Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label karena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karena. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Tiap Jam 175 Orang Meninggal karena TB

Sekitar 2.000 orang mengikuti jalan sehat kampanye bahaya tuberkulosis (TB) yang digelar Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta dengan berkeliling jalanan Kota Solo, Minggu (28/3). Mereka mengusung spanduk panjang yang berisi ajakan untuk tenaggap, inovatif, dan responsif terhadap bahaya penyakit tuberkulosis

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit tuberkulosis (TB) sering luput dari perhatian publik. Padahal, penyakit ini termasuk penyebab kematian kedua terbanyak. Setiap jamnya diperkirakan 175 orang meninggal akibat TB.


Data Kementrian Kesehatan menyebutkan, setiap tahunnya terdapat 450 ribu kasus baru. Kondisi tersebut ditambah dengan peningkatkan kasus HIV sehingga memicu peningkatkan infeksi TB-HIV.


"Padahal obat penyakit ini ada, tenaga kesehatannya juga tersedia. Tetapi jumlah korban yang meninggal tetap tinggi," kata Wakil Menteri Kesehatan Prof.Ali Gufron Mukti, dalam acara Kick Off Forum Stop TB Parternship Indonesia, di Jakarta (30/5/13).


Ali menceritakan kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu. "Dari 20 pasien TB, sebanyak 5 orang diantaranya terinfeksi HIV," katanya.


Penyakit TB kerap ditemui pada orang berusia produktif 16-40 tahun. Untuk menekan angka kematian dan kasus baru TB, Kemenkes menargetkan tahun 2050 Indonesia sudah bisa bebas TB.


Untuk mencapai target tersebut menurut Ali pemerintah akan lebih fokus bukan hanya pada pengobatan tapi juga meningkatkan kebersihan lingkungan.


"Kuman TB membutuhkan populasi yang padat dan lingkungan yang kotor untuk bisa berkembang. Karena itu perlu upaya mendorong kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungannya," imbuhnya.


Penelitian mengenai lingkungan tempat kuman TB tumbuh serta pencegahannya juga akan dilakukan. "Setahun ini kami akan melakukan riset, terutama tentang distribusi TB," kata Ketua Forum Stop TB, Arifin Panigoro, dalam kesempatan yang sama.


Arifin mengungkapkan, daerah Indonesia Timur menjadi sasaran untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. "Termasuk tentang kedisiplinan minum obat karena pengobatan TB tidak boleh dihentikan sebelum 6 bulan agar tidak terjadi kebal obat," katanya.




Sumber Kompas




Info Alkes

Rabu, 27 Maret 2013

Jangan Pakai Kawat Gigi karena Alasan Gaya

KOMPAS.com - Melihat orang yang memakai kawat gigi tentu bukan pemandangan langka, apalagi sekarang kawat gigi atau behel sudah dianggap bagian dari mode. Padahal, pemakaian kawat gigi bukan hal main-main.

Tujuan utama dari penggunaan kawat gigi adalah merapikan dan meratakan gigi sehingga gigi lebih mudah dibersihkan dan mampu berfungsi semestinya.

"Kalau memang harus memakai kawat gigi alasan utamanya adalah memperbaiki fungsi gigi. Kalau gigi tidak rata maka makan menjadi tidak enak, sendi rahang rusak, bahkan bisa menyebabkan sering sakit kepala atau nyeri leher," papar drg.Zaura Rini.

Mereka yang direkomendasikan untuk menggunakan kawat gigi adalah orang yang mengalami rahang maju atau mundur, jarak gigi yang satu dengan yang lain jauh, adanya caling (tumbuhnya gigi di atas gigi lain), gigi berjejalan, atau jumlah gigi tidak normal.  

Dokter gigi yang diakrab disapa Rini itu menjelaskan, efek samping dari penggunaan kawat gigi tidak sederhana seperti yang dibayangkan orang.

Pemasangan kawat gigi akan membuat sisa-sisa makanan lebih mudah terkumpul di sela kawat. "Tuhan menciptakan gigi yang licin ada tujuannya, yakni supaya makanan tak mudah nyangkut," papar ketua pengurus besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia ini.

Selain itu, gigi yang berderet di mulut manusia tidak diikat menjadi satu sehingga masing-masing punya kekuatan untuk menguyah makanan.

"Kalau diikat jadi satu seperti ketika memakai kawat gigi, saat ada tekanan tidak akan bisa dipakai maksimal. Malah bisa menyebabkan tekanan pada tulang sehingga akhirnya tulang rusak dan gigi goyang," paparnya.

Ditambahkan oleh drg.Ratu Mirah Afifah, karena makanan di sela-sela kawat gigi lebih sulit dibersihkan, maka akan lebih mudah terjadi penimbunan plak sehingga berisiko karies atau lubang gigi.

"Terkadang kerusakan gigi baru terlihat saat kawat gigi dilepas. Selain itu, pemakaian kawat gigi akan menarik gusi sehingga gigi menjadi lebih sensitif," kata Profesional Relationship Manager Oral Care PT.Unilever Indonesia ini.

Rini menjelaskan bahwa pemasangan kawat gigi bukanlah pekerjaan sederhana. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan gigi yang rapi. Karena itu pasien harus rajin kontrol ke dokter gigi. Biaya yang harus dikeluarkan juga tak sedikit.

"Kalau ingin memakai kawat gigi datangkan ke dokter gigi yang kompeten melakukannya. Kalau bukan pada ahlinya sangat beresiko mengalami komplikasi sehingga biaya menjadi jauh lebih mahal," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes