caesar rata-rata lebih ringan 56 gram saat dilahirkan dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan normal.
Namun setelah berusia enam minggu, bayi yang dilahirkan caesar cenderung lebih berat dibandingkan bayi yang dilahirkan normal. Bahkan hasil ini sudah melibatkan faktor lain seperti pemberian ASI dan berat badan ibu mereka. Para peneliti mengatakan, anak yang lahir dari ibu yang kelebihan berat badan cenderung untuk kelebihan berat badan juga.
Studi yang dipublikasi dalam jurnal International Journal of Obesity ini juga menekankan pada risiko wanita yang menjalani operasi ceasar. Para wanita ini memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan usus yang sama besarnya dengan risiko komplikasi kehamilan.