Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kompas.com - Penyakit diabetes tipe dua pada anak ternyata lebih agresif jika diderita anak-anak ketimbang orang dewasa. Tanda-tanda komplikasi serius juga lebih cepat muncul beberapa tahun setelah didiagnosis.
Penelitian yang dilakukan Dr.Jane Chiang dari American Diabetes Association menunjukkan hal tersebut. Hasil riset tersebut dinilai para pakar sebagai hal yang mengkhawatirkan.
"Jika perburukan penyakit pada anak-anak dengan diabetes tipe dua berlangsung cepat, kita akan melihat dampak buruk dari komplikasi diabetes pada usia yang begitu muda, misalnya penyakit ginjal atau penyakit jantung," kata Chiang.
Riset yang dilakukan Chiang tersebut merupakan studi lanjutan mengenai pilihan terapi untuk penderita diabetes melitus pada anak dan remaja. Para peneliti menggunakan data dari studi tersebut untuk mengetahui faktor yang terkait penyakit ini, misalnya komplikasi.
Penderita diabetes tipe dua memiliki kadar gula darah yang tinggi karena tubuh mereka tidak bisa menggunakan atau menghasilkan insulin, hormon yang diperlukan untuk mengubah gula menjadi energi.
Menurut American Diabetes Associatioon, kegemukan adalah faktor terbesar terjadinya diabetes tipe dua. Jumlah anak-anak yang menderita diabetes tipe dua di AS terus meningkat. Padahal, penyakit ini sebenarnya lebih banyak menyerang orang berusia di atas 40 tahun.
Penelitian yang dilakukan Chiang melibatkan 700 anak penderita diabetes tipe dua yang penyakitnya muncul saat mereka berusia 10-17 tahun. Seluruh partisipan rata-rata berbadan gemuk.
Pada awal dimulainya studi sekitar 12 persen anak menderita hipertensi. Empat tahun kemudian, 34 persen menderita hiperetnsi dan risiko tersebut paling besar dialami anak laki-laki dan bobot badan paling gemuk.
Gejala awal penyakit ginjal, yang disebut microalbuminuria, hampir meningkat tiga kali lipat empat tahun kemudian.
Selain itu, kerusakan sel beta (yang memproduksi insulin), pada anak dan remaja terjadi empat kali lipat lebih tinggi. Anak-anak yang kadar gulanya tinggi juga lebih buruk dalam merespon pengobatan oral sehingga perlu menggunakan insulin.
Dalam tiga tahun, jumlah anak yang membutuhkan obat untuk menurunkan kolesterol jahat meningkat dari 4,5 persen ke 10,7 persen. Perubahan gaya hidup juga tidak banyak berperan menurunkan kolesterol LDL, meski kadar trigliseridanya turun.
Kerusakan pada mata juga ditemukan dalam skala yang sama pada orang dewasa. Sekitar 5 tahun setelah didiagnosis 13,7 persen mengalami gangguan pada mata.
"Kondisi tersebut mengejutkan. Selama ini para dokter merasa sudah melakukan yang terbaik untuk terapi diabetes pada anak tetapi penyakitnya ternyata terus memburuk," kata Dr.Jane Lynch, salah satu peneliti.
Ia menjelaskan, hormon pubertas yang memicu resistensi insulin, mungkin berpengaruh pada terjadinya perburukan penyakit. "Kami belum diketahui apakah perburukan penyakit akan berhenti setelah melewati masa pubertas," katanya.
Karena itu para pakar menekankan pentingnya pencegahan diabetes tipe dua. "Tindakan pencegahan harus dimulai sejak kehamilan dengan cara mencipatkan gaya hidup sehat dan terus dilanjutkan sampai usia sekolah," katanya.
KOMPAS.com — Para ilmuwan terus mengeksplorasi kemampuan tanaman mariyuana alias ganja dalam pengobatan. Studi teranyar menyebutkan, ganja mengandung komponen yang bisa membantu mengontrol gula darah.
Daun ganja juga memiliki kaitan yang kuat dengan berat badan. Selain meningkatkan nafsu makan, daun ganja ternyata bisa membantu seseorang untuk tetap langsing.
Tiga studi terakhir menunjukkan, para pengguna mariyuana mempunyai risiko lebih kecil mengalami kegemukan. Selain itu, mereka juga memiliki risiko diabetes lebih rendah dan nilai indeks massa tubuhnya lebih kecil. Ketiga manfaat tersebut didapatkan meski para pengguna ganja mengasup lebih banyak kalori.
Bagaimana hal tersebut terjadi? Salah satu alasannya adalah karena pengguna mariyuana memiliki metabolisme karbohidrat lebih baik.
"Level insulin puasa mereka juga lebih rendah dan mereka juga memiliki risiko lebih rendah mengalami resistensi insulin (kondisi yang memicu diabetes) akibat kemampuan tubuh mereka dalam menjaga kadar gula darah normal," kata Murray Mittleman, peneliti dari Harvard Medical School.
Penelitian yang dilakukan Mittleman itu meliputi 4.600 pria dan wanita yang berpartisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey antara tahun 2005-2010.
