Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Gangguan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

Wanita Hamil Rentan Gangguan Usus

KOMPAS.com - Saat hamil, wanita perlu lebih mewaspadai gangguan usus, seperti konstipasi dan diare. Sebuah studi baru menemukan, tiga dari empat wanita mengalami gangguan usus saat hamil. Meskipun gangguan ini tidak sampai menurunkan kualitas hidup mereka.

Para peneliti asal Loyola University Center di Maywood mencatat gangguan usus ini terjadi akibat perubahan psikologis dan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Selain itu, suplemen makanan yang diminum selama kehamilan juga turut berperan.

Studi ini menganalisa 104 wanita hamil pada trimester pertama dan 66 wanita hamil pada trimester ketiga. Para peserta diminta menyelesaikan dua kuisioner. Pertama, mengenai gangguan usus yang mereka derita, dan yang kedua mengenai bagaimana gangguan tersebut mempengaruhi kualitas hidup mereka.  Para peserta secara khusus juga ditanya apakah gangguan usus yang mereka derita membuat hidup mereka kurang nyaman, terbatas memilih pakaian dan makanan, membuat malu, marah, terisolasi, sedih, atau tertekan.

Studi menemukan bahwa 72 persen peserta dengan kehamilan trimester pertama dan 61 persen peserta dengan kehamilan trimester ketiga pernah mengalami gangguan usus paling tidak satu kali. Gangguan usus yang mereka alami antara lain konstipasi, diare, kembung, dan radang usus.

Sementara itu, gangguan usus yang mereka alami ternyata tidak mempengaruhi kualitas hidup mereka. Dari skala satu hingga 100, dengan 100 menunjukkan tidak mempengaruhi sama sekali, rata-rata para peserta menjawab hingga 94,9.

Dr. Scott Graziano penulis senior dan profesor kebidanan di Loyola University Chicago Stritch School of Medicine menyarankan wanita hamil untuk minum cukup cairan dan mengonsumsi 25 hingga 30 gram serat setiap hari. Studi menemukan bahwa wanita hamil rata-rata hanya mengonsumsi 16 hingga 17 gram serat per-harinya.

Hasil dari studi masih didiskusikan dalam pertemuan tahunan American College of Obstetricians and Gynecologists di New Orleans. Data dan kesimpulan yang akurat dapat dilihat setelah hasilnya diterbitkan dalam bentuk jurnal.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 06 Mei 2013

Terobsesi Penampilan, Pertanda Gangguan Otak?

KOMPAS.com - Tak jarang di sekitar kita ditemui orang yang terlalu terobsesi dengan penampilan. Sebaik apa pun upaya yang dilakukan, mereka selalu beranggapan penampilan mereka buruk. Entah itu merasa diri terlalu gemuk, kurang cantik, dan sebagainya. Menurut studi terbaru, sifat ini mungkin disebabkan oleh ketidaknormalan koneksi di dalam otak.

Studi ini melibatkan orang-orang dengan gangguan dismorfik tubuh, penyakit mental yang menyebabkan anggapan buruk terhadap penampilan diri sendiri, padahal sebenarnya normal.

Para peneliti asal University of California, Los Angeles (UCLA) menemukan, orang-orang ini memiliki pola jaringan kelistrikan yang abnormal di otak. Studi sebelumnya dari UCLA menunjukkan bahwa orang dengan gangguan ini memproses informasi visual yang tidak normal.

Temuan yang dipublikasi dalam jurnal Neuropsychopharmacology ini menemukan gangguan tersebut disebabkan oleh ketidaknormalan pada hubungan antara daerah otak yang memproses penglihatan dan emosi. Mereka yang mengalami kelainan pun akhirnya memiliki gangguan pengolahan informasi.

Penulis studi Jamie Feusner, yang juga profesor psikiatri mengatakan, ada korelasi kuat antara rendahnya efisiensi koneksi di seluruh otak dan tingkat keparahan gangguan dismorfik tubuh.

"Koneksi otak yang semakin tidak efisien, akan semakin memperburuk gejala, terutama untuk perilaku kompulsif, seperti memeriksa cermin setiap saat," papar Feusner.

