Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2013

DPR: Mundur dari KJS, Rumah Sakit Langgar Undang-Undang

 Warga antre untuk mendapatkan pelayanan di loket-loket Kartu Jakarta Sehat di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (19/2/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning menilai seluruh rumah sakit yang mundur dalam memberikan layanan kesehatan melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS) sama dengan melanggar undang-undang. Ia menganggap keputusan mundur dari KJS dikarenakan rumah sakit lebih mengutamakan bisnis ketimbang memberikan layanan sosial.


Politikus PDI Perjuangan itu megnatakan, dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan Pasal 191 ayat 1 dan 2, dikatakan bahwa rumah sakit tidak bisa menolak pasien atau meminta biaya administrasi di muka. Selain itu, rumah sakit juga dilarang memperjualbelikan darah dengan alasan apa pun.


"Jadi kalau rumah sakit menolak pasien dan meminta uang di depan, itu sudah melanggar UU Kesehatan," kata Ribka di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/5/2013).


Ribka menambahkan, dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 poin F juga diterangkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan layanan hidup sehat yang tidak dibeda-bedakan. Atas dasar itu, ia mempertanyakan alasan yang melatarbelakangi belasan rumah sakit mundur dari KJS.


"Mundur dari KJS itu melanggar undang-undang," ujarnya.


Saat ini ada 16 rumah sakit yang keberatan mengikuti program KJS. Rumah sakit tersebut keberatan dengan tarif harga Indonesia Case Base Group (INA-CBG's) yang dikeluarkan PT Askes (Persero). Tarif yang diberlakukan berdasarkan sistem paket ini dinilai merugikan rumah sakit. Sebelumnya, model pembayaran klaim rumah sakit diberikan untuk setiap jenis pelayanan.


KJS merupakan salah satu program unggulan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Target utamanya adalah seluruh warga Ibu Kota yang masuk dalam kategori miskin. Untuk mendapatkan KJS, warga Jakarta hanya perlu mendaftar di puskesmas dengan menggunakan KTP dan kartu keluarga (KK). Selanjutnya, layanan kesehatan dimulai di puskesmas dan bisa dirujuk ke rawat inap kelas III bila diperlukan dan gratis.




Sumber Kompas




Info Alkes

Sabtu, 27 April 2013

Rumah Kita, Kurangi Beban Keluarga Hadapi Kanker Anak

Kompas.com - Belasan anak-anak berusia balita sampai praremaja yang merupakan pasien kanker anak tampak ceria bercengkerama dengan orangtua mereka di Rumah Kita, di Jalan Karang Menjangan No.5 , Surabaya, Kamis (11/4/13).

Rumah yang baru diresmikan tersebut merupakan rumah yang menampung pasien kanker anak dan orangtua yang mendampingi. Rumah Kita di Surabaya merupakan persembahan dari Panadol lewat program Aksi Peduli bersama Panadol kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Jawa Timur.

Tidak tampak kesedihan atau kesakitan di wajah anak-anak tersebut meski sesungguhnya mereka menanggung beban penyakit yang berat. Di usia masih sangat belia, anak-anak itu harus menjalani perawatan kanker di rumah sakit dalam jangka waktu yang tak tentu kapan berakhir.

Rumah Kita di Surabaya terletak persis di belakang RS.Dr.Soetomo sehingga pasien dan keluarga bisa dengan mudah bolak-balik ke rumah sakit.

Menurut Ira Soelistiyo, pendiri YKAKI, meski sekarang ini pasien kanker anak sudah bisa berobat gratis, tetapi tetap diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk ongkos ke rumah sakit serta akomodasi jika mereka berasal dari luar kota.

"Faktor sosial ekonomi sering membuat pengobatan pasien menjadi tidak tuntas. Padahal, pengobatan kanker tidak boleh putus," katanya.

Di Rumah Kita, keluarga pasien diberi tempat tinggal serta makan dan minum. Kondisi rumah singgah tersebut bersih dan nyaman. Terdiri dari dua lantai, rumah tersebut dilengkapi kamar tidur, dapur bersama, ruang tamu, ruang makan, serta tempat bermain di teras. Mereka boleh tinggal dalam jangka waktu sesuai lamanya pengobatan.

Sementara ini di Rumah Kita Surabaya baru ada dua keluarga pasien yang tinggal. Namun, menurut Ira hal itu memang karena rumah singgah itu baru diresmikan. Rumah tersebut mampu menampung 24 pasien anak dan pendampingnya. Untuk saat ini YKAKI masih dalam status mengontrak rumah tersebut. "Moga-moga di masa depan kami bisa mengumpulkan dana untuk membeli rumah ini," kata Ira.

Kehadiran Rumah Kita mendapat apresiasi dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini. "Dengan adanya rumah singgah ini orangtua tidak perlu bingung lagi. Perjalanan yang jauh dari rumah ke rumah sakit tentu melelahkan untuk anak. Kehadiran rumah ini memberikan jalan bagi orangtua untuk berharap," katanya.

Hak anak

Di Rumah Kita, anak-anak yang menderita kanker diharapkan tetap bisa menikmati haknya untuk tumbuh, bermain, dan belajar. "Rumah ini juga menjadi wadah untuk saling menguatkan, berbagi, sambil mendapatkan perawatan yang layak," kata Endang Putri, Brand Manager Panadol, disela acara peresmian.

Dalam program "Aksi Peduli bersama Panadol" masyarakat diajak berpartisipasi menunjukkan kepedulian mereka terhadap sesama dengan cara mengirimkan foto dan cerita singkat tentang hal kecil yang ingin dilakukan untuk sesama. Setiap foto yang dikirim dihargai Rp 5000 dan dalam waktu tiga bulan telah terkumpul dana Rp 500 juta yang seluruhnya diberikan kepada YKAKI untuk membangun Rumah Kita di Surabaya.

Bagi keluarga pasien, keberadaan Rumah Kita dianggap sangat mendukung pengobatan kanker. Karyastuti, Ketua YKAKI Jawa Timur, menceritakan pengalamannya saat mendampingi anak bungsunya yang menderita leukimia di tahun 2002.

"Setelah didiagnosa leukimia, saya harus mendampingi anak saya selama ia menjalani pengobatan di rumah sakit selama tiga bulan. Setelah itu selama dua tahun saya bolak-balik untuk berobat dari Sidoarjo ke Surabaya. Bagi pasien yang tidak mampu tentu sangat berat mencari biaya untuk transportasi," katanya.

Siti Ngaisah, orangtua dari Fantika Setiarini (14) yang juga menderita leukimia, mengatakan keluarganya terpaksa pindah dari Nganjuk ke Surabaya supaya putri bungsunya itu bisa mendapat pengobatan.

"Kami terpaksa pindah dan menjadi warga Surabaya supaya biaya perawatan di tanggung pemerintah. Terpaksa mengontrak rumah dan memulai dari nol lagi," katanya.

Rumah Kita di Surabaya merupakan rumah singgah kedua setelah sebelumnya YKAKI merintis pembangungan rumah singgah di Jakarta yang terletak tak jauh dari RSCM.

Menurut Ira, dalam waktu dekat akan diresmikan pula Rumah Kita di Bali dan Bandung. "Bukan hanya anak Jakarta dan Surabaya saja yang berhak mendapat perhatian, tapi juga anak-anak di seluruh Indonesia," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 24 April 2013

Rajin Berbenah Rumah Bantu Tidur Nyenyak

Kompas.com - Wanita menopause seringkali mengalami gangguan susah tidur yang diakibatkan oleh hot flashes atau serangan hawa panas. Untuk mengatasinya, jangan buru-buru mencari obat tidur karena kegiatan sederhana seperti beres-beres rumah ternyata bisa membantu mempercepat datangnya kantuk.

Hot flashes terjadi karena perubahan hormonal yang menyebabkan pembuluh darah melebar dalam upaya untuk mendinginkan tubuh. Gejala hot flashes ditandai dengan kulit memerah, berkeringat, dan denyut nadi meningkat.

Sebuah studi kecil yang dimuat dalam jurnal Menopause baru-baru ini mengatakan aktivitas fisik dapat membantu para wanita menopause untuk mengatasi gangguan ini. Namun apabila tidak punya cukup waktu untuk pergi ke gym, maka melakukan pekerjaan rumah tangga dengan kadar yang lebih tinggi dan rutin dapat dijadikan pilihan.

Para peneliti mengatakan, olahraga memperbaiki tidur secara umum, dan ternyata studi yang dilakukan pada wanita menopause juga menunjukkan hasil yang positif.

Studi ini merupakan studi yang dilakukan pada wanita lintas negara dan melibatkan 27 wanita kulit putih dan 25 wanita kulit hitam. Para peserta berusia 54 hingga 63 tahun dengan gangguan hot flashes dan berkeringat di malam hari.

Para peserta dicatat aktivitas tidurnya setiap hari dengan alat monitor tidur. Mereka juga memberikan informasi tentang tingkat aktivitas fisik yang mereka lakukan, termasuk pekerjaan rumah tangga rutin yang membutuhkan usaha ringan, sedang, dan kuat. Selain itu mereka juga memberikan informasi tentang olahraga yang dilakukan di waktu senggang.

Para peneliti menemukan, wanita dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi melaporkan lebih sedikit terbangun di malam hari serta tidur yang lebih baik. Hasil ini utamanya lebih terlihat pada aktivitas mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibandingkan dengan olahraga.