Dari para responden tersebut, 48 persen pernah mengisap mariyuana paling tidak sekali dalam hidup mereka dan 12 persen masih mengisap sampai sekarang.
Para peneliti mengontrol faktor risiko lain yang berpengaruh pada risiko diabetes, seperti usia, jenis kelamin, penggunaan akohol, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik.
Kendati faktor-faktor risiko itu diperhitungkan, para pengguna mariyuana sampai sekarang memiliki level insulin puasa 16 persen lebih rendah dibanding orang yang tidak pernah mengisap atau sudah tidak mengisap lagi. Para pengisap ganja itu juga mendapatkan penurunan kadar resistensi insulin sekitar 17 persen.
Level insulin puasa dan juga kadar resistensi insulin terkait erat dengan terjadinya diabetes tipe dua serta obesitas.
Para pengguna mariyuana ternyata juga memiliki kadar kolesterol baik lebih tinggi, yang bisa melindungi tubuh dari penyakit jantung. Secara umum, mereka juga memiliki lingkar pinggang lebih kecil.
Para peneliti belum memahami dengan jelas kaitan tersebut karena penelitian ini bukanlah studi kontrol. Belum diketahui pula apakah mariyuana atau faktor gaya hidup lain yang dimiliki para responden yang menyebabkan mereka mendapat sejumlah keuntungan kesehatan tersebut.
Salah satu dugaan adalah pengaruh mariyuana pada reseptor tertentu di otak yang berkaitan dengan nafsu makan dan metabolisme.
Tetapi, dengan adanya faktor risiko itu, tidak berarti bahwa Anda otomatis menderita penyakit yang sama. Ada ahli yang mengatakan bahwa faktor genetik itu ibaratkan Anda mempunyai sebuah lilin. Lilin itu tidak akan menyala kalau tidak ada yang memantikkan api ke sumbunya.
Diabetes mellitus tipe 2 juga begitu, faktor genetik yang Anda bawa, tidak akan muncul bila tidak ada faktor pemantik, pencetusnya. Pencetusnya utamanya itu diantaranya adalah obesitas, gaya hidup santai (sedentary life, physical inactivity), dan pola makan tidak sehat, serta merokok.
Besarnya pengaruh gaya hidup terhadap diabetes melitus tipe 2 ini dapat dilihat dari meroketnya kasus diabetes di seluruh dunia. Sehingga, organisasi kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa diabetes mellitus menjadi penyakit epidemik di seantero dunia.Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 4 besar kasus diabetes setelah India, China, Amerika Seriktat dan kemudian Jepang. Pada tahun 2010, International Diabetes Federation memperkirakan 285 juta penduduk Dunia menjadi penyandang Diabetes Melitus, lebih dari 430 juta akan menderita diabetes melitus pada tahun 2030.Meningkatnya kasus DM tipe 2 di negara berkembang termasuk Indonesia seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan perubahan gaya hidup penduduknya. Hal itu pula menjadi bukti yang jelas adanya hubungan gaya hidup dengan diabetes tipe 2. Sebagai contoh, yang pernah diteliti adalah penduduk pulau Nauru di Pasifik. Sampai pada tahun 1950 mata pencarian penduduknya adalah sebagai petani dan nelayan.Diet mereka terutama dari ikan, sayur-sayuran, dan tanaman, buah-buahan yang ada di pulau itu. Pada tahun 1960, industri fosfat berkembang di sana. Setelah itu, pada tahun 1976 penduduk Nauru termasuk yang paling sejahtera di dunia. Seiring dengan itu, kebiasan kerja keras seperti bertani, nelayan mulai menghilang. Mereka yang selama ini biasa berjalan, beralih menggunakan kendaraan bermotor. Makanan impor memenuhi pertokoan, dan peralatan rumah tangga elektrik, sarana hiburan elektronik seperti TV menghiasi setiap rumah.Perubahan gaya hidup yang dramatis akibat industrialisasi dan peningkatan kesejahteraan ini juga membawa dampak yang mencolok terhadap penduduk Nauru ini. Obesitas, diabetes melitus yang sebelumnya jarang ditemukan, sekarang menjadi penyakit yang banyak muncul di antara penduduk Nauru. Akibat obesitas dan kurang aktivitas, sebanyak 34,4 persen populasi Nauru kemudian mengidap diabetes.Penelitian yang dilakukan di China juga demikian, urbanisasi, industrialisasi, kesejahteraan yang meningkat dan perubahan gaya hidup menempatkan China sebagai negara nomor dua terbanyak kejadian penyakit diabetes mellitus di dunia. Indonesia tampaknya juga sama saja, kejadian diabetes mellitus juga meningkat.
Istilah perawat saya, orang di kampung saja sekarang sudah banyak yang menderita DM. Dan, poliklinik penyakit dalam, ruang rawat inap penyakit dalam sekarang juga dipenuhi oleh penyandang DM dengan bermacam komplikasi.
Jadi, bila Anda sekarang menderita DM, kebetulan Anda mewarisi faktor genetik atau keturunan, jangan semata-mata menyalahkan mereka. Gaya hidup andalah yang paling menentukan. Dan, bila Anda tidak ingin seperti orang tua Anda dan khawatir menderita penyakit yang sama, maka mulai sekarang ubahlah gaya hidup Anda!
Kompas.com - Penyakit diabetes melitus memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah timbulnya komplikasi. Karena itu pasien diabetes diharapkan teratur memeriksakan diri demi mengontrol penyakitnya. Di tingkat layanan primer, selain di puskesmas pasien juga bisa memeriksakan penyakitnya ke pusat pembinaan terpadu (pusbindu).
Pusbindu dikelola masyarakat dengan kader yang sudah dilatih dokter. "Pusbindu ini mirip posyandu, fungsinya lebih kepada kontrol usai pengobatan," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Dirjen P2PL Kementrian Kesehatan RI, Dr.Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes pada media briefing Partneship for Diabetes Control in Indonesia, Jumat (3/5).
Pelayanan yang bisa didapatkan pasien di pusbindu antara lain pengecekan kadar gula dan tekanan darah.
Saat ini ada sekitar 5000 pusbindu di seluruh Indonesia. Keberadaan pusbindu diklaim mulai menunjukkan hasil. Menurut data Kementrian Kesehatan saat ini mulai terjadi penurunan tingkat penderita kolesterol tinggi pada 2006 yang mencapai 2,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. dari sebelumnya 7,6 persen pada 2001.
"Kita mentargetkan untuk tahun ini ada 25 ribu kader yang bisa dilatih. Keberadaan pusbindu penting sebagai upaya mawas diri dari penyakit diabetes," ujar Eko.
Pentingnya pusbindu juga ditekankan Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB-Perkeni), Prof.Dr.dr.Pradana Soewondo, SpPD-KEMD. "Terutama untuk cek teratur dan konseling faktor risiko diabetes," ujarnya.
Keberadaan pusbindu semakin penting mengingat banyak pasien yang masih malas memeriksakan diri. Pradana mengatakan 52,2 persen penderita PTM tidak pernah melakukan cek kesehatan, 51,3 persen tidak pernah mengecek tekanan darah, dan 88,8 persen tidak pernah memeriksakan kadar glukosanya.
Keberadaan pusbindu diharapkan memotivasi masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan karena lokasinya yang berada di tengah-tengah masyarakat. Pradana berharap jumlah pusbindu bisa terus ditambah. "Kita berkaca pada posyandu. Saat ini jumlahnya mencapai 220 ribu dan berjasa ikut menurunkan angka kematian bayi. Sebaiknya pusbindu menirunya," kata Pradana.
Kompas.com - Lonjakan jumlah penderita diabetes melitus membuat peran Puskesmas semakin vital, mengingat tidak semua pasien bisa dilayakani di rumah sakit dan dokter spesialis.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes di Indonesia sekitar 8,4 juta orang di tahun 2008. Jumlah tersebut berpotensi naik menjadi 21,3 juta pada tahun 2030.
"Dengan jumlah itu sangat diperlukan aksi puskesmas atau pusat pembinaan terpadu (pusbindu). Terutama untuk penanganan pasien yang sudah selesai pengobatan namun perlu kontrol rutin," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Dirjen P2PL Kementrian Kesehatan RI, Dr.Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes pada media briefing Partneship for Diabetes Control in Indonesia, Jumat (3/5).
Total jumlah puskesmas di Indonesia saat ini sudah ada 9000, sedangkan rumah sakit ada 1.959. Dengan jumlah yang lebih banyak, seharusnya fungsi puskesmas dalam pencegahan dan perawatan diabetes lebih ditingkatkan.
Eko menjelaskan, nantinya akan ada satu puskesmas yang menjadi rujukan pasien penyakit tidak menular. "Puskesmas ini memiliki perlengkapan dan satu dokter umum yang berkapasitas menangangi penyakit tidak menular, salah satunya diabetes," katanya.
Bila ditemukan komplikasi penyakit, dokter di puskesmas akan merujuk pasien pada rumah sakit atau dokter spesialis.
Tahun ini Kementrian Kesehatan menargetkan pelatihan khusus penanggulangan dan pengobatan diabetes terhadap 5000 dokter umum yang bertugas di puskesmas. Selain itu sudah dilatih pula 120 dokter penyakit dalam yang akan melatih sedikitnya 60 dokter umum regional di tempatnya berpraktik.
Menurut Prof.Pradana Soewondo, Sp.PD, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia, mater pelatihan yang diberikan mencakup pengetahuan dasar akan penyakit dan faktor risiko, pengobatan dan komplikasi penyakit, serta cara berkomunikasi dengan pasien.
"Untuk diabetes, dokter puskesmas bisa sampai memberi obat. Kalau sudah suntik insulin harus dengan resep dokter spesialis," kata Pradana.
Peningkatan mutu dokter juga akan dilakukan melalui pendidikan dokter melalui program magang seusai lulus kuliah. "Dalam program ini tiap peserta harus melaporkan sedikitnya satu pasien setiap minggu. Dilaporkan pula kondisi pasien dan terapi yang dilakukan," katanya.
Langkah-langkah tersebut diharapkan akan meningkatkan kapasitas dokter dalam penanganan penyakit.