Dalam studi ini, para peneliti memindai otak dari 14 orang dewasa dengan gangguan dismorfik tubuh dan 16 orang dewasa tanpa gangguan. Hasilnya ditemukan ketidaknormalan pada orang dengan gangguan dalam hal koneksi antara bagian otak.

"Ketidaknormalan jaringan otak berhubungan dengan bagaimana mereka melihat, merasakan, dan berperilaku," tutur Feusner.

Gangguan dismorfik tubuh terjadi pada sekitar 2 persen penduduk dunia. Mereka bahkan bisa merasa penampilan mereka sangat buruk meskipun hanya sedikit noda saja pada wajah. Mereka bisa merasa begitu putus asa sehingga tidak dapat hidup normal.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 05 Mei 2013

Cara Menyikat Tepat, Gigi Bebas Gangguan

Kompas.com - Yang penting dalam hal pemeliharaan gigi adalah menjaga kebersihan gigi dengan baik sepanjang usia. Salah satu hal yang harus dimulai sejak dini dan dipraktikkan secara konsisten adalah menyikat gigi dua kali sehari dan membersihkan gigi dengan benang gigi.

Supaya bisa membersihkan gigi secara maksimal dan efektif, gosoklah sikat ke belakang dan ke depan secara horizontal, kemudian gosok perbatasan gigi dan gusi dengan sapuan lembut dan pendek secara vertikal.

Menyikat secara vertikal pada gigi bagian depan tidak akan membersihkan gigi dari kotoran. "Kotoran jadi seperti dipingpong antar bagian atas dan bawah, jadinya tidak kemana-mana. Karena itu cara menyikat harus memperhatikan posisi gigi," kata pakar periodonsia dan Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, drg.Yudha Rismanto Sp.Perio, pada konferensi media Solusi Permasalahan Gusi di Jakarta, Kamis (2/5).

Cara menyikat gigi juga harus mampu membersihkan semua deposit pada permukaan gigi dan gusi, terutama saku gusi dan ruang antar gigi (interdental). Permukaan gigi depan atas dan bawah sebaiknya disikat secara vertikal terbuka. Cara ini akan memudahkan kotoran terbuang dari sela gigi.  Metode yang sama juga diterapkan pada permukaan gigi yang menghadap lidah/langit-langit.

Sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap ke pipi  sebaiknya disikat dengan cara atas bawah dalam keadaan mulut tertutup.

Selain posisi dan metode, Yudha juga mengingatkan untuk menyikat gigi secara sistematis. Bila memulai ujung kanan belakang maka harus berakhir pada ujung kiri belakang.

Untuk pemilihan sikat gigi, sesuaikan dengan lebar mulut jangan terlalu besar atau kecil. Sikat gigi dengan bidang besar akan mempersulit pembersihan antar sela dan juga tidak bisa mendeteksi adanya kelainan pada gusi. Sedangkan sikat gigi dengan bidang kecil lebih mudah mendeteksi bila ada kelainan pada gusi atau gigi.

Jangan terlalu kencang

Metode penyikatan yang baik akan menghindarkan gigi dari abrasi. Abrasi atau menipisnya lapisan pelindung biasanya disebabkan penyikatan gigi yang terlalu kencang. "Biasanya orang yang kidal gigi bagian kiri lebih sering ngilu. Begitu juga orang yang lebih sering menggunakan tangan kanan," kata Yudha.

Karena itu Yudha menyarankan untuk tidak terlalu kencang menyikat gigi. Setiap posisi gigi harus menerima tingkat energi yang sama selama penyikatan. Selain tidak terlalu kencang, Yudha juga menyarankan pemilihan pasta gigi yang tepat. Hal ini berhubungan dengan bahan aktif dalam pasta gigi. "Kalau untuk perlindungan gigi pilih yang berfluoride, sedangkan untuk kesehatan gusi pilih yang bersodium karbonate," ujarnya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 08 April 2013

Gangguan Panik, Bisakah Sembuh?

KOMPAS.com -  Sebagai seorang psikiater yang banyak berhubungan dengan pasien yang mengeluh psikosomatik, saya sering mendapatkan beberapa kasus pasien yang berulang kondisinya. Pasien dengan keluhan psikosomatik kebanyakan didasari oleh Gangguan Kecemasan Panik yang sering kali memiliki keluhan fisik yang nyata.

Beberapa pasien bertanya, apakah sebenarnya kondisinya belum baik sepenuhnya, kambuh atau memang tak pernah bisa sembuh? Beberapa contoh kasus di bawah ini mungkin bisa membantu kita memahami lebih jauh apa yang terjadi pada pasien gangguan panik.

Kasus 1

Laki-laki usia 31 tahun dengan keluhan gejala serangan panik berulang saat datang pertama kali berobat. Pasien mengatakan sering merasa tiba-tiba dirinya berada pada kondisi tidak nyaman. Jantung sering dirasakan berdebar dan nafas menjadi pendek. Perasaan tidak enak juga dialami namun kadang sulit dijelaskan maksudnya. Pasien sering kali merasa sulit mengendalikan dirinya pada saat serangan panik datang.

Kondisi ini mengganggu kerja pasien di perusahaan dan akhirnya membuatnya berobat. Saat berobat dan menjalani terapi pasien merasa mengalami perbaikan walaupun tidak sepenuhnya baik. Terapi yang dilakukan kepada pasien dengan menggunakan obat antidepresan golongan SSRI membuat pasien merasa lebih bisa mampu mengontrol keluhan paniknya jika datang, tetapi sebenarnya tidak sama sekali mampu menghilangkan perasaan was-was jika kondisi itu datang lagi.

Psikoterapi suportif juga diberikan kepada pasien saat konsultasi. Pasien kemudian bisa menyelesaikan pengobatannya pada bulan ke-5. Enam bulan kemudian, pasien merasa keluhannya sering kembali dan mulai kesulitan mengontrol pikirannya agar tidak berpikir terlalu jauh tentang penyakitnya tersebut. Pasien merasa dirinya kambuh walaupun gejala-gejala dulu yang dirasakan sebenarnya sudah jauh berkurang saat ini dan kalaupun muncul masih belum membuat pasien kehilangan kendali.

Pasien bertanya apakah dirinya kambuh? Atau kondisi ini memang tidak bisa sepenuhnya hilang?

Kasus 2

Wanita usia 28 tahun dengan keluhan tiba-tiba sering merasa jantungnya berdebar dan sulit mengendalikan diri jika berada di keramaian. Pasien merasa pikiran-pikiran negatif tentang penyakit yang mungkin dideritanya sering kali sulit dikendalikan jika keluhan paniknya datang. Pasien sering kali membuka-buka situs internet yang mengungkapkan keluhan-keluhan yang dianggap mirip dengan keluhan yang dialaminya.

Pikiran akan penyakit jantung atau penyakit yang berat tetap menghantui walaupun sudah berobat ke tiga spesialis jantung berbeda untuk mengkonfirmasi keluhannya. Pasien saat mulai berobat masih mengalam keluhan-keluhan serangan panik yang intens tanpa pemicu yang jelas. Ketika pasien mendapatkan pengobatan dengan obat golongan SNRI, pasien merasa lebih baik. Sayangnya pengobatan dihentikan setelah sebulan memakai obat. Sekitar 3 bulan kemudian pasien datang kembali dengan keluhan-keluhan yang sama dan akhirnya memutuskan untuk berobat secara rutin.

Keluhan-keluhan menghilang walaupun tidak secara keseluruhan setelah pemberian obat kembali. Salah satu hal yang masih mengganggu pasien adalah pikiran-pikiran akan penyakit jantung dan penyakit berat yang akan dialami belum sepenuhnya hilang walaupun gejala-gejala pasien sudah jauh berkurang. Pasien menanyakan apakah keluhannya tersebut dan perasaan tersebut akan benar-benar bisa hilang?

Pembahasan

Saya telah menangani kasus-kasus gangguan panik sejak saya mulai membuka Klinik Psikosomatik di RS OMNI tempat saya bekerja saat ini. Hampir 80 persen kasus yang ditangani oleh kami memang merupakan kasus gangguan psikosomatik dengan dasar gangguan kecemasan panik atau gangguan kecemasan menyeluruh.

Kedua contoh kasus di atas adalah sebagian dari kasus-kasus yang sering kali dialami oleh pasien gangguan panik. Salah satu yang sering ditanyakan meraka adalah apakah sebenarnya keluhan yang mereka alami akan bisa sembuh sempurna. Pasien sering merasa mengapa keluhannya bisa timbul kembali walaupun saran dokter untuk menerapkan pengobatan sampai tuntas telah dilakukan. Gangguan panik adalah gangguan kecemasan yang sering mengalami kekambuhan. Hampir lebih dari 50 persen kasus gangguan cemas panik bisa mengalami keberulangan atau kambuh walaupun diobati secara baik.

Hal ini diakibatkan karena perbedaan faktor struktur dan sistem saraf otak yang berbeda setiap orang. Namun banyak pula yang sembuh sempurna seperti tidak pernah mengalami kondisi panik sama sekali. Kebanyakan keberulangan kasus juga dialami oleh pasien yang memiliki latar belakang kepribadian yang pencemas (termasuk diantaranya kepribadian tipe A, ciri kepribadian obsesif kompulsif).

Saya pernah menulis bahwa salah satu tujuan utama dalam penanganan kasus gangguan panik adalah kemampuan pasien dalam mengendalikan dirinya (self control). Jadi walaupun nanti gejala paniknya datang kembali, pasien mampu untuk dapat mengendalikan dirinya dan melewati kondisi itu dengan baik. Inilah salah satu tujuan terapi selain juga memperbaiki sistem otak pasien dengan menggunakan antidepresan. Pada tujuan akhirnya, pengendalian diri pasien terhadap kondisi tubuh dan pikirannya memegang peranan penting dalam perbaikan gejala gangguan panik.

Salam Sehat Jiwa



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 03 April 2013

Tidur Mendengkur Memicu Gangguan Jantung

Kompas.com —Tidur sampai mendengkur bagi sebagian besar orang bukan dianggap sebagai masalah. Dengkuran bahkan dikaitkan dengan tidur yang nyenyak. Padahal, mendengkur yang disertai henti napas sesaat bisa memicu gangguan kesehatan serius seperti stroke atau penyakit jantung.

Henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA) disebabkan karena tertutupnya jalan napas oleh jaringan di bagian atas hidung dan tenggorokan. Yang meresahkan, henti napas ini bisa terjadi berulang kali selama tidur.

"Henti napas tersebut akan membuat tubuh kekurangan oksigen. Karena tidak ada oksigen biasanya kita akan terbangun mendadak. Tensi darah pun langsung naik. Kondisi tersebut dalam jangka panjang menyebabkan gangguan pada jantung," kata dr Bambang Budi Siswanto, Sp JP dalam acara bertajuk Gangguan Tidur Tingkatkan Risiko Penyakit Kronik di Jakarta (27/3/13). Acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia.

Penurunan kadar oksigen dalam darah secara tajam saat tidur itu bisa memicu gangguan irama jantung serta hipertensi atau peningkatan tekanan darah yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.

"Banyak pasien hipertensi yang terus ditambah dosis obatnya untuk menurunkan tensinya. Dokter terkadang lupa untuk mengecek apakah pasien itu mengalami OSA atau mendengkur saat tidurnya," kata dokter dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, ini.

Hipertensi kronik juga bisa menyebabkan penebalan otot jantung serta pengentalan darah. "Risiko stroke menjadi sangat tinggi," imbuhnya.

Menurut dr Rismawati Tedjasukmana, Sp S, peneliti tidur, sleep apnea bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi sampai lansia. "Pada bayi biasanya disebabkan karena kelainan pertumbuhan rahang. Sedangkan pembesaran amandel pada anak usia sekolah juga akan menyebabkan mengorok," katanya dalam kesempatan yang sama.

Pada orang dewasa, kondisi-kondisi tertentu bisa mengundang sleep apnea, misalnya saja kegemukan. "Peran terbesar pada terjadinya sleep apnea memang berat badan. Tetapi di lain pihak orang yang sleep apnea juga berat badannya lebih mudah naik," imbuh Risma.

Gangguan tidur akan mengganggu keseimbangan hormon-hormon, misalnya saja hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Gangguan hormon insulin juga akan memicu penyakit diabetes.

"Jika kita ngorok artinya napasnya tidak plong. Karena itu harus diterapi agar tidak sampai terjadi komplikasi penyakit," kata Bambang.

Mengurangi berat badan, berhenti merokok, atau tidur dengan posisi miring bisa dilakukan untuk mengurangi dengkuran. Pada kasus yang lebih berat, cara yang efektif untuk mengatasi sleep apnea adalah penggunaan alat khusus untuk memberikan tekanan udara ke saluran napas Anda.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 29 Maret 2013

Air Seni Beraroma Pertanda Gangguan Ginjal?

Sdr Fajrin di Muara Teweh

Sebelum saya menjawab pertanyaan saudara, saya ingin menegaskan di sini, bahwa ginjal adalah bagian penting organ tubuh yang berfungsi membuang sampah-sampah sisa metabolisme, kelebihan cairan tubuh, zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh yang larut dalam air. Bila ginjal kemudian tidak berfungsi, seperti pada gagal ginjal, tubuh secara keseluruhan akan mengalami masalah serius.

Aroma urin bagaimanapun dapat bervariasi, pada umumnya baunya tidak begitu menyengat. Volume cairan yang kita minum, makanan tertentu, obat-obatan, dan Vitamin yang kita konsumsi dapat mempengaruhi warna dan aroma urin kita. Contoh yang paling menonjol adalah setelah kita mengkonsumsi jengkol, baunya sangat menusuk sekali.

Dalam batas-batas tertentu perubahan aroma urin dapat normal-normal saja, serta sementara. Seperti pada kasus saudara, ada aroma kopi setelah saudara meminumnya,  apalagi bila saudara meminumnya dalam jumlah yang banyak, dan saudara relatif hanya sedikit minum air putih, maka aroma kopi ini akan semakin menonjol. Saya juga sering menerima pasien dengan keluhan yang sama dengan yang saudara alami, pemeriksaan laboratorium menunjukkan fungsi ginjalnya tidak ada masalah, dan setelah saya anjurkan untuk minum air putih dalam jumlah yang lebih banyak, aroma itu kemudian hilang.

Kemudian, terlepas dari aroma kopi pada urin Anda, perubahan warna, dan aroma  yang menyolok pada urin dapat merupakan tanda-tanda penyakit tertentu, seperti infeksi saluran kemih, batu ginjal dan salurannya, hepatitis, diabetes yang tidak terkontrol, dan sebagainya.

Karena itu,  sebagai saran saya, sebaiknya saudara menambah asupan air putih, 6-8 gelas setiap hari. Insya Allah aroma kopi itu akan hilang dan itu juga lebih baik untuk menjaga ginjal yang lebih sehat.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 28 Maret 2013

Mengatasi Gangguan Sperma

TANYA :

Prof, saya ingin bertanya tentang kondisi kesuburan saya. Saya sudah menikah selama 4 bulan namun belum juga mendapatkan hasil. Saya juga sudah melakukan pemeriksaan dan konsultasi  dengan dokter dan ternyata jumlah sperma saya hanya sekitar 1 juta, yang seharusnya jumlah normal 40-60 jt. Apakah sel sperma saya ini masih bisa terbentuk lagi dan mencapai jumlah normal? Adakan cara atau terapi dengan suplemen/obat untuk meningkatkan jumlah sel sperma saya? Atau adakah makanan khusus yang perlu saya konsumsi Prof untuk mempercepat pembentukan sel ini?

(Zai, 30, Gunungsitoli)

JAWAB :

Harus dipastikan apakah benar hasil analisis sperma yang Anda dapat itu. Dari laporan Anda, saya pikir ada kesalahan yaitu dalam hal jumlah normal. Seharusnya 20 juta/ml ke atas, bahkan parameter normal sekarang menggunakan 15 juta/ml.

Setelah itu harus dicari apa penyebab gangguan sperma tersebut. Untuk mengatasinya, penyebab tersebut harus diatasi juga. Kalau tidak, maka pengobatan akan gagal.  Penggunaan suplemen, tergantung apa yang terkandung pada suplemen itu.

Tetapi penggunaan suplemen tidak akan ada manfaatnya kalau penyebab gangguan kesuburan tidak ada kaitan dengan suplemen. Misalnya, kalau penyebab gangguan sperma karena varikokel.