Efek positif dari aktivitas fisik utamanya terjadi pada wanita kulit putih yang tidak obesitas. Para peneliti mengatakan, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa perempuan kulit hitam dan obesitas mungkin tidak mendapatkan manfaat yang sama.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 01 April 2013

Rumah Sakit Belum Siap Sambut SJSN

 Warga antre untuk mendapatkan pelayanan di loket-loket Kartu Jakarta Sehat di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (19/2/2013).

Jakarta, Kompas - Sejumlah rumah sakit menyatakan tidak siap menyambut penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional pada 1 Januari 2014. Diperlukan uji coba bagi pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional agar pengelola rumah sakit memiliki panduan pelaksanaan yang tepat.


Hal itu mengemuka dalam Pelatihan dan Lokakarya ”Meningkatkan Kualitas Layanan dan Kesiapan Rumah Sakit dalam Penerapan Jamkesnas”, Senin (25/3), di Jakarta.


Perwakilan Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, Lies Dina Liastuti, mengatakan, RS Harapan Kita belum siap melaksanakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pihaknya masih mempersiapkan antara lain sistem remunerasi, bonus kinerja bagi dokter spesialis dan tenaga kesehatan lain, serta pembentukan tim kerja untuk menyiasati pos- pos yang bisa dihemat.


”Kalau ada pilot project (proyek percontohan) pelaksanaan JKN, tentu sangat baik,” kata Liastuti. Proyek percontohan diharapkan memberi panduan tepat terkait pelaksanaan JKN.


Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Kanker Dharmais, Dody Ranuhardy, menyatakan, uji coba sebaiknya dilaksanakan di rumah sakit pemerintah yang wajib melaksanakan JKN. Bila uji coba terbukti berjalan baik dan tidak membebani rumah sakit, rumah sakit swasta tentu akan mengikuti.


Saat ini, beberapa hal yang menjadi kendala JKN adalah tidak berjalannya sistem rujukan. Dody mencontohkan, sejumlah pasien tumor payudara kerap langsung datang ke Dharmais meski tumor yang diderita kategori jinak dan bisa ditangani rumah sakit tipe C atau D.


Keterbatasan dokter spesialis dan sebaran yang tidak merata juga rawan jadi masalah. Persoalan lain adalah keterbatasan peralatan kesehatan yang memadai.


Direktur Medis dan Keperawatan RSUP Sanglah, Bali, A A Ngurah Jaya Kusuma mengatakan, sejauh ini sistem rujukan rumah sakit di Bali berjalan cukup baik. Namun, masih perlu diupayakan agar sistem rujukan yang berlaku semakin efisien.


Hal lain adalah penyusunan Panduan Praktik Klinik (PPK) untuk beberapa penyakit. PPK adalah standar prosedur operasional untuk membantu dokter dan tenaga kesehatan lain terkait tata laksana penyakit atau kondisi klinis yang spesifik.


Sistem pembayaran


Secara terpisah, Ketua Umum Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Sutoto menyatakan, rumah sakit yang siap melaksanakan JKN adalah rumah sakit yang sudah melayani Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).


Sistem pembayaran yang digunakan sama, yaitu INA CBGs (Indonesia Case Base Group’s). Suatu aplikasi untuk pengajuan klaim oleh penyedia pelayanan kesehatan, puskesmas, klinik maupun RS. Dalam aplikasi ini penyakit dikelompokkan berdasarkan ciri klinis dan biaya yang sama. Tujuannya untuk meningkatkan mutu dan efektivitas pelayanan.


Saat ini jumlah rumah sakit yang telah melayani Jamkesmas ada 1.240, baik rumah sakit swasta maupun pemerintah.


Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengatakan, tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan JKN adalah agar seluruh rakyat Indonesia bisa berobat dan mendapat pelayanan kesehatan.


”Selama ini, 50 persen dari penduduk Indonesia tidak bisa berobat karena tidak punya uang. Persoalan ini yang ingin diselesaikan terlebih dulu,” katanya.


Hingga saat ini, rata-rata kapasitas rumah sakit yang digunakan baru 60 persen. Artinya, infrastruktur ada, tetapi belum digunakan secara maksimal.


Karena itu, tidak masalah apabila dalam pelaksanaannya pada tahun-tahun pertama akan terjadi keguncangan. Dia optimistis, ke depan, JKN akan makin baik. Yang terpenting, tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia akan tercapai.


Terkait uji coba pelaksanaan JKN, sebagaimana dikemukakan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Akmal Taher, rencananya akan dilaksanakan pada 1 Oktober 2013. Teknis pelaksanaannya saat ini tengah disusun. Rumah sakit diharapkan dapat memberikan masukan. (DOE)




Sumber Kompas




Info Alkes