Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Vaksinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaksinasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

"Nanopatch", Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Nanopatch ini lebih murah dan tanpa menggunakan jarum.

BRISBANE, KOMPAS.com -- Seorang ilmuwan asal Brisbane (Australia) sedang mempersiapkan uji klinis bagi penggunaan alat untuk melakukan vaksinasi yang lebih murah terhadap anak-anak. Dan yang lebih penting adalah itu tidak menggunakan jarum suntik.

Professor Mark Kendall adalah penemu Nanopatch - sebuah tambalan kecil, lebih kecil dari perangko, namun berisi ribuan titik kecil yang hanya bisa dilihat di bawah mikroskop. Titik-titik kecil inilah yang akan membawa masuk vaksin ke permukaan kulit.

Menurut laporan Brisbane Times, Kamis (18/4/2013), selama sembilan tahun terakhir, Kendall dan timnya yang berisi para periset internasional bekerja untuk membuat alat vaksinasi tanpa jarum ini di laboratorium. Pada dasarnya, teknologi ini dibuat untuk memasukkan vaksin ke tubuh anak-anak, tanpa menggunakan jarum.

Sekarang ini biaya tiga kali injeksi vaksin adalah 50 dolar Australia (sekitar Rp 500 ribu) dan dengan teknologi baru tersebut, biayanya hanya 50 sen (sekitar Rp 50 ribu).

Bulan Oktober mendatang, Kendall akan melakukan uji coba klinis di Papua Nugini.

Nanopatch hampir menyerupai teknologi Star Trek. "Secara kasat mata, ini tampak seperti sebuah tambalan kecil. Namun kalau kita lihat di bawah mikroskop, terdapat ribuan titik tajam, dimana vaksin itu dioleskan," kata Kendall. "Ketika ditempelkan, titik tajam ini akan memecah permukaan kulit dan mengirim vaksin itu ke ribuan sel di dalam tubuh."

Menurut Kendall, dengan proses ini pasien terutama anak-anak tidak akan merasa kesakitan, dan juga tidak takut karena tidak ada jarum yang terlibat. Dikatakan juga bahwa vaksinisasi menggunakan nanopatch ini akan lebih murah dibandingkan vaksin menggunakan jarum suntik karena nano ini tidak perlu ditaruh di lemari es.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan kekhawatiranya bahwa vaksin di dunia sekarang tidak efektif karena di dunia ketiga banyak yang tidak disimpan di lemari es. "Kami sudah membuktikan bahwa Nanopatch tidak perlu disimpan di tempat dingin. Dari percobaan dengan tikus, dosisnya tidak perlu besar. Jadi dengan itu saja, dua masalah besar penyebaran vaksinasi di dunia berkembang sudah bisa diatasi," kata Kendall.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 17 April 2013

Vaksinasi, Efektif Kendalikan Hepatitis B

KOMPAS.com - Sekitar 25 juta warga Indonesia diperkirakan menderita penyakit hepatitis B dan C. Dari jumlah itu, penderita virus hepatitis B (HBV) masih jauh lebih besar. Sebanyak 50 persen kasus hepatitis B dan C berpotensi menjadi penyakit liver kronis, dan sekitar 10 persennya dapat berujung pada kanker hati.

Hepatitis B adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan virus hepatitis B (HBV) . Virusnya dapat ditemukan pada darah, liur, cairan amniotik, atau semen. Beberapa profesi yang rentan tertular hepatitis B antara lain bidan, paramedis, dan dokter.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr.Slamet MPH, salah langkah pencegahan yang terus gencar dilakukan pemerintah dalam menekan penularan hepatitis B adalah dengan vaksinasi. Ini merupakan upaya pencegahan primer yang masih jauh lebih efektif dibandingkan upaya lainnya yang bersifat sekunder.

"Sampai sekarang yang paling efektif adalah pencegahan primer. Untuk pencegahan sekunder belum dilakukan maksimal karena mahal dan tidak bisa dilakukan semua orang," kata Slamet.

Sebagai upaya pencegahan primer, lajutnya, vaksinasi sekarang sudah tersebar merata di seluruh Indonesia. Data Kemenkes 2013 menyebutkan, sampai akhir Maret 2013 cakupan imunisasi hepatitis B mencapai 85,6 persen dari jumlah penduduk. Vaksin hepatitis B juga dilakukan kepada para ibu hamil. Hal ini penting dilakukan karena penularan hepatitis B dari ibu hamil ke janin mencapai 90 persen.

Beberapa propinsi yang sudah melakukan vaksinasi kepada 80 persen warganya yang hamil antara lain Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Banten, dan Bangka Belitung.

Slamet menambahkan, pencegahan secara sekunder yakni dengan melakukan deteksi dini, dan langsung mengobati jika menderita hepatitis B. Pencegahan sekunder ini bertujuan menekan kecepatan virus memperbanyak diri. Untuk pencegahan tersier, penderita dan tenaga kesehatan bekerja sama mencegah komplikasi penyakit akibat hepatitis B.

Kebersihan juga menjadi kunci menekan risiko tertular  HBV. Slamet menyarankan masyarakat tidak menggunakan jarum suntik bergantian, dan menjaga kebersihat alat medis bagi petugas kesehatan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 12 April 2013

Hamil, Bolehkah Vaksinasi HPV?

