Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Cepat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cepat. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

6 Cara Bakar Lemak Lebih Cepat

KOMPAS.com - Memiliki rencana untuk mendapatkan bentuk tubuh lebih ideal dengan mengurangi berat badan? Simaklah cara yang membuat Anda mampu membakar lebih banyak lemak sepanjang hari berikut ini.

1. Mulai dengan latihan interval
Setelah melakukan latihan interval, maka Anda dapat membakar lemak lebih banyak di latihan selanjutnya. Studi yang dipublikasi dalam Journal of Applied Physiology menemukan bahwa setelah melakukan latihan interval, pembakaran lemak akan berlangsung lebih lama.

2. Sebentar namun rutin
Siapa bilang Anda tidak punya waktu untuk berolahraga? Hanya 20 menit dan dilakukan dengan rutin, olahraga dapat memberikan hasil yang lebih efektif daripada menghabiskan waktu berjam-jam di gym. Hal ini dikarenakan metabolisme tubuh mengalami percepatan satu hingga dua jam setelah berolahraga. Maka tak harus lama, olahraga lebih baik dilakukan rutin.

3. Kurangi stres
Stres sangat berkontribusi pada penumpukan lemak perut. Sebuah studi dari University of California mengatakan, hal tersebut dikarenakan hormon stres kortisol meningkatkan napsu makan dan mempermudah penumpukan lemak di perut. Maka Anda pun butuh aktivitas yang dapat mengurangi kadar stres, seperti yoga ataupun bergaul.

4. Coba yang baru
Tantang tubuh untuk melakukan jenis olahraga baru. Bahkan meskipun Anda pelari yang tangguh, otot Anda tertantang ketika melakukan jenis olahraga lain sehingga membuatnya semakin berkembang.

5. Angkat beban lebih berat
Sekali dalam seminggu, tambahlah beban yang Anda angkat lebih berat daripada biasanya. Ini akan memberikan tantangan bagi otot dan membuatnya lebih kuat. Ketika kardio akan membakar kalori seketika itu juga, angkat beban akan membakar kalori 24 jam kemudian. Selain itu, tidak seperti kardio yang membakar lemak serta otot, angkat beban hanya akan membakar lemak.

6. Cukup tidur
Ingat si hormon stres kortisol? Kurang tidur ternyata juga dapat meningkatkan kadar hormon ini. Menurut penelitian asal University of Chicago, kurang tidur juga meningkatkan kadar hormon insulin yang membuat tubuh semakin sulit dalam mencerna karbohidrat. Tidurlah cukup karena tidur merupakan waktunya tubuh untuk mengisi kembali energi yang mempercepat metabolisme.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 29 Mei 2013

Diabetes Tipe 2 pada Anak Lebih Cepat Memburuk

Kompas.com - Penyakit diabetes tipe dua pada anak ternyata lebih agresif jika diderita anak-anak ketimbang orang dewasa. Tanda-tanda komplikasi serius juga lebih cepat muncul beberapa tahun setelah didiagnosis.

Penelitian yang dilakukan Dr.Jane Chiang dari American Diabetes Association menunjukkan hal tersebut. Hasil riset tersebut dinilai para pakar sebagai hal yang mengkhawatirkan.

"Jika perburukan penyakit pada anak-anak dengan diabetes tipe dua berlangsung cepat, kita akan melihat dampak buruk dari komplikasi diabetes pada usia yang begitu muda, misalnya penyakit ginjal atau penyakit jantung," kata Chiang.

Riset yang dilakukan Chiang tersebut merupakan studi lanjutan mengenai pilihan terapi untuk penderita diabetes melitus pada anak dan remaja. Para peneliti menggunakan data dari studi tersebut untuk mengetahui faktor yang terkait penyakit ini, misalnya komplikasi.

Penderita diabetes tipe dua memiliki kadar gula darah yang tinggi karena tubuh mereka tidak bisa menggunakan atau menghasilkan insulin, hormon yang diperlukan untuk mengubah gula menjadi energi.

