Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Seribu Hari Pertama Tentukan Kecerdasan Anak

KOMPAS.com - Kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama dapat menentukan masa depan dan kecerdasan anak. Seribu hari pertama adalah saat hari pertama ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun.

Kecukupan gizi ini akan membantu tubuh mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh dan menyambungkan jaringan saraf di otak. Semakin banyak jaringan saraf yang tersambung, makin cepat anak menangkap informasi. Proses perkembangan pun akan semakin sempurna dan anak tumbuh cerdas.

"Ada berbagai bukti global yang menunjukkan pentingnya gizi di 1.000 hari pertama. Gizi termasuk mikronutrien dan makronutrien di tiga tahun pertama kehidupan anak, berfungsi sebagai fondasi pertumbuhan di usia selanjutnya," kata peneliti Endang L. Achadi dari Departemen Gizi FKM-UI pada Seminar Gizi dan Kesehatan bertajuk Public Private Partnership dalam Mendukung Scaling Up Nutrition (SUN) Melalui Peningkatan Perbaikan Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan di Jakarta, Rabu (17/4/2013).

Endang menunjukkan betapa besarnya risiko serta dampak buruk apabila kecukupan gizi pada 1000 hari pertama tidak terpenuhi dengan baik. Salah satunya adalah kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah. Padahal beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah berisiko mengalami masalah saat tumbuh dewasa.

Studi para ahli  di Inggris menunjukkan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibanding yang lahir dengan berat normal. Risiko penyakit jantung itu akan terus membayangi walau bayi minum ASI dan disapih. Studi lainnya  di Guatemala yang menunjukkan, anak yang mengalami stunting pada usia 3 tahun berisiko lebih besar bertubuh pendek saat dewasa.

Kasus bayi dengan berat lahir rendah semestinya dapat ditekan apabila masyarakat dan pemerintah juga peduli pada kecukupan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan. "Untuk pengawasan kecukupan gizi ini, kita dapat mengacu pada Kartu Menuju Sehat (KMS) di posyandu. peran swasta juga tidak boleh dilupakan," kata Ketua Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia, Prof. (Em) Soekirman, SKM, MPS-ID, PhD.

Pihak swasta menurut Soekirman bisa dijadikan mitra untuk meningkatkan efektivitas program perbaikan gizi dan peningkatan kesehatan masyarakat.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 16 April 2013

Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Atasi Anak Pendek

Jakarta, Kompas - Banyaknya anak pendek alias stunting menunjukkan besarnya kasus kurang gizi di Indonesia. Untuk mengatasi, saat ini disiapkan program nasional sadar gizi yang disebut Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Program ini dilaksanakan hingga akhir 2015, melibatkan 11 kementerian.

Demikian benang merah paparan Peter Guest, Deputy Country Director Program Pangan PBB (WFP), Fasli Jalal, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, dan Arum Atmawikarta, Sekretaris Eksekutif Nasional Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) di Bappenas, dalam diskusi tentang ketahanan pangan di Jakarta, Kamis (4/4).

Berdasarkan indikator tinggi badan dan umur, Fasli memaparkan prevalensi anak bawah lima tahun yang masuk kategori pendek dan sangat pendek mencapai 40 persen di desa dan lebih dari 30 persen di perkotaan.

Anak pendek dan sangat pendek ini memiliki beberapa risiko, antara lain tingkat kecerdasan dan produktivitas rendah. Pada usia dewasa berisiko lebih besar terkena penyakit degeneratif.

Menurut Fasli, untuk menekan kasus stunting anak balita, perlu diperhatikan kecukupan gizi anak balita pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Selama ini mengatasi gizi buruk difokuskan pada bayi sejak dilahirkan hingga berusia lima tahun.

Padahal, periode emas adalah saat anak masih dalam kandungan hingga usia dua tahun. Karena itu, perlu perubahan paradigma dalam penanganan gizi buruk.

Hal ini yang mendasari penyiapan Gerakan 1.000 HPK di Indonesia. ”Pencanangan secara nasional berdasarkan Peraturan Presiden dan melibatkan 11 kementerian,” kata Arum.

Dalam pelaksanaan di daerah, kata Fasli, akan melalui berbagai pendekatan, antara lain penyuluhan di posyandu dan kantor dinas agama dalam pemberian nasihat pola hidup sehat bagi pasangan yang akan menikah.

Untuk menginisiasi penanganan gizi buruk dan anak pendek di Indonesia, WFP bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan membuat peta kerawanan dan ketahanan pangan di Indonesia melalui riset kesehatan dasar tahun 2010.

Peta itu mengungkapkan, kasus tertinggi gizi buruk ditemukan di kawasan timur Indonesia. ”Sebanyak 7,7 juta anak di bawah lima tahun (35,6 persen) mengalami stunting,” kata Guest. Tahun ini peta akan diperbarui. (YUN)



Sumber Kompas



Info Alkes