KOMPAS.com - Salah satu cara pencegahan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yaitu dengan melakukan vaksinasi. Namun apakah vaksinasi pada kaum wanita dapat dilakukan saat masa kehamilan?

Menurut dokter spesialis kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit CiptoMangunkusumo (FKUI/RSCM) Jakarta Laila Nuranna, vaksinasi sebaiknya tidak dilakukan saat hamil. "Vaksinasi ditakutkan akan berpengaruh terhadap kesehatan janin," ujarnya dalam simposium dokter yang diadakan oleh Indonesian Working Group Selasa (2/4/2013) di Jakarta.

Sebaliknya, vaksinasi justru dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual. "HPV menular melalui hubungan seksual. Jadi, sebaiknya untuk menghindari infeksi, vaksinasi dilakukan sebelum pernah melakukan hubungan seksual," tutur Laila.

Namun jika sudah terlambat, vaksinasi tetap bisa dilakukan, asalkan tidak sedang dalam program merencanakan kehamilan untuk suntikan pertama dan kedua.

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Iris Renggani menyatakan dalam kesempatan yang sama, tahapan vaksinasi HPV terdiri dari 3 kali suntikan, yaitu pada bulan ke-0, 2, dan 6.

"Untuk suntikan pertama dan kedua harus sesuai dengan aturan yaitu selang dua bulan, tapi untuk suntikan ketiga bisa dilakukan setahun kemudian. Di antara suntikan kedua dan ketiga tidak apa-apa jika hamil," papar Iris.

Vaksinasi HPV yang dilakukan setelah melahirkan atau sudah aktif secara seksual, kata Iris, perlu didahului dengan skrining. Skrining dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pap smear dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) . Skrining bertujuan untuk mendeteksi adanya infeksi virus HPV.

Iris menambahkan, HPV adalah virus yang pintar sehingga tidak dapat terdeteksi oleh sistem imun tubuh. Manfaat vaksinasi HPV adalah untuk membentuk antibodi yang melapisi virus agar tidak dapat masuk ke dalam sel.



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 11 April 2013

Pria Juga Perlu Vaksinasi HPV

KOMPAS.com - Human Papilloma Virus (HPV) yang selama ini dikenal sebagai penyebab terbesar kanker serviks di kalangan wanita ternyata juga menyerang pria. Oleh sebab itu, bukan hanya kaum Hawa yang perlu melakukan vaksinasi HPV, tetapi juga para lelaki.

HPV dikenal memiliki banyak tipe, baik yang berisiko rendah maupun yang berisiko tinggi menimbulkan penyakit. Tipe yang berisiko tinggi, termasuk tipe yang menyebabkan kanker serviks memang lebih berbahaya bagi wanita. Namun ada pula tipe penyebab penyakit condylomata acuminate atau kutil kelamin yang juga menyerang pria.

Wresti Indriatmi, dokter spesialis kulit kelamin dari Fakultas Kedokteran Indonesia Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) mengatakan, penyebab kutil kelamin adalah HPV tipe 6 dan 11. Virus ini dapat menyerang baik pria maupun wanita.

Menurut Wresti, kutil kelamin dapat menurunkan kualitas hidup bagi penderitanya. "Penurunan kualitas hidup dikarenakan rasa cemas, malu, dan kehilangan rasa percaya diri terutama saat berhubungan seksual dengan pasangan," tuturnya dalam acara simposium dokter yang diadakan oleh Indonesian Working Group (IWG) Selasa (2/4/2013) di Jakarta.

Prevalensi kutil kelamin di Indonesia terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Bahkan, selama tahun 2008-2011, jumlah kasus kutil kelamin menduduki peringkat tertinggi untuk golongan infeksi menular seksual (IMS) di RSCM. Jumlahnya mencapai hingga 20,5-26 persen dari seluruh kasus IMS.

Penularan kutil kelamin, kata Wresti, dapat terjadi akibat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah terinfeksi. "Namun jangan dulu curiga bila pasangan Anda menderita kutil kelamin, karena penyebabnya bukan hanya dari hubungan seksual saja," cetusnya.

Tidak memperhatikan kebersihan alat kelamin juga salah satu faktor yang meningkatkan risiko terinfeksi HPV. "HPV tipe 6 dan 11 dapat berkembang dengan baik dalam keadaan lembab, sehingga kelamin sebaiknya dijaga agar tidak lembab," jelas Wresti.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Prof. Samsuridjal Djauzi mengatakan, vaksinasi menjadi faktor penting dalam mencegah penularan HPV. "Oleh karena pria juga bisa terserang HPV, maka mereka pun perlu vaksinasi," ungkapnya.

Samsuridjal mengatakan, waktu terbaik untuk melakukan vaksinasi adalah saat usia 10-26 tahun atau sebelum aktif dalam kegiatan seksual. Jika sudah aktif secara seksual, maka sebelum melakukan vaksinasi sebaiknya dilakukan skrining untuk mengetahui apabila sudah terjadi infeksi HPV.



Sumber Kompas



Info Alkes