Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Sleep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sleep. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2013

Berhemat dengan Merawat "Obstructive Sleep Apnea"

KOMPAS.com - Ketika mendengar keluhan mendengkur, kebanyakan perusahaan atau asuransi di Indonesia langsung menganggap ini sebagai faktor kosmetik saja, hingga tak dianggap penting bagi kesehatan maupun produktivitas. Hanya suara yang mengganggu. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Mendengkur merupakan gejala utama dari penyakit tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Sebuah tulisan dari Bruce Sherman, MD pada editorial Journal of Clinical Sleep Medicine memberikan prespektif tentang biaya, penghematan serta manfaat perusahaan untuk membiayai karyawan-karyawannya menjalani pemeriksaan dan perawatan OSA. Meski kebanyakan orang di Indonesia membiayai dirinya sendiri untuk perawatan kesehatan, pandangan dokter Bruce pantas disimak mengingat manfaat dan penghematan yang bisa diraih dengan melakukan perawatan mendengkur.

Obstructive sleep apnea

OSA telah diketahui diderita oleh banyak orang. Dari berbagai penelitian didapati, sekitar 3 persen hingga 20 persen dari populasi orang dewasa di AS menderita penyakit tidur ini. Sayangnya 80 hingga 85 persennya tidak terdiagnosa dengan baik, apalagi dirawat. Akibatnya, angka penderita hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, kecelakaan lalu lintas dan kerja, serta kematian mendadak turut meningkat. Sesuatu yang patut direnungkan untuk kondisi kita di Indonesia.

OSA terjadi karena menyempitnya saluran nafas saat kita tidur, hingga udara tak ada yang dapat lewat. Pendengkur terdiam, dengan dada dan perut naik turun berusaha menarik nafas, namun seolah tercekik, udara tak dapat mengalir masuk atau keluar. Sesak! Selanjutnya sistem pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak hingga pendengkur dapat bernafas kembali. Saat itu tiba-tiba pendengkur tampak tersedak atau mengeluarkan suara keras.

Kualitas tidur orang yang mendengkur selalu buruk. Istilahnya hipersomnia, kantuk berlebihan walau sudah cukup tidur. Dari sudut pandang perusahaan, karyawan yang mendengkur tampak sebagai pribadi yang mudah capek, mengantuk, ceroboh dan lamban. Penderita OSA terus mengantuk hingga membutuhkan kafein dan nikotin untuk mempertahankan konsentrasinya. Sayang semua zat stimulan ini hanya menunda kantuk tanpa menyegarkan otak kembali. Artinya? Produktivitas nya buruk.

Keselamatan kerja pun terancam. Mulai dari kemampuan mengendara yang buruk hingga kebugaran untuk menjaga monitor atau mengoperasikan alat-alat berat. Penderita OSA juga kerap mengalami kecelakaan lalu lintas.

Bagi kesehatan OSA berhubungan dengan berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, depresi dan kegemukan. Yang mana kesemuanya membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk jangka waktu lama.

Penghematan biaya

Penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan pada the Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa dengan perawatan OSA perusahaan justru melakukan penghematan. Peneliti mengikuti klaim asuransi para pengemudi truk.  Sebanyak 156 pengemudi dengan OSA dirawat dengan CPAP, sementara 92 pengemudi terdiagnosa dengan OSA namun menolak perawatan. Hasilnya ongkos kesehatan dapat dihemat hingga 41 persen pada pengemudi dengan OSA yang dirawat.

Penelitian sebelumnya pada jurnal CHEST di tahun 2002 meneliti rekam medis dari 773 pasien mendengkur yang telah didiagnosa menderita sleep apnea dan dibandingkan dengan subyek yang tidak mendengkur. Mereka juga melihat sebelum terdiagnosa OSA, para pasien ini menderita penyakit apa saja. Hasilnya tunjukkan bahwa penderita OSA menggunakan jasa pelayanan medis lebih banyak dibanding yang tidak mendengkur. Sebelum terdiagnosa dengan OSA, kebanyakan pasien ini ternyata berobat ke dokter karena masalah penyakit jantung-pembuluh darah, terutama hipertensi.