Menurut American Diabetes Associatioon, kegemukan adalah faktor terbesar terjadinya diabetes tipe dua. Jumlah anak-anak yang menderita diabetes tipe dua di AS terus meningkat. Padahal, penyakit ini sebenarnya lebih banyak menyerang orang berusia di atas 40 tahun.

Penelitian yang dilakukan Chiang melibatkan 700 anak penderita diabetes tipe dua yang penyakitnya muncul saat mereka berusia 10-17 tahun. Seluruh partisipan rata-rata berbadan gemuk.

Pada awal dimulainya studi sekitar 12 persen anak menderita hipertensi. Empat tahun kemudian, 34 persen menderita hiperetnsi dan risiko tersebut paling besar dialami anak laki-laki dan bobot badan paling gemuk.

Gejala awal penyakit ginjal, yang disebut microalbuminuria, hampir meningkat tiga kali lipat empat tahun kemudian.

Selain itu, kerusakan sel beta (yang memproduksi insulin), pada anak dan remaja terjadi empat kali lipat lebih tinggi. Anak-anak yang kadar gulanya tinggi juga lebih buruk dalam merespon pengobatan oral sehingga perlu menggunakan insulin.

Dalam tiga tahun, jumlah anak yang membutuhkan obat untuk menurunkan kolesterol jahat meningkat dari 4,5 persen ke 10,7 persen. Perubahan gaya hidup juga tidak banyak berperan menurunkan kolesterol LDL, meski kadar trigliseridanya turun.

Kerusakan pada mata juga ditemukan dalam skala yang sama pada orang dewasa. Sekitar 5 tahun setelah didiagnosis 13,7 persen mengalami gangguan pada mata.

"Kondisi tersebut mengejutkan. Selama ini para dokter merasa sudah melakukan yang terbaik untuk terapi diabetes pada anak tetapi penyakitnya ternyata terus memburuk," kata Dr.Jane Lynch, salah satu peneliti.

Ia menjelaskan, hormon pubertas yang memicu resistensi insulin, mungkin berpengaruh pada terjadinya perburukan penyakit. "Kami belum diketahui apakah perburukan penyakit akan berhenti setelah melewati masa pubertas," katanya.

Karena itu para pakar menekankan pentingnya pencegahan diabetes tipe dua. "Tindakan pencegahan harus dimulai sejak kehamilan dengan cara mencipatkan gaya hidup sehat dan terus dilanjutkan sampai usia sekolah," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 19 April 2013

Belajar Jalan Lebih Cepat Belum Tentu Anak Hebat

Kompas.com - Dalam hal kemampuan berjalan, kebanyakan orangtua menilai anak yang mampu berjalan lebih cepat dari usianya sebagai anak yang hebat. Padahal, dalam jangka panjang kemampuan berjalan yang lebih cepat tersebut tidak berpengaruh banyak kemampuan motorik anak.

Bayi biasanya mulai belajar berjalan mulai usia 10 bulan dan siap berjalan sendiri di usia setahun. Namun, ada juga anak yang mulai berjalan di usia 9 bulan atau usia 18 bulan. Menurut penelitian yang digelar di Swiss, bayi yang berjalan lebih cepat dari tahap perkembangannya tidak berpengaruh banyak pada kemampuan motoriknya di kemudian hari.

Para peneliti menemukan bahwa bayi yang mulai bisa berjalan di usia 9 bulan tidak lebih memiliki kemampuan motorik lebih baik daripada bayi yang terlambat berjalan. Demikian hasil yang dimuat dalam studi yang dipublikasi di jurnal Acta Paediatrica ini.

Para peneliti menganalisa kecerdasan dan kemampuan koordinasi dari 222 bayi yang sehat hingga mereka mencapai usia 18 tahun. Mereka mengambil kesimpulan bahwa hanya ada hubungan kecil bahkan hampir tidak ada hubungan sama sekali antara kemampuan awal berjalan dengan perkembangan di kemudian hari.

Kemampuan bayi untuk belajar duduk tanpa bantuan dan berjalan paling tidak lima langkah tanpa berpegangan juga dicatat. Rata-rata, para bayi dapat melakukan hal tersebut pada usia enam setengah bulan. Namun ada pula bayi yang baru bisa melakukannya setelah melalui usia satu tahun.

Juru bicara tim peneliti mengatakan, waktu berjalan benar-benar tidak memiliki konsekuensi. Anak yang mulai bisa berjalan lebih cepat tidak terlihat memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan koordinasi yang lebih baik.

Profesor Mitch Blair dari Royal College of Paediactrics and Child Health mengatakan, orangtua seringkali mencemaskan bila anaknya berjalan lebih lambat daripada anak seusianya. "Padahal itu tidak berpengaruh pada perkembangan anak." ujarnya.

Ia mengatakan, orangtua dapat memeriksaan anaknya apabila hingga usia 18 bulan anak mereka masih belum dapat berjalan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 06 April 2013

Alat Deteksi Kuman Lebih Cepat

Jakarta, Kompas - Selama ini, pemeriksaan jenis kuman penyebab infeksi sekaligus uji kepekaan kuman terhadap antibiotik perlu waktu 3-4 hari. Dengan alat pemeriksaan mikrobiologi medik terbaru, deteksi kuman dapat dilakukan kurang dari dua hari, termasuk pengambilan sampel dan persiapan.

Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI Amin Soebandrio, di Jakarta, Kamis (28/3), mengatakan, lamanya pemeriksaan kuman menghambat penanganan pasien, memperpanjang waktu perawatan di rumah sakit, meningkatkan biaya perawatan, bahkan bisa mengancam nyawa pasien.

Infeksi bakteri, jamur, atau virus bisa mematikan jika berada di tahap sepsis (keracunan dalam darah). Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan perawatan intensif dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Frans J Pangalila, mengatakan, setiap tahun lebih dari 6 juta orang di dunia tewas akibat sepsis.

”Laporan Global Sepsis Alliance menyebutkan, setiap 2-3 menit terdapat satu orang yang meninggal akibat sepsis. Data Asia Ventilation Forum sekitar 3 bulan lalu menyebut, tingkat kematian akibat sepsis mencapai lebih dari 80 persen,” ujarnya.

Menurut Pangalila, sepsis bisa terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat jenis karena diberikan oleh tenaga kesehatan tanpa uji laboratorium untuk menentukan jenis kuman. Sepsis juga bisa dipicu penggunaan antibiotik dengan dosis tidak pas atau tidak dihabiskan.

Amin yang juga Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Bidang Kesehatan dan Obat mengatakan, kini ada Vitek 2 Compact yang dapat mengidentifikasi jenis kuman dan uji kepekaannya terhadap antibiotik dalam 4 jam. Adapun Vitek Mass Spectrophotometry mampu mendeteksi jenis kuman dalam 2 menit.

Meski sangat cepat, dihitung dengan waktu pengambilan sampel, baik darah, urine, maupun tinja, dibutuhkan waktu total kurang dari 2 hari. Kuman dari sampel harus dibiakkan dalam media hingga membentuk koloni untuk diidentifikasi. ”Kedua peralatan sebaiknya digunakan secara simultan,” katanya.

Deteksi kepekaan antibiotik penting dilakukan di Indonesia mengingat tingginya tingkat resistensi antibiotik. Selain dipicu penggunaan antibiotik secara serampangan, resistensi antibiotik juga bisa dipicu oleh paparan aneka zat kimia di alam.

Untuk menghindari resistensi antibiotik, Amin mengingatkan masyarakat dan tenaga kesehatan agar tak mudah mengonsumsi dan memberikan antibiotik. Sejumlah kuman penyebab infeksi bisa mati sendiri dalam beberapa hari tanpa perlu mengonsumsi obat. Kalaupun memberi antibiotik, harus melalui uji laboratorium agar sesuai jenis kuman dan takarannya pas. (MZW)



Sumber Kompas



Info Alkes