Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Melonjak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melonjak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Diabetes Melonjak, Peran Puskesmas Ditingkatkan

Kompas.com - Lonjakan jumlah penderita diabetes melitus membuat peran Puskesmas semakin vital, mengingat tidak semua pasien bisa dilayakani di rumah sakit dan dokter spesialis.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes di Indonesia sekitar 8,4 juta orang di tahun 2008. Jumlah tersebut berpotensi naik menjadi 21,3 juta pada tahun 2030.

"Dengan jumlah itu sangat diperlukan aksi puskesmas atau pusat pembinaan terpadu (pusbindu). Terutama untuk penanganan pasien yang sudah selesai pengobatan namun perlu kontrol rutin," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Dirjen P2PL Kementrian Kesehatan RI, Dr.Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes pada media briefing Partneship for Diabetes Control in Indonesia, Jumat (3/5).

Total jumlah puskesmas di Indonesia saat ini sudah ada 9000, sedangkan rumah sakit ada 1.959. Dengan jumlah yang lebih banyak, seharusnya fungsi puskesmas dalam pencegahan dan perawatan diabetes lebih ditingkatkan.

Eko menjelaskan, nantinya akan ada satu puskesmas yang menjadi rujukan pasien penyakit tidak menular. "Puskesmas ini memiliki perlengkapan dan satu dokter umum yang berkapasitas menangangi penyakit tidak menular, salah satunya diabetes," katanya.

Bila ditemukan komplikasi penyakit, dokter di puskesmas akan merujuk pasien pada rumah sakit atau dokter spesialis.

Tahun ini Kementrian Kesehatan menargetkan pelatihan khusus penanggulangan dan pengobatan diabetes terhadap 5000 dokter umum yang bertugas di puskesmas. Selain itu sudah dilatih pula 120 dokter penyakit dalam yang akan melatih sedikitnya 60 dokter umum regional di tempatnya berpraktik.

Menurut Prof.Pradana Soewondo, Sp.PD, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia, mater pelatihan yang diberikan mencakup pengetahuan dasar akan penyakit dan faktor risiko, pengobatan dan komplikasi penyakit, serta cara berkomunikasi dengan pasien.

"Untuk diabetes, dokter puskesmas bisa sampai memberi obat. Kalau sudah suntik insulin harus dengan resep dokter spesialis," kata Pradana.

Peningkatan mutu dokter juga akan dilakukan melalui pendidikan dokter melalui program magang seusai lulus kuliah. "Dalam program ini tiap peserta harus melaporkan sedikitnya satu pasien setiap minggu. Dilaporkan pula kondisi pasien dan terapi yang dilakukan," katanya.

Langkah-langkah tersebut diharapkan akan meningkatkan kapasitas dokter dalam penanganan penyakit.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 06 April 2013

Belanja Pasar Kesehatan Melonjak

Kompas.com - Belanja pasar kesehatan di Indonesia diprediksi akan melonjak menjadi 60,6 Miliar Dollar AS di tahun 2018. Angka ini terus tumbuh seiring dengan meningkatnya harapan hidup secara umum masyarakat Indonesia.

Menurut data World Bank saat ini perbelanjaan pelayanan kesehatan di Indonesia per kapita mencapai 50,8 Dollar AS. Sedangkan di Jepang perbelanjaan pelayanan kesehatan sudah sekitar 2.200 Dollar AS. "Dibandingkan dengan Jepang, (jumlah perbelanjaan pelayanan kesehatan di) Indonesia masih sangat kecil," ujar Sutoto.

Kendati demikian, dengan jumlah perbelanjaan kesehatan Indonesia yang sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jepang, harapan hidup masyarakat Indonesia tidak jauh dengan Jepang. Indonesia memiliki harapan hidup rata-rata 71 tahun, sedangkan Jepang 81 tahun.

Hannah Nawi, Associate Director, Healthcare Practice, Asia Pasific, Frost & Sullivan mengatakan, meningkatnya harapan hidup di Indonesia juga akan berdampak pada naiknya permintaan terhadap perawatan kesehatan jangka panjang untuk para manula.

"Maka dibutuhkan reformasi sektor kesehatan di Indonesia, seiring meningkatnya permintaan pasien untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik" ujar Hannah dalam media briefing 'Prediksi Industri Kesehatan Indonesia 2013' Rabu (27/3/2013) kemarin di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia Sutoto mengatakan, daya beli masyarakat meningkat sehingga dapat dijadikan kesempatan bagi rumah sakit di Indonesia untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dengan biaya yang lebih efisien.

"Biaya pembelian kesehatan bisa ditekan dengan kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik dengan pengelolaan rumah sakit yang lebih efisien," ujar Sutoto.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 05 April 2013

Biaya Penyakit Gaya Hidup Bakal Melonjak

Kompas.com - Alokasi biaya kesehatan untuk penyakit degeneratif akibat gaya hidup tidak sehat diperkirakan akan membebani negara melalui Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan digulirkan di tahun 2014 mendatang. Dibandingkan dengan penyakit infeksi, penyakit tidak menular akibat gaya hidup membutuhkan perawatan seumur hidup.

Menurut Hannah Nawi, Associate Director, Healthcare Practice, Asia Pasific, Frost & Sullivan, penyakit "lifestyle" seperti kanker atau stroke membutuhkan perawatan seumur hidup. "Pengobatan penyakit lifestyle tidak dapat sekali berobat langsung sembuh, tetapi bertahap seumur hidup," tuturnya dalam acara Media Briefing yang bertajuk "Prediksi Industri Kesehatan Indonesia 2013" beberapa waktu lalu di Jakarta.

Melalui SJSN, biaya pengobatan akan ditanggung pemerintah, khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu membayar premi. "Maka tentu saja penambahan penderita penyakit lifestyle akan membebani biaya kesehatan yang ditanggung pemerintah," ujarnya.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia Sutoto mengatakan, rumah sakit seharusnya tidak melihat SJSN sebagai ancaman, melainkan peluang. "Dengan adanya SJSN, 8,5 juta masyarakat miskin yang tadinya tidak punya akses jadi terfasilitasi dan dibayar preminya oleh pemerintah," ujarnya.

Selain memfokuskan untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mengurangi beban biaya pemerintah, Sutoto mengatakan, perbaikan tenaga kesehatan juga perlu dilakukan. Indonesia memiliki rasio 3 dokter berbanding 10.000 pasien. Sedangkan, Malaysia 9 dokter berbanding 10.000 pasien.

"Dengan menambah jumlah dokter serta rumah sakit yang dapat memberikan biaya pengobatan yang lebih efektif dan efisien, SJSN akan berjalan dengan baik," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes