Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kompas.com - Proses pemutihan gigi (bleaching) bisa menjadi cara untuk mendapatkan gigi yang putih, tetapi prosedur ini bisa menyebabkan gigi menjadi sensitif sehingga terasa ngilu saat mengonsumsi makanan dan minuman.
Selain proses bleaching, pembersihan karang gigi dan mengikir gigi juga akan menyebabkan terbukanya lapisan dentin atau pelindung gigi yang menyelimuti permukaan gigi dengan pori.
Bahan-bahan kimia yang dipakai saat memutihkan gigi bisa mengikis lapiran dentin. Dentin yang terbuka akan menyebabkan gigi lebih mudah terpapar rangsangan dari luar, seperti rasa tajam dari makanan.
Pada proses pembersihan karang gigi, menurut Ariandes Veddytaro, GlaxoSmithKline Dental Detailing Manger, pengangkatan karang gigi bisa menyebabkan gigi dan gusi lebih terbuka sehingga timbul rasa ngilu.
"Pada sebagian orang lapisan gigi yang terekspos ini menyebabkan penurunan gusi yang kemudian mengekspos akar gigi. Kemungkinan lain adalah alat pembersih karang gigi mengenai bagian dalam gusi yang kaya saraf," katanya.
Untuk mencegahnya, ia menyarankan untuk menggunakan pasta gigi khusus gigi sensitif dua minggu sebelum melakukan pemutihan gigi. Sementara itu, pasta gigi ini juga bisa dipakai setelah proses pembersihan karang gigi.
Kompas.com —Tidur sampai mendengkur bagi sebagian besar orang bukan dianggap sebagai masalah. Dengkuran bahkan dikaitkan dengan tidur yang nyenyak. Padahal, mendengkur yang disertai henti napas sesaat bisa memicu gangguan kesehatan serius seperti stroke atau penyakit jantung.
Henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA) disebabkan karena tertutupnya jalan napas oleh jaringan di bagian atas hidung dan tenggorokan. Yang meresahkan, henti napas ini bisa terjadi berulang kali selama tidur.
"Henti napas tersebut akan membuat tubuh kekurangan oksigen. Karena tidak ada oksigen biasanya kita akan terbangun mendadak. Tensi darah pun langsung naik. Kondisi tersebut dalam jangka panjang menyebabkan gangguan pada jantung," kata dr Bambang Budi Siswanto, Sp JP dalam acara bertajuk Gangguan Tidur Tingkatkan Risiko Penyakit Kronik di Jakarta (27/3/13). Acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia.
Penurunan kadar oksigen dalam darah secara tajam saat tidur itu bisa memicu gangguan irama jantung serta hipertensi atau peningkatan tekanan darah yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.
"Banyak pasien hipertensi yang terus ditambah dosis obatnya untuk menurunkan tensinya. Dokter terkadang lupa untuk mengecek apakah pasien itu mengalami OSA atau mendengkur saat tidurnya," kata dokter dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, ini.
Hipertensi kronik juga bisa menyebabkan penebalan otot jantung serta pengentalan darah. "Risiko stroke menjadi sangat tinggi," imbuhnya.
Menurut dr Rismawati Tedjasukmana, Sp S, peneliti tidur, sleep apnea bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi sampai lansia. "Pada bayi biasanya disebabkan karena kelainan pertumbuhan rahang. Sedangkan pembesaran amandel pada anak usia sekolah juga akan menyebabkan mengorok," katanya dalam kesempatan yang sama.
Pada orang dewasa, kondisi-kondisi tertentu bisa mengundang sleep apnea, misalnya saja kegemukan. "Peran terbesar pada terjadinya sleep apnea memang berat badan. Tetapi di lain pihak orang yang sleep apnea juga berat badannya lebih mudah naik," imbuh Risma.
Gangguan tidur akan mengganggu keseimbangan hormon-hormon, misalnya saja hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Gangguan hormon insulin juga akan memicu penyakit diabetes.
"Jika kita ngorok artinya napasnya tidak plong. Karena itu harus diterapi agar tidak sampai terjadi komplikasi penyakit," kata Bambang.
Mengurangi berat badan, berhenti merokok, atau tidur dengan posisi miring bisa dilakukan untuk mengurangi dengkuran. Pada kasus yang lebih berat, cara yang efektif untuk mengatasi sleep apnea adalah penggunaan alat khusus untuk memberikan tekanan udara ke saluran napas Anda.
