Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
KOMPAS.com — Vaksinasi tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak. Orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun pun sebaiknya mendapatkan vaksin agar terhindar dari penularan beragam jenis penyakit.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI menyatakan, ada beberapa alasan mengapa kaum dewasa kini juga memerlukan vaksin sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan orang dewasa perlu mendapatkan vaksin, yaitu faktor daya tahan, faktor pembuat tekanan (stresor), asupan gizi, dan gaya hidup.
"Apalagi kondisi lingkungan saat ini berpotensi negatif pada daya tahan tubuh," kata Samsuridjal pada media briefing "Imunisasi Orang Dewasa", Rabu (22/5/2013) di Jakarta.
Faktor gaya hidup yang tidak sehat, asupan gizi tidak seimbang, dan stres, menurut Samsu, dapat menimbulkan efek secara langsung terhadap daya tahan tubuh. Kebiasaan buruk seperti merokok dan kurang olahraga secara perlahan akan menurunkan imunitas tubuh, demikian pula halnya dengan pola makan yang tidak seimbang.
"Kelebihan atau kekurangan gizi sama saja. Orang yang menderita diabetes, jantung, atau penyakit kronik lainnya lebih berpotensi terkena penyakit pneumonia atau influenza, apalagi yang tidak divaksin," kata Samsu.
Faktor stres, menurut Samsu, juga menjadi penting dalam memicu penyakit. Tekanan dari berbagai lingkungan akan menimbulkan beban psikologis. Stres yang tidak dikelola dengan baik akan berefek pada kesehatan fisik, misal kelebihan atau kekurangan makan, tidak bisa istirahat, dan enggan beraktivitas. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun dan penderita akhirnya tidak mampu melakukan aktivitas keseharian.
Seiring bertambahnya usia, kata Samsuridjal, daya tahan tubuh terhadap penyakit pun cenderung menurun. Saat ini lebih kurang 10 persen masyarakat Indonesia berusia lanjut. Usia ini wajib mendapatkan imunisasi, jika ingin memiliki hidup yang lebih berkualitas. "Semakin dewasa, kekebalan tubuh makin menurun. Jadi, pemahaman masyarakat selama ini harus diluruskan," kata Samsuridjal.
Pentingnya imunisasi pada orang dewasa juga diungkapkan anggota Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Iris Rengganis, SpPD. Menurutnya, pemberian vaksin akan memberi perlindungan hingga 80 persen pada setiap individu.
Vaksin juga memberi perlindungan komunitas bila tercapai kondisi herd immunity. Iris menjelaskan, herd immunity adalah ketika 80 persen dari anggota populasi sudah divaksin. Kondisi ini menghindarkan sebagian besar anggota populasi dari penularan penyakit 20 persen anggota lainnya. Dengan pertahanan yang sudah diperoleh melalui vaksinasi, penyakit pada populasi bisa dicegah menyebar lebih luas.
TANYA:
Dok, anak saya perempuan. Sekarang berusia 19 bulan, berat badannya 8kg. Sampai sekarang dia belum juga bisa berjalan, tapi dia sudah mulai bisa berdiri tanpa berpegangan selama 10 detik namun belum berani melangkah. Dia seperti takut dan akan menjerit kalau dipaksa berjalan.
Saya bingung apa anak saya ada kelainan atau kurang gizi atau mungkin kurang berlatih. Mohon bantuan penjelasannya dok. Sebelumnya terima kasih
(Armiyana, Medan)
JAWAB :
Sayang sekali Ibu tidak menjelaskan saat ini apa saja yang sudah ia dapat lakukan sehingga informasinya menjadi lebih lengkap dan dapat saya ambil kesimpulan secara lebih komprehensif.
Bila saat ini si kecil sudah dapat berdiri sendiri dan mulai melangkah dengan berpegangan sekilas ia masih dalam taraf perkembangan yang normal. Terlebih bila tingkat perkembangan neuromotorik lain dan kognitif (kepandaiannya) sesuai dengan tingkat perkembangan seusianya.
Memang pada sebagian anak, seusia si kecil ada yang belum dapat berjalan sendiri. Namun secara bertahap biasanya lambat laun ia dapat berjalan sendiri. Perlahan-lahan latihlah ia untuk memberanikan dirinya melangkah.
Kompas.com - Meskipun sangat jarang terjadi, tetapi seorang pasien yang sudah mendapatkan anestesi bisa terbangun saat dokter sedang melakukan pembedahan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tiba-tiba tersadar saat di meja operasi disebut juga dengan "kesadaran selama pembiusan". Hal ini hanya terjadi pada sekitar 1-2 kali untuk setiap 1.000 penggunaan obat bius. Seorang pasien disebut mengalami kesadaran ketika mereka bisa mengingat dengan benar kejadian yang dialaminya di meja operasi.
Tersadar saat berada di meja operasi lebih banyak dialami pasien yang menjalani operasi jantung, operasi caesar, atau kondisi yang disebabkan trauma. Pada operasi tersebut biasanya dokter tidak memberikan obat dengan dosis yang biasa karena lebih mengutamakan keselamatan pasien.
Kesadaran selama pembiusan bisa terjadi karena peralatan yang dipakai tidak berfungsi atau karena pasien memiliki metabolisme tinggi untuk memecah obat bius lebih cepat dari biasanya.
Walaupun dalam kondisi "sadar" namun kebanyakan pasien tidak merasakan sakit selama mengalami kesadaran saat dioperasi. Meski begitu hal itu bisa menimbulkan trauma dan kecemasan sesudahnya.
Menurut Dr.Morris Brown, kepala bagian anestesi di Henry Ford Hospital, Michigan, AS, mengatakan, tujuan utama pembiusan adalah membuat pasien bebas dari sakit dan stres selama tindakan operasi.
"Jika pasien justru menjadi sadar dan bisa mengingat meski di bawah pengaruh obat bius, maka itu akan menyebabkan gangguan trauma," kata Brown.
Ia menambahkan, pasien tak perlu terlalu khawatir akan terbangun di tengah meja operasi karena kejadiannya termasuk jarang. Sebelum memberikan obat dokter anestesi akan menjelaskan apa yang akan Anda alami selama dibius.
Beberapa pasien mengaku bermimpi selama operasi atau bisa mengingat suasana ruang operasi. Namun hal tersebut ternyata tidak termasuk dalam kondisi "kesadaran saat pembiusan". Sensasi dan memori tersebut kebanyakan tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.
KOMPAS.com — Setelah beberapa lama menjadi misteri, akhirnya para ilmuwan berhasil mengungkapkan mengapa sunat pada pria bisa menurunkan risiko penularan HIV.
Dalam studi yang dimuat dalam jurnal mBio, para ilmuwan menjelaskan bahwa perubahan populasi bakteri yang hidup di sekitar penis akibat tindakan sunat menjadi alasan di balik rendahnya risiko tertular HIV.
Menggunakan teknologi teranyar sehingga pengurutan gen dari organisme lebih cepat dan mudah diakses, peneliti melakukan analisis secara mendalam pada gen dari mikroba yang berada di sekitar penis. Sebanyak 156 pria Uganda yang disunat saat dewasa menjadi responden dalam penelitian ini. Mereka memberikan sampel sebelum sunat dan setahun setelahnya.
Meski tak ada perbedaan signifikan pada komunitas bakteri sebelum sunat dan setelahnya, tetapi pada kurun waktu 12 bulan kemudian, pria yang disunat memiliki jumlah bakteri yang bisa bertahan di kondisi beroksigen rendah (anaerob) lebih sedikit dan bakteri yang perlu oksigen (aerob) lebih banyak.
Secara umum, pria yang disunat memiliki jumlah bakteri 33 persen lebih rendah sehingga berpengaruh pada kemampuan tubuh dalam melawan infeksi seperti HIV.
Jumlah bakteri yang tinggi, seperti pada penis pria yang tidak disunat, akan mengaktifkan sel Langerhans di permukaan kulit. Sel-sel ini juga ditemukan di seluruh permukaan kulit manusia dan normalnya bertindak sebagai lini pertama pertahanan tubuh melawan patogen.
