Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
DWI AS SETIANINGSIH
Menus Sudibyo (56) tak kenal lelah berupaya untuk memiliki anak. Meski tujuh kali gagal mengikuti program bayi tabung, dua kali di Indonesia dan lima kali di Singapura, semangat Menus tidak pernah pupus. Akhirnya, ia berhasil memiliki anak kembar pada program bayi tabung kedelapan di Jakarta.
Menus ditangani dokter ahli infertilitas Indra C Anwar. Sebelumnya, Menus cemas karena didiagnosis mengidap virus toksoplasma sehingga harus menjalani pengobatan untuk itu.
Hal yang menggembirakan, pada Oktober 1998 Menus dinyatakan hamil. Ia harus beristirahat total pada bulan ke-8 kehamilan. Anak kembar Menus, Mahaputera dan Mahaputeri, lahir pada 31 Mei 1999.
Bagi pasangan yang sulit memiliki buah hati, upaya terakhir mendapatkan anak dilakukan dengan metode in vitro fertilization (IVF). Prinsipnya, pembuahan (pertemuan sel telur dan sperma) dilakukan di laboratorium, setelah itu baru dimasukkan ke rahim. Metode ini merupakan bagian dari program bayi tabung. Upaya ini tidak selalu berhasil. Karena itu, para ahli terus melakukan penelitian untuk memperkecil kegagalan.
Setahun terakhir, teknik baru dalam pemilihan sperma diterapkan di klinik-klinik kesuburan di Indonesia. Teknik tersebut, yaitu intracytoplasmic morphologically selected sperm injection (IMSI), adalah teknik memilih sperma untuk mendapatkan sperma berkualitas.
”Dulu orang menganggap hanya sel telur yang menentukan kualitas embrio. Tapi kemudian disadari faktor sperma juga menentukan kualitas embrio. Karena itu, sperma juga diseleksi. Ternyata angka kehamilan menjadi lebih bagus, terutama untuk kasus-kasus yang gagal berulang,” kata Indra yang berpraktik di Klinik Kesuburan Teratai Rumah Sakit Gading Pluit.
Teknik IMSI dikembangkan tim yang diketuai Profesor Benyamin Bartoov dari Male Fertility Laboratory, Bar-Ilan University, Israel, tahun 2002. Bersama tim, Bartoov melakukan penelitian menggunakan mikroskop canggih untuk menyeleksi bentuk dan karakteristik sperma.
Kualitas sperma diduga menjadi salah satu sebab kegagalan prosedur intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI). Mereka menduga, capaian angka kehamilan yang rendah melalui prosedur ICSI, berkorelasi dengan ketidaknormalan bentuk sperma yang selama ini tidak terdeteksi melalui prosedur ICSI.
ICSI adalah teknik yang banyak digunakan pada metode bayi tabung, selain teknik konvensional. Pada IVF konvensional, satu sel telur dipertemukan dengan 50.000-100.000 sperma di cawan petri agar satu sperma yang baik masuk ke dalam sel telur sehingga terjadi pembuahan.
Pada teknik IVF-ICSI, satu sperma disuntikkan ke dalam satu sel telur agar terjadi pembuahan. Teknik ini dilakukan bila ada masalah pada sperma, misalnya sperma tidak mampu masuk ke sel telur dengan tenaganya sendiri. "Caranya, sperma dipatahkan dulu lehernya kemudian disuntikkan ke dalam sel telur," Indra memaparkan.
Pembesaran 6.000 kali
IMSI, kata Indra, merupakan pengembangan ICSI untuk menyeleksi sperma dengan lebih spesifik menggunakan mikroskop berkemampuan tinggi. Teknik ini memungkinkan ahli embriologi melihat sperma lebih detail, yakni lewat pembesaran 6.000 kali. Dengan demikian, dapat dianalisis parameter kesuburan dan morfologi sperma. Dalam ICSI, sperma diseleksi melalui pembesaran 400 kali.
Tahun 2003, tim Bartoov menerbitkan penelitian di mana prosedur seleksi sperma dengan teknik IMSI terbukti meningkatkan angka kehamilan bagi pasangan dengan kegagalan yang berulang. Penelitian ini melibatkan masing-masing 50 pasangan dalam grup IMSI dan ICSI untuk diperbandingkan.
Hasilnya, jumlah pasangan yang menggunakan IMSI mengalami kehamilan sangat signifikan (66 persen), dibandingkan dengan pasangan yang hanya menggunakan teknik ICSI (33 persen).
”Dalam ICSI dipilih sperma yang dianggap bagus. Namun, kenyataannya, sperma yang dipilih ternyata memiliki kelemahan yang tidak terlihat. Dengan IMSI yang pembesarannya jauh lebih tinggi, kelemahan itu bisa terlihat,” katanya.
Sperma yang buruk akan memengaruhi kualitas embrio. Kualitas embrio yang buruk meningkatkan kegagalan kehamilan.
Tahun 2006, penelitian lanjutan melibatkan 80 pasangan pada tiap kelompok. Pada kelompok yang menggunakan teknik IMSI, angka kehamilan mencapai 60 persen. Pada pasangan yang menggunakan ICSI kehamilan hanya 25 persen.