Kompas.com - Anda sedang berencana melakukan waxing alias pencukuran bagian organ genital? Sebaiknya baca laporan hasil studi terbaru ini. Organ genital yang bersih tanpa rambut ternyata justru lebih rentan infeksi campak.
Menghilangkan rambut kemaluan, baik itu dengan mencukur, menggunting, atau mencabut, bisa menyebabkan iritasi kulit sehingga lebih mudah terjadi penularan infeksi virus.
Seperti halnya pada peningkatan angka kejadian virus molluscum contagiosum yang termasuk dalam penyakit menular seksual.
"Menghilangkan rambut di area genital telah menjadi fenomena fesyen dalam satu dekade terakhir. Pada saat yang sama terjadi peningkatan kasus molluscum contagiosum," kata Dr.Francois Desruelles dari departemen dermatologi Arches Hospital, Nice, Perancis.
Memang kaitan antara kedua hal tersebut masih harus dikonfrimasi dengan studi lanjutan, tetapi Dersuelles yakin kepopuleran membersihkan rambut kemaluan, baik pada pria atau wanita, meningkatkan risiko infeksi.
Menghilangkan rambut kemaluan juga akan meningkatkan risiko kutil kelamin karena infeksi papillomavirus.
Desruelles dan timnya melaporkan hasil observasi mereka dalam jurnal Sexually Transmitted Infections.
Ruam molluscum contagiosum sebenarnya lebih sering dialami anak atau orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh. Namun penyakit tersebut juga ditularkan lewat hubungan seksual.
Untuk mengetahui kaitan antara infeksi tersebut dengan membersihkan rambut kemaluan, Desruelles meneliti 30 pasien di Perancis yang menjalani pengobatan kulit di klinik swasta di Nice antara tahun 2011 dan 2012.
Rata-rata pasien tersebut berusia sekitar 30 tahun dan 24 orang diantaranya pria. Hampir kebanyakan pasien memiliki gejala bentol-bentol kemerahan. Pada beberapa kasus, bentolnya menyebar sampai bagian perut, dan ada juga yang ke bagian pinggul.
Hampir seluruh pasien melakukan tindakan pembersihan rambut kemaluan. Mencukur adalah metode yang paling banyak dipilih (70 persen), sisanya waxing dan menggunting.
Sepertiga dari pasien menderita berbagai penyakit kulit, seperti infeksi kulit, scar, kutil, sampai rambut tidak tumbuh kembali.
Penularan virus campak dicurigai merupakan bentuk penularan sendiri, yang berarti pasien menggaruk kulit yang teriritasi. Mencukur dengan alat-alat yang tidak steril di salon juga bisa meningkatkan risiko infeksi.
"Menghilangkan rambut kemaluan dengan laser tidak terkait karena tidak ada pemotongan atau perdarahan mikroskopik. Selain itu waxing juga memiliki risiko lebih sedikit dibanding mencukur," katanya.
Kendati demikian, menurutnya menghilangkan rambut kemaluan juga punya efek positif. Antara lain mencegah timbulnya kutu.
Kompas.com - Biduran atau dalam bahasa medis disebut dengan urtikaria selain disebabkan karena alergi pada bahan tertentu, ternyata seringkali dipicu oleh gangguan pada gigi dan mulut.
Biduran adalah penyakit alergi yang ditandai dengan erupsi pada kulit berwarna kemerahan, timbul atau bentol, dan sangat gatal. Biduran bisa timbul di mana saja, termasuk wajah, bibir, lidah, hingga telinga.
Ada berbagai penyebab timbulnya biduran, antara lain reaksi alergi, zat kimia dalam makanan, sengatan serangga, paparan sinar matahari, atau obat-obatan yang memicu pelepasan histamin dalam tubuh. Tetapi terkadang sangat sulit menentukan apa penyebab utama biduran.
Menurut dr.T.Bahdar Johan, spesialis penyakit dalam dari RS Premier Bintaro, Tangerang, cukup banyak penderita biduran yang dipicu oleh masalah gigi.
"Hampir 60 persen pasien yang menderita biduran ternyata memiliki masalah gigi, entah itu tambalan lepas, plak, atau kalkulus," paparnya dalam acara media edukasi menyambut Hari Kesehatan Gigi Sedunia 2013 yang diadakan oleh PT.Unilever Indonesia di Jakarta (18/3/13).
Pengobatan terbaik untuk biduran adalah mengenali dan menghindari pemicunya. Antihistamin juga efektif untuk mengurangi keluhan gatal akibat biduran.
"Pada pasien yang memiliki gangguan gigi akan langsung dirujuk untuk mengobati penyakit giginya," kata Bahdar.