Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Perlu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perlu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Menu Makan Orangtua dan Anak Tak Perlu Dibedakan

Kompas.com - Hampir kebanyakan rumahtangga menyiapakan dua menu yang berbeda, satu untuk orang dewasa dan satu menu untuk anak-anak. Padahal menurut studi terbaru, anak yang mengasup menu yang sama dengan orangtuanya punya pola makan lebih sehat.

Mengasup makanan orangtua dinilai sebagai faktor penting dalam menentukan apakah pola makan anak akan sehat. Pola makan sehat yang dimaksud antara lain, apakah mereka terbiasa ngemil di antara waktu makan, melewatkan sarapan, senang makan sayur, atau makan di depan televisi.

"Menawarkan anak menu yang terpisah di waktu makan besar bisa menyebabkan anak kekurangan nutrisi tertentu. Misalnya saja jika sayuran tak diberikan," kata Valeria Skafida, peneliti dari University of Edinburgh's Center for Research for Families and Relationship.

Dalam konteks keluarga Indonesia, tentu saja menu makanan orangtua yang cenderung pedas harus dihindari. Selain itu sebaiknya menu makanan tidak mengandung terlalu banyak gula, garam, dan lemak.

Penelitian yang dilakukan Skafida itu menganalisa pola makan 2.200 anak berusia 5 tahun di Inggris. Ternyata, kebanyakan anak-anak tersebut mengonsumsi makanan seperti pizza dan keripik, yang sudah jelas padat kalori tapi minim gizi.

Anak pertama umumnya punya pola makan lebih sehat dibanding dengan saudara-saudara mereka. Selain itu, seperempat keluarga yang disurvei mengatakan mereka jarang menikmati kegiatan makan bersama, bahkan bercakap-cakap saat makan.

Karena faktor kesibukan, kebanyakan orangtua makan dalam waktu yang terpisah dengan anaknya. Menurut Skafida, sebenarnya tak masalah makan dalam waktu yang berbeda, asalkan menu makanannya sama.

"Makan menu yang sama lebih penting daripada makan bersama," katanya.

Menurut Dr.Colin Michie, pakar nutrisi anak, ada kaitan antara makan dengan menu yang terpisah dan kekurangan vitamin tertentu pada anak.

"Kebiasaan makan bersama, seperti orang Perancis, akan mengurangi kemungkinan anak memanipulasi orangtua dengan makanan," katanya.

Ia menambahkan, mengarahkan pola makan anak sedini mungkin berdampak besar dalam mencegah anak susah makan dan suka jajan. Selain itu, jenis makanan yang diberikan orangtua kepada anak mereka berpengaruh pada berat badan dan status kesehatan mereka di masa depan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 02 Mei 2013

7 Tanda Mengantuk dan Perlu Hindari Mengemudi

KOMPAS.com - Kegiatan apapun yang dilakukan dalam keadaan mengantuk tentu hasilnya tak sama dengan melakukannya dalam kondisi fit. Saat mengantuk, akan terjadi penurunan konsentrasi, kewaspadaan, dan refleks. Konsekuensinya, orang yang mengantuk lebih sering melakukan kesalahan yang mempengaruhi akurasi hasil.

Saat mengantuk tidak disarankan untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dengan konsekuensi berbahaya seperti mengemudi. Namun tak jarang pula orang memaksakan diri.

Dokter spesialis kesehatan tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran dr. Andreas Prasadja mengatakan, mengemudi saat mengantuk sama berbahayanya dengan mengemudi saat mabuk. Bahkan kecelakaan berkendara akibat mengantuk dua kali lipat dibandingkan jumlah kecelakaan akibat kondisi kendaraan yang tidak layak, dan tiga kali lipat dibandingkan dengan jalan yang tidak layak.

Sayangnya, ujar Andreas, rasa kantuk sering tidak disadari akibat penggunaan stimulan seperti kafein dan nikotin yang dapat menunda kantuk. "Stimulan konon dapat mengatasi kantuk, padahal itu hanya bisa menundanya," tandasnya.

Andreas pun memaparkan tanda-tanda klinis yang perlu diperhatikan saat akan/sedang mengemudi. Jika mengalami tanda-tanda ini, maka sebaiknya Anda mengurungkan niat untuk mengemudi.

1. Kehilangan konsentrasi.
Anda mulai sulit untuk fokus terhadap suatu kegiatan yang Anda lakukan. Anda juga sering memikirkan hal-hal lain di luar apa yang seharusnya Anda pikirkan alias pikiran menerawang.

2. Mata lebih sering berkedip.
Anda merasakan mata Anda mulai pedih dan frekuensi berkedip semakin sering.

3. Berulang kali menguap.
Menguap merupakan tanda mengantuk yang umum, yang menandai otak mulai kekurangan oksigen.

4. Sulit menjaga kepala tetap tegak.
Kepala terasa berat dan lebih ingin disandarkan.

5. Melanggar peraturan.
Terutama saat mengemudi, orang yang ngantuk sering melanggar marka jalan, melewati jalur, dan melakukan beberapa pelanggaran lain.

6. Mudah terpancing emosi.
Mudah tersinggung dan marah salah satu tanda Anda mengantuk.

7. Tidak sadar melewati jalan.
Ketika mengemudi, begitu tersadar Anda terkejut karena sudah melewati jalan tertentu.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 23 April 2013

Bukan Cuma Wanita yang Perlu Kontrasepsi

Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kota Banda Aceh memperlihatkan jenis alat dan obat kontrasepsi kepada warga

Kompas.com - Kontrasepsi masih dianggap urusan wanita, padahal pria pun harusnya peduli pada penggunaan kontrasepsi. Kepedulian dan dukungan pria terhadap kontrasepsi akan memperkecil kemungkinan kehamilan tak terencana yang dapat meningkatkan risiko angka kematian ibu.


Sekretaris Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) Yetty Irawan mengatakan, salah satu faktor risiko dari kematian ibu saat atau setelah proses melahirkan yaitu persiapan kehamilan yang tidak baik. Kondisi tersebut kebanyakan karena kehamilan yang tak direncakan.


"Dengan kontrasepsi, maka kehamilan tak terencana dapat dicegah," ungkapnya dalam konferensi pers Kongres I AIPKIND: Peningkatan Kompetensi Bidan untuk Mengatasi Diparitas Status Kesehatan Masyarakat di Jakarta, Jumat (12/4/2013).


Sayangnya, jumlah pemakaian kontrasepsi masih rendah di kalangan pria. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2012 mengatakan, ada 34,3 juta peserta KB aktif wanita, dan 1,4 juta peserta KB aktif pria.


"Laki-laki juga perperan dalam kesuksesan mencegah kehamilan tak terencana. Maka diharapkan laki-laki juga mau melakukan kontrasepsi," imbuh Yetty.


Kurangnya kepedulian pria untuk melakukan kontrasepsi disebabkan karena belum cukupnya informasi seputar kontrasepsi pria. Menurut Yetty, di sinilah peran bidan dibutuhkan. "Sebagai pemberi layanan medis, bidan juga perlu memberikan informasi kesehatan, termasuk kontrasepsi pria," tuturnya.


"Diskusi antara bidan dengan pasangan suami-istri akan dapat menentukan jenis kontrasepsi apa yang paling tepat untuk pasangan. Karena setiap pasangan memiliki kecocokan alat kontrasepsi yang berbeda," papar Yetty.


Adapun jenis alat kontrasepsi untuk wanita antara lain pil KB, suntikan, intrauterin device (IUD), implan, dan tubektomi. Sedangkan untuk pria yaitu kondom dan vesektomi.




Sumber Kompas




Info Alkes

Kamis, 11 April 2013

Pria Juga Perlu Vaksinasi HPV

KOMPAS.com - Human Papilloma Virus (HPV) yang selama ini dikenal sebagai penyebab terbesar kanker serviks di kalangan wanita ternyata juga menyerang pria. Oleh sebab itu, bukan hanya kaum Hawa yang perlu melakukan vaksinasi HPV, tetapi juga para lelaki.

HPV dikenal memiliki banyak tipe, baik yang berisiko rendah maupun yang berisiko tinggi menimbulkan penyakit. Tipe yang berisiko tinggi, termasuk tipe yang menyebabkan kanker serviks memang lebih berbahaya bagi wanita. Namun ada pula tipe penyebab penyakit condylomata acuminate atau kutil kelamin yang juga menyerang pria.

Wresti Indriatmi, dokter spesialis kulit kelamin dari Fakultas Kedokteran Indonesia Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) mengatakan, penyebab kutil kelamin adalah HPV tipe 6 dan 11. Virus ini dapat menyerang baik pria maupun wanita.

Menurut Wresti, kutil kelamin dapat menurunkan kualitas hidup bagi penderitanya. "Penurunan kualitas hidup dikarenakan rasa cemas, malu, dan kehilangan rasa percaya diri terutama saat berhubungan seksual dengan pasangan," tuturnya dalam acara simposium dokter yang diadakan oleh Indonesian Working Group (IWG) Selasa (2/4/2013) di Jakarta.

Prevalensi kutil kelamin di Indonesia terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Bahkan, selama tahun 2008-2011, jumlah kasus kutil kelamin menduduki peringkat tertinggi untuk golongan infeksi menular seksual (IMS) di RSCM. Jumlahnya mencapai hingga 20,5-26 persen dari seluruh kasus IMS.

Penularan kutil kelamin, kata Wresti, dapat terjadi akibat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah terinfeksi. "Namun jangan dulu curiga bila pasangan Anda menderita kutil kelamin, karena penyebabnya bukan hanya dari hubungan seksual saja," cetusnya.

Tidak memperhatikan kebersihan alat kelamin juga salah satu faktor yang meningkatkan risiko terinfeksi HPV. "HPV tipe 6 dan 11 dapat berkembang dengan baik dalam keadaan lembab, sehingga kelamin sebaiknya dijaga agar tidak lembab," jelas Wresti.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Prof. Samsuridjal Djauzi mengatakan, vaksinasi menjadi faktor penting dalam mencegah penularan HPV. "Oleh karena pria juga bisa terserang HPV, maka mereka pun perlu vaksinasi," ungkapnya.

Samsuridjal mengatakan, waktu terbaik untuk melakukan vaksinasi adalah saat usia 10-26 tahun atau sebelum aktif dalam kegiatan seksual. Jika sudah aktif secara seksual, maka sebelum melakukan vaksinasi sebaiknya dilakukan skrining untuk mengetahui apabila sudah terjadi infeksi HPV.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 03 April 2013

Sulit Hamil, Kapan Perlu Cek Kesuburan?

Kompas.com - Bila setelah setahun menikah dan selalu rutin berhubungan seksual kehamilan tak juga datang, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan kesuburan penting untuk mencari kelainan yang mungkin bisa diperbaiki.

Sayangnya dalam sebuah survei terhadap pasien di beberapa rumah sakit di Indonesia diketahui masih banyak pasangan yang takut memeriksakan diri. Hampir 56 persen pasien menjawab mereka takut akan diagnosis mandul jika periksa ke dokter.  

Pemeriksaan kesuburan idealnya dilakukan kedua belah pihak, suami dan istri. Menurut dr.Indra C Anwar, Sp.OG, pihak wanita menyumbang sekitar 45 persen penyebab sulit hamil, sedangkan pada pria sekitar 40 persen.
"Yang 15 persen tidak diketahui penyebabnya," katanya dalam acara temu media mengenai perkembangan terkini infertilitas dan bayi tabung di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekitar 75 persen pasangan akan berhasil hamil dalam waktu 6 bulan setelah menikah dan 85 persen hamil dalam periode setahun.

"Kurang dari 5 persen diantaranya akan hamil dalam periode 6 bulan berikutnya. Pasangan yang kurang subur sekitar 1-3 persen," kata dokter dari Klinik Teratai RS Gading Pluit Jakarta ini.

Ditambahkan oleh dr.Budi Wiwengko, Sp.OG, pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan jika setahun setelah menikah pasangan belum juga memiliki keturunan. "Tetapi pada kasus-kasus tertentu pemeriksaan bisa dilakukan lebih cepat, tidak perlu menunggu setahun," kata dokter yang biasa disapa Iko ini.

Menurut Iko, wanita yang menikah di atas usia 35 tahun, memiliki gangguan haid sebelumnya, atau pernah melakukan kuret dan menderita infeksi rahim, wajib memeriksakan diri secepatnya.

Ada sejumlah tes yang perlu dilakukan, antara lain pemeriksaan anatomi organ reproduksi dengan USG, pemeriksaan tes darah untuk mengetahui kadar hormon, pemeriksaan sperma dan sel telur, dan sejumlah tes tambahan lainnya sebagai penunjang.

Penyebab sulit hamil pada seseorang memang masih diliputi misteri. Namun menurut Indra cukup banyak kelainan-kelainan pada organ reproduksi yang masih bisa diperbaiki, baik dengan obat atau pun tindakan operasi.

"Jika sulit hamilnya ternyata karena gangguan pematangan sel telur, gangguan sperma, atau ketidakseimbangan hormon, masih bisa diatasi dengan obat," kata Indra.

Sementara itu jika gangguan kesuburan disebabkan oleh endometriosis atau kista, serta perlengketan rahim, biasanya diperlukan tindakan pembedahan.

"Pada kasus kelainan yang sifatnya permanen, masih bisa dibantu dengan program bayi tabung," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 19 Maret 2013

Perlu Dibuat Perda untuk Dukung PP ASI

KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan menyatakan sejauh ini belum dapat menilai pelaksanaan PP No.33 Tahun 2013 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif karena peraturan tersebut baru diresmikan 1 Maret 2013 lalu.

"Terlalu dini untuk mengevaluasi pelaksanaan PP ASI. Saat ini masih dalam tahap sosialisasi," ujar Kepala Seksi Standardisasi Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes Titin Hartini di sela-sela acara Halaqah Syahriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan tema 'Pentingnya Gizi dalam Menciptakan Generasi Berkualitas' Kamis (14/3/2013) di Jakarta.

Kementerian Kesehatan, kata dia, mengimbau kepada pemerintah daerah untuk membuat peraturan daerah (perda) guna membuat PP ASI lebih mengikat. "Perda sangat dibutuhkan agar pemerintah daerah langsung dapat mengambil tindakan bila ada pelanggaran," ujarnya.

Di dalam PP ASI diatur tentang anjuran inisiasi menyusu dini segera setelah lahir dalam waktu satu jam pertama, pemberian ASI eksklusif untuk bayi hingga berusia 6 bulan, pemberian makan pendamping ASI setelah 6 bulan, dan pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai anak berusia 24 bulan. PP ASI juga mengatur tentang pengadaan ruangan khusus menyusui di berbagai tempat umum seperti kantor, mall, terminal, stasiun, dan tempat-tempat umum lainnya.

Kendati cukup lengkap tentang aturan yang mendukung pengadaan ASI eksklusif, namun PP ASI belum memberikan aturan yang jelas tentang aturan bagi promosi susu formula bagi bayi berusia 0 hingga 6 bulan yang seharusnya diberi ASI eksklusif. Ditambah lagi dengan menjamurnya merk-merk susu formula baru yang memperbesar kemungkinan penurunan angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia.

Titin menyatakan, aturan tentang promosi produk susu formula untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan telah disusun. Kementerian Kesehatan sedianya akan mengeluarkan empat Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) sebagai aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif.

Pemberian ASI, kata dia, dapat menolong mengurangi kemiskinan dan kelaparan. Selain itu, dapat membuat baik bayi maupun ibu terhindar dari berbagai macam penyakit sehingga menurunkan angka kematian.



Sumber Kompas



Info Alkes