Perusahaan-perusahaan dan asuransi tentu mencari cara sehemat mungkin untuk perawatan kesehatan bagi para karyawan. Tak heran jika perusahaan-perusahaan di AS saat ini mengedepankan pencegahan dibandingkan pengobatan. Perawatan mendengkur, OSA, termasuk dalam tindakan pencegahan penyakit kronis.

Biaya diagnosa dan perawatan OSA merupakan beban besar yang harus ditanggung oleh asuransi atau perusahaan. Mulai dari pemeriksaan tidur, hingga perawatan dengan CPAP atau pembedahan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Namun biaya yang dikeluarkan ternyata justru menjadi penghematan di masa depan.

Perusahan-perusahan di AS sudah semakin sadar akan kesehatan tidur. Anggaran belanja kesehatan untuk karyawan pun semakin maju hingga meletakkan perawatan OSA sebagai salah satu prioritas utama.

Perawatan OSA meningkatkan produktivitas, keselamatan kerja dan kesehatan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 01 April 2013

Sleep Paralysis, Panik dan Merasa Lumpuh Saat Tidur

Kompas.com - Mungkin Anda pernah merasakan sensasi rasa panik saat tidur karena tubuh seolah-olah ditindih sesuatu namun Anda tidak bisa bergerak, berteriak, apalagi terbangun. Masyarakat menyebut fenomena itu sebagai tindihan karena mahluk halus.

Menurut penjelasan medis, tindihan disebut dengan kelumpuhan saat tidur (sleep paralysis). Ini adalah fenomena yang normal. Hampir setiap orang dalam hidupnya pernah mengalami kelumpuhan saat tidur, termasuk orang dari negara maju.

Kelumpuhan saat tidur, menurut penjelasan dr.Rismawati Tedjakusuma, spesialis saraf dan ahli tidur, disebabkan karena adanya ketidaksesuaian antara tidur REM dengan bangun.

Fase tidur REM adalah periode tidur yang paling dalam nyenyak. Pada tahap inilah mimpi terjadi. Selama tidur REM otot-otot berada dalam kondisi yang sangat lemah. "Ini mekanisme alami supaya kita tidak memeragakan mimpi yang dialami," katanya.

Nah, saat mengalami sleep paralysis otak sebenarnya sudah keluar dari tahap REM tetapi tubuh belum sehingga otot-otot masih lemah. "Jadi rasanya seolah-olah kita ingin bangun dan buka mata tapi tubuh tidak bisa digerakkan," kata Risma yang juga anggota Indonesia Sleep Society ini.

Sebagian besar orang percaya bahwa tindihan bisa mengancam nyawa. Namun menurut Risma ketakutan itu tidak berdasar. "Memang rasanya sesak napas, tetapi jika kita rileks dan tenang lama-lama perasaan lumpuh itu akan hilang sendiri," katanya.

Meski tidak berbahaya, namun sleep paralysis yang terlalu sering perlu diwaspadai. "Jika kita mengalami fenomena itu seminggu dua kali saja, perlu diperiksakan," imbuh dokter dari RS.Medistra Jakarta ini.

Sleep paralysis bisa menjadi gejala dari penyakit gangguan tidur lainnya, misalnya saja henti napas saat tidur (sleep apnea), serangan tidur mendadak (narcolepsy), kecemasan, bahkan depresi. Orang-orang yang pernah mengalami trauma psikologis juga lebih rentan mengalami sleep paralysis.

Sleep paralysis juga biasanya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi terlentang atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur. Karena itu sebaiknya kita mengubah posisi tidur beberapa kali saat tidur.



Sumber Kompas



Info Alkes