Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk meringankan sakit kepala dan mata lelah, tekan kedua sisi kepala dengan ibu jari selama 20-30 detik. Kompas.com - Sakit kepala termasuk dalam keluhan yang pernah dialami semua orang. Meskipun sakit kepala perlu diredakan, namun sebaiknya Anda tidak langsung meminum obat saat gejala ini menyerang.
Menurut Kepala Pusat Informasi Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Reri Indriani, sakit kepala dapat disebabkan banyak hal dan tidak harus diatasi dengan obat. Ia mengatakan, lebih baik berfokus pada penyebabnya daripada menggunakan obat untuk sekedar meredakan rasa sakit.
"Obat merupakan bahan kimia yang berbahaya apabila sembarangan dikonsumsi," ungkap Reri dalam acara BPOM Sahabat Ibu yang bertajuk "STOP: Supaya Terhindar (dari) Obat Palsu" Kamis (28/3/2013) di Jakarta.
Obat pereda rasa sakit, termasuk obat sakit kepala, pada dasarnya hanya berfungsi untuk menghilangkan gejalanya saja, tanpa menyembuhkan penyebabnya. Reri mencontohkan, misalnya kurang tidur bisa menyebabkan sakit kepala. Jadi jika diketahui penyebab dari sakit kepala adalah dari kurang tidur, maka tidur adalah obat terbaik untuk menghilangkan sakit kepala yang dirasakan.
Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi obat pereda rasa sakit dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan berbagai kontraindikasi berbahaya. Seperti penyakit jantung, kanker, dan beberapa penyakit saraf.
Sebenarnya sebagian besar sakit kepala akan reda dengan beristirahat . Selain itu ada beberapa cara untuk meredakan gejala sakit kepala tanpa obat, antara lain dengan pijat, akupuntur, peregangan, aerobik, meditasi, yoga, latihan relaksasi, terapi panas dan dingin, membatasi makanan-makanan tertentu, hingga dengan bantuan aliran listrik.
KOMPAS.com - Kejang seringkali salah diartikan sebagai gejala epilepsi. Padahal, tidak semua kejang merupakan manifestasi klinis dari penyakit yang sering disebut ayan ini. Menurut dokter spesialis saraf Departemen Neurologi Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Suryani Gunadharma, masih banyak ditemui kesalahan diagnosa untuk penyakit epilepsi.
"Hal ini mengakibatkan, orang yang sebenarnya bukan penyandang epilepsi menerima pengobatan epilepsi, sebaliknya penyandang epilepsi malah tidak diobati," tutur Suryani dalam acara World Purple Day 2013 dengan tema 'Mari Peduli Epilepsi!' Rabu (20/3/2013) di Jakarta.
Kesalahan diagnosa ini juga berdampak sulitnya menentukan angka prevalensi penyakit epilepsi di Indonesia, bahkan di dunia. Namun menurut data Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi di Indonesia (PERPEI), diperkirakan epilepsi menyerang sekitar 1 persen penduduk dunia. Di Indonesia sendiri diperkirakan penyandang epilepsi mencapai 1-2 juta jiwa.
Epilepsi merupakan penyakit yang disebabkan adanya muatan listrik berlebihan di otak karena terjadinya terlalu aktifnya otak mengirimkan sinyal. Biasanya keadaan ini disebut dengan istilah bangkitan. Namun bangkitan yang terjadi hanya sekali bukanlah epilepsi.
"Baru bisa dikatakan epilepsi jika bangkitan memiliki tendensi untuk terjadi berulang," ujar Suryani.
Bangkitan dapat menimbulkan manifestasi klinis, salah satunya kejang. Namun kejang bukan merupakan satu-satunya manifestasi. "Manifestasi klinis epilepsi tergantung dari bagian otak mana yang terkena bangkitan," jelasnya.
Suryani menjelaskan, jika yang terkena bangkitan adalah lobus frontal, maka manifestasinya meliputi gangguan memori, emosi, konsentrasi, gerakan, keputusan. Sedangkan pada lobus parietal, berupa gangguan rasa yang mengakibatkan penyandang merasa kebas di bagian badan tertentu. Pada lobus oksipital, manfestasinya akan mengakibatkan gangguan penglihatan.
Pada lobus temporal, penyandang epilepsi mengalami gangguan mendengar, memori dan tingkah laku. "Jika bangkitan terjadi pada lobus temporal maka penyandang epilepsi memiliki khayalan-khayalan yang tinggi seperti pergi ke suatu tempat yang baru atau bertemu orang-orang yang sudah meninggal," tutur Suryani.
Bangkitan dapat terjadi di otak secara parsial, namun ada juga yang keseluruhan. Bangkitan pada keseluruhan otak inilah yang biasanya menimbulkan kejang hingga tak sadarkan diri.
Namun ada pula gejala penyakit lain yang mirip dengan epilepsi. Oleh karena itu, kata Suryani, penting untuk melakukan pemeriksaan yang menyeluruh untuk memastikan diagnosa yang tepat yang menunjang pengobatan. "Dengan pengobatan yang tepat, epilepsi dapat dikontrol," pungkasnya.