Dalam kondisi aktif, sel Langerhans ternyata justru mempermudah penularan HIV dengan menarik sel-sel spesifik yang ditargetkan oleh HIV, yakni CD4 dan sel T, kemudian mengikatnya. Sehingga, sel-sel yang sehat justru menjadi sasaran mudah dari HIV.
"Telah terjadi revolusi pada pemahaman kita akan mikroba. Mikroba sebenarnya sama seperti halnya sistem organ yang lain dan kita baru sampai pada permukaan untuk memahami kaitan antara mikroba dan sistem imun," kata Lance Price, yang melakukan riset ini.
Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa perubahan populasi bakteri di usus, misalnya, berdampak pada risiko obesitas. Studi lain juga menemukan kaitan yang kuat antara komunitas mikroba dan faktor risiko kanker, asma, serta penyakit kronis lainnya.
KOMPAS.com — Kecanduan olahraga merupakan kombinasi kata yang rancu. Olahraga selalu memiliki konotasi sehat, sementara kecanduan bernada negatif. Namun, para pakar menyebutkan cukup banyak orang yang terobsesi gaya hidup sehat, termasuk kecanduan olahraga.
Olahraga merupakan aktivitas yang bisa menyebabkan pelepasan hormon endorfin. Karena itulah, orang yang adiksi pada olahraga akan merasakan sensasi yang sama seperti kecanduan alkohol atau narkoba.
David J Linden, neuroscientist dari sekolah kedokteran John Hopkins University, menyebutkan bahwa orang yang kecanduan olahraga juga memiliki rasa ketagihan, bahkan ada gejala seperti putus obat (withdrawal).
Secara umum, ada tiga jenis adiksi, kimia, proses, dan psikologi. Kecanduan olahraga dikelompokkan ke dalam kelainan proses, seperti halnya adiksi judi dan seks.
"Ketika pikiran memaksa kita untuk melakukan tindakan berulang-ulang demi memuaskan dorongan tersebut, itu adalah kelainan," kata Andrew Spanswick, CEO pusat terapi kecanduan alkohol.
Ia menjelaskan, seseorang yang mengalami gangguan kompulsif untuk berolahraga sering kali mengorbankan kegiatan lain demi berolahraga. "Mereka mengalami rasa cemas dan dorongan berlebih untuk berolahraga. Rasa tersebut tidak dimiliki oleh orang yang normal," katanya.
Orang yang kecanduan olahraga pada umumnya adalah mereka yang memiliki trauma, seperti trauma di masa kecil, korban kekerasan, atau kehilangan emosional. Olahraga secara berlebihan itu diharapkan bisa mengompensasi rasa trauma tersebut.
Masalah yang timbul dari kecanduan olahraga tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga seseorang akan sampai pada titik di mana rasa sakit psikologi sudah melebihi manfaat yang normalnya kita dapat dari sudut pandang fisik.
Di usia akhir 30 tahun atau 40 tahun, orang yang kecanduan olahraga baru merasakan efek dari perilakunya itu, antara lain nyeri sendi, gangguan jantung, dan stroke mini.
Penanganan pada orang yang kecanduan olahraga tak jauh berbeda dengan kecanduan lain, misalnya detoksifikasi, penggunaan obat-obatan, sampai terapi perubahan perilaku.
KOMPAS.com - Akhir-akhir ini kasus kematian akibat serangan jantung semakin sering ditemukan. Pada Jumat (22/3/2013) kemarin, penyanyi sekaligus presenter acara olahraga kondang, Ricky Jo, meninggal di usia yang masih relatif muda akibat serangan jantung. Apa yang menyebabkan serangan jantung ini dapat menyebabkan kematian dan mengapa kini banyak dialami oleh mereka yang berusia muda?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Jantung Pusat Harapan Kita Jakarta Faisal Baraas menyatakan, penyempitan pada pembuluh darah koroner jantung lah yang memiliki peranan utama mengapa kematian mendadak terjadi. Penyempitan pembuluh darah dapat disebabkan oleh plak yang terbentuk akibat timbunan kolesterol yang terlalu tinggi dalam darah.
"Penyempitan pembuluh darah koroner, jika mencapai 80 persen, artinya hanya 20 persen saja yang dapat dilewati darah, menyebabkan darah mengental atau menggumpal. Sehingga tidak ada darah yag bisa lewat ke jantung," papar Faisal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/3/2013).
Penyempitan pembuluh darah, lanjutnya, tidak memandang usia seseorang. Oleh sebab itu, meskipun masih berusia muda, penyempitan pembuluh darah bisa terjadi apabila seseorang memiliki faktor risiko sehingga ia menjadi lebih rentan mengalami serangan jantung.
Serangan jantung, lanjut Faisal, mungkin saja tidak didahului dengan gejala apapun sebelumnya. "Umumnya memang ada gejala sebelumnya seperti nyeri dada dan sesak, namun bisa juga tidak diawali oleh gejala," ungkapnya.
Faktor risiko
Faisal menjelaskan, ada dua faktor risiko dari kematian mendadak yang berkaitan dengan penyakit jantung. Pertama adalah faktor yang tidak dapat diubah, dan kedua adalah faktor yang dapat diubah.
Faktor yang tidak dapat diubah terdiri dari faktor keturunan atau genetik, faktor usia, dan jenis kelamin. Besarnya masing-masing faktor dalam mempengaruhi risiko penyakit jantung berbeda-beda pada setiap orang.
"Untuk faktor genetik, tergantung pada kadar lipoprotein dalam darah. Semakin kuat faktor genetik mempengruhi bila kada protein ini tinggi. Dan semakin tinggi kadar protein ini maka semakin tinggi pula risiko serangan jantung," tutur Faisal.
Faktor usia juga tidak dapat dihindarkan. Semakin tua usia seseorang, maka kekenyalan pembuluh darah pun akan berkurang. Sedangkan faktor jenis kelamin, kata Faisal, laki-laki lebih rentan mengalami penyumbatan pembuluh darah dibandingkan perempuan.
"Perempuan memiliki hormon estrogen yang mencegah menyempitan pembuluh darah," ungkapnya.
Selain itu, ada faktor yang dapat diubah yaitu yang berhubungan dengan gaya hidup. Kebiasaan seperti merokok, kurang olahraga, memiliki kadar kolesterol tinggi, kencing manis, dan stres adalah beberapa faktor risiko yang dapat diubah.
Olahraga berat dapat memicu
Faisal menambahkan, seringkali penyumbatan pada pembuluh darah tak menunjukkan gejala spesifik, sehingga banyak orang tak sadar jika dirinya sudah memiliki sumbatan. Bila sudah ada yang tersumbat, kinerja jantung dapat terganggu. Olahraga berat bisa menjadi sangat berbahaya karena dapat memicu serangan jantung.
Olahraga berat, terang Faisal, membutuhkan aliran darah yang cepat sehingga membuat kerja jantung lebih berat. Saat terjadi penggumpalan darah, ketika melewati pembuluh darah yang menyempit, maka darah dialirkan semakin lambat. Padahal saat olahraga berat dibutuhkan aliran darah yang cepat. Hal inilah yang dapat memicu kematian mendadak.
Untuk mencegah serangan jantung, perlu dihindari faktor-faktor risikonya. Anda memang hanya bisa pasrah dan berdoa untuk faktor yang tidak dapat diubah, namun pengupayaan optimal untuk faktor yang dapat diubah masih dapat dilakukan.
Hal yang dapat dilakukan, menurut Faisal, antara lain dengan menjaga pola makan yang sehat yaitu rendah lemak dan rendah garam. Kemudian, olahraga ringan hingga moderat, namun teratur, dan menghindari rokok serta alkohol.
"Apabila memiliki penyakit kencing manis atau kolesterol tinggi, maka harus ada pengobatan untuk memperkecil risiko serangan jantung," cetusnya.