Makanan yang khusus untuk meningkatkan jumlah spermtozoa, tidak ada. Saya sarankan Anda melakukan pemeriksaan ulang sperma yang lebih tepat. Anda juga memerlukan pemeriksaan untuk menentukan apa penyebab gangguan kesuburan itu.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 25 Maret 2013

Gangguan Jiwa Pada Penyakit Kronis

KOMPAS.com - Walaupun tidak dapat dihindari, penyakit bisa datang kepada kita semua tanpa kadang bisa dicegah. Terutama sekali adalah penyakit yang sifatnya kronis seperti penyakit kencing manis, jantung, rhematoid atritis atau penyakit ginjal. Saya pernah beberapa kali menulis tentang penyakit ini di kolom kesehatan yang tersedia di Kompasiana ini. Belakangan, kondisi pasien dengan penyakit kronis lebih sering ditemukan di dalam praktek sehari-hari. Pasalnya, gangguan jiwa yang paling ringan sekalipun seperti kecemasan karena penyakitnya atau kesulitan tidur sering menghinggapi pasien dengan penyakit kronik.

Sulit tidur

Kesulitan tidur adalah masalah yang cukup sering dialami pasien yang mengalami masalah penyakit kronik. Pasien dengan gangguan jantung juga rentan mengalami masalah sulit tidur. Beberapa kali saya menemukan kasus insomnia atau sulit tidur pada pasien dengan kondisi pasca prosedur jantung seperti kateterisasi/balonisasi ataupun pemasangan ring.

Sebelum prosedur pengobatan jantung memang pasien mengalami kecemasan karena kondisi jantungnya. Pasien biasanya mengatakan adanya ketegangan sebelum menjalankan prosedur apalagi jika memang pasien memiliki kecenderungan kepribadian yang pencemas. Peningkatan respon saraf otonom dan peningkatan hormon adrenalin sering kali meningkatkan kecemasan pasien yang akhirnya bisa membuatnya mengalami kesulitan tidur menjelang prosedur ataupun sesudahnya. Pada pasien seperti ini, biasanya pengobatan dengan obat anti insomnia golongan non-benzodiazepine seperti Zolpidem bisa membantu.

Pengobatan dengan anticemas memang bisa diberikan jika terdapat kecemasan yang nyata. Belakangan karena potensi ketergantungan dan reaksi putus zat maka obat anticemas golongan benzodiazepine misalnya seperti alprazolam atau clobazam biasanya tidak diberikan dalam jumlah banyak dan lama. Antidepresan SSRI seperti sertraline pada berbagai penelitian baik untuk mengatasi kondisi kecemasan pada pasien jantung.

Depresi

Depresi secara klasik digambarkan dengan wajah (mood) yang sedih, hilangnya minat dan gairah hidup serta ketidakmampuan beraktivitas seperti biasa lagi. Tiga gejala utama itu sering kali juga ditambah dengan gejala-gejala fisik yang terkadang menyerupai gejala penyakit kronik pada beberapa penyakit tertentu. Depresi pada berbagai penyakit kronik adalah suatu hal yang sangat sering terjadi. Angka kejadianya cukup tinggi di kalangan pasien yang mengalami sakit kronik. Penyakit seperti kencing manis (diabetes melitus), gagal ginjal, kanker, penyakit paru kronik adalah sebagian penyakit yang rentan mengalami depresi.

Sayangnya, depresi sering tidak terkenali dengan baik pada penyakit kronik atau dianggap sebagai bagian yang biasa dalam perjalanan penyakit pasien. Padahal depresi yang tidak tertangani dengan baik pada pasien penyakit kronik akan memperberat sakitnya dan menurunkan kualitas hidup. Pengobatan dengan obat antidepresan golongan SSRI seperti Sertraline sangat bermanfaat untuk pasien.

Selain itu, juga edukasi yang baik tentang penyakit pasien baik perjalanan maupun harapan masa depannya akan membantu pasien memahami dan menghilangkan afeksi negatif pasien terhadap kondisi penyakitnya. Pasien diharapkan dapat membantu dirinya sendiri dengan bantuan ahli di bidang kesehatan jiwa seperti psikiater yang memahami masalah medis pasien. Psikoterapi suportif yang bertujuan memperbaiki adaptasi pasien dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting dilakukan selain pengobatan dengan obat antidepresan.