Angka keguguran juga turun signifikan. Pasangan yang menggunakan IMSI angka kegugurannya hanya 14 persen, sedangkan keguguran pada pasangan dengan teknik ICSI mencapai 40 persen. Penelitian yang dilakukan di Italia tahun 2008 juga menunjukkan hasil serupa.
Eppendorf, sebuah perusahaan penyuplai produk-produk untuk IMSI, menyebutkan, 500 bayi telah lahir di Israel dengan prosedur IMSI. Di Eropa jumlahnya lebih dari 200 bayi.
Di Indonesia, teknik ini masih baru dan baru diterapkan di beberapa klinik kesuburan. Belum ada penelitian khusus yang membandingkan keberhasilan teknik IMSI dengan ICSI di Indonesia. Namun, teknik ini menjadi harapan baru bagi pasangan yang ingin menimbang buah hati.
Organ liver yang dijaga tetap hidup sebelum dicangkokkan. Kompas.com - Tim dokter di London, Inggris, berhasil menciptakan mesin untuk menjaga organ liver yang berasal dari pendonor tetap hidup, hangat, dan berfungsi di luar tubuh manusia. Dengan mesin tersebut liver dari pendonor tetap berada dalam kondisi baik untuk selanjutnya dicangkokkan ke tubuh pasien.
Keberhasilan yang pertama kali di dunia itu merupakan buah dari kerjasama tim dokter, insinyur, dan dokter bedah. Keberhasilan ini diharapkan bisa ditiru oleh rumah sakit di seluruh dunia dalam beberapa tahun mendatang sehingga harapan para pasien mendapat organ yang prima semakin besar.
Sejauh ini prosedur tersebut sudah dilakukan pada dua pasien di Inggris yang masuk dalam daftar tunggu untuk mendapat cangkok ginjal. Pasca operasi keduanya sudah mengalami pemulihan dengan baik.
"Sangat mencengangkan saat melihat liver yang awalnya dingin dan pucat berubah warnanya begitu dimasukkan dalam mesin khusus seperti halnya liver sedang berada dalam tubuh," kata Constantin Coussios, salah satu penemu mesin itu.
"Yang labih luar biasa adalah melihat liver tersebut dicangkokkan pada pasien yang sekarang sudah sehat," katanya.
Selama ini organ liver yang akan dipakai untuk tranplantasi disimpan dalam "es" sebagai upaya pendinginan dan memperlambat metabolisme. Selain itu metode itu juga dipakai untuk mencegah liver berfungsi seperti halnya di dalam tubuh.
Sistem tersebut telah dipakai selama beberapa dekade, namun seringkali menyebabkan liver rusak dan tidak sesuai dengan pasien yang membutuhkan.
Para dokter bedah mengatakan menyimpan liver dalam es lebih dari 14 jam sebenarnya beresiko, meski liver bisa bertahan sampai 20 jam.
Kebutuhan tinggi
Setiap tahunnya dilakukan 13.000 transplantasi hati di seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Namun jika digabungkan dengan pasien yang masih dalam daftar tunggu, maka setiap tahunnya ada 30.000 pasien yang butuh liver baru.
Para ahli mengatakan separuh dari pasien tersebut meninggal saat masih menunggu. Pada saat yang sama, lebih dari 2000 liver tidak layak dipakai dan terpaksa dibuang karena rusak akibat kekurangan oksigen atau tidak bertahan dalam proses penyimpanan.
Dalam teknologi baru yang dikembangkan oleh Coussios bersama dengan Peter Friend, direktur Oxford Tranplant Center, liver disimpan dalam suhu tubuh dan "direndam" dalam sel darah merah yang mendapat oksigen agar tetap hidup.
"Ini adalah alat pertama yang secara lengkap memberikan suplai darah pada liver. Hasil studi klinis pertama memberikan bukti bahwa kita bisa menjaga liver di luar tubuh manusia, menjaganya tetap hidup dan berfungsi dalam mesin, lalu beberapa jam kemudian dicangkokkan ke tubuh pasien," kata Coussios.
Alat tersebut memungkinkan liver berfungsi dengan normal, seperti dalam tubuh manusia, dengan sirkulasi darah melewati pembuluh kapilr dan produksi empedu selama 24 jam atau lebih.
"Jika kita bisa mengenalkan teknologi ini dalam praktek sehari-hari, akan terjadi perubahan besar dalam metode pencangkokan organ," kata Nigel Heaton, direktur bedah tranplantasi yang menjadi bagian dari tim ini.
Pasien pertama yang mendapatkan cangkok liver ini adalah Ian Christie (62). Ia masih dalam masa pemulihan pasca operasi tetapi ia mengatakan kondisinya makin baik setiap harinya.
Christie merupakan pasien sirosis (kanker hati) dan divonis hanya bisa bertahan hidup sampai 18 bulan jika tak segera mendapat cangkok liver.
Tim dokter saat ini berencana melakukan percobaan terhadap 20 pasien transplantasi liver. Jika sukses, maka alat tersebut akan diajukan untuk diproduksi secara luas.