Kenali dan obati segera

Masalah gangguan kejiwaan pada penyakit kronis seringkali terlupakan dalam praktik sehari-hari. Dokter cenderung untuk menganggap gejala gangguan jiwa terutama gejala depresi sebagai bagian yang wajar dalam perjalanan penyakit pasien. Padahal depresi adalah kondisi penyakit medis juga yang membutuhkan pertolongan.

Untuk insomnia, sering kali dokter atau pasien juga menganggap hal ini bersifat sementara. Sering kali pengobatan juga tidak sepenuhnya bisa membantu kalau masalah dasarnya tidak diatasi. Depresi dan kecemasan bisa menjadi latar belakang orang mengalami insomnia. Masalah lain terkait dengan gangguan jiwa pada kondisi medis umum yang kronik adalah ketakutan dalam menggunakan obat psikofarmaka pada pasien.

Obat memang bukan satu-satunya cara pengobatan pada kasus medis kronik namun dengan bekal pengetahuan farmakodinamik dan farmakokinetik obat maka dokter bisa memahami interaksi obat yang mungkin bisa terjadi pada pemakaian obat secara berbarengan. Semoga dengan pengetahuan yang baik tentang aspek kesehatan jiwa pada kondisi medis yang kronik,pasien dengan gangguan medis kronik bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Salam Sehat Jiwa

Glossary :

Antidepresan SSRI : Antidepresan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor, pada beberapa kasus merupakan terapi lini pertama untuk depresi dan atau gangguan kecemasan

Benzodiazepine : Obat anticemas, dikenal masyarakat dengan sebutan obat penenang. Merk terkenal adalah valium (diazepam),xanax (alprazolam)

Kateterisasi : istilah lainnya "balonisasi", proses pembukaan jalan darah atau pembuluh darah di jantung yang terhambat karena proses aterosklerosis (penebalan dinding pembuluh darah oleh plak)

Pemasangan ring : pemasangan stent untuk membuka jalan pembuluh darah lebih besar pada beberapa kasus yang gagal dikateterisasi

Farmakodinamik : mekanisme kerja obat pada tubuh manusia

Farmakokinetik : apa yang terjadi pada obat di tubuh manusia (termasuk membahas masalah efek samping obat dan interaksi obat)



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 23 Maret 2013

Gangguan Gigi Juga Memicu Biduran

Kompas.com - Biduran atau dalam bahasa medis disebut dengan urtikaria selain disebabkan karena alergi pada bahan tertentu, ternyata seringkali dipicu oleh gangguan pada gigi dan mulut.

Biduran adalah penyakit alergi yang ditandai dengan erupsi pada kulit berwarna kemerahan, timbul atau bentol, dan sangat gatal. Biduran bisa timbul di mana saja, termasuk wajah, bibir, lidah, hingga telinga.

Ada berbagai penyebab timbulnya biduran, antara lain reaksi alergi, zat kimia dalam makanan, sengatan serangga, paparan sinar matahari, atau obat-obatan yang memicu pelepasan histamin dalam tubuh. Tetapi terkadang sangat sulit menentukan apa penyebab utama biduran.

Menurut dr.T.Bahdar Johan, spesialis penyakit dalam dari RS Premier Bintaro, Tangerang, cukup banyak penderita biduran yang dipicu oleh masalah gigi.

"Hampir 60 persen pasien yang menderita biduran ternyata memiliki masalah gigi, entah itu tambalan lepas, plak, atau kalkulus," paparnya dalam acara media edukasi menyambut Hari Kesehatan Gigi Sedunia 2013 yang diadakan oleh PT.Unilever Indonesia di Jakarta (18/3/13).

Pengobatan terbaik untuk biduran adalah mengenali dan menghindari pemicunya. Antihistamin juga efektif untuk mengurangi keluhan gatal akibat biduran.

"Pada pasien yang memiliki gangguan gigi akan langsung dirujuk untuk mengobati penyakit giginya," kata Bahdar.



Sumber Kompas



Info Alkes