Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
KOMPAS.com - Reputasi stres sebagai penyebab penyakit memang sudah dikenal lama. Temuan terbaru menyatakan stres yang diakibatkan pekerjaan dapat mengubah cara tubuh mencerna lemak. Kondisi ini dapat memicu peningkatkan kadar kolesterol "jahat" atau low density lipoprotein (LDL) dan menimbulkan risiko penyakit jantung.
Penelitian para ahli di Spanyol menemukan, situasi stres dapat mempengaruhi cara tubuh memetabolisme lemak, yang berakhir pada melonjaknya kadar kolesterol LDL.
Riset para ahli sebelumnya mengatakan, stres emosional berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang merupakan akibat dari kebiasaan tidak sehat seperti merokok, pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan faktor lain.
Namun hasil studi baru ini menunjukkan bahwa stres dapat memicu dislipidemia, yaitu gangguan pengalihan kadar lemak dan lipoprotein dalam darah.
Para peneliti dari Virgen de la Victoria Hospital di Malaga dan Santiago de Compostela University menganalisa hubungan antara stres bekerja dan parameter lainnya yang berhubungan dengan bagaimana asam lemak dimetabolisme oleh tubuh.
Studi yang dipublikasi dalam Scandinavian Journal of Public Health ini melakukan analisa pada sebuah populasi yang terdiri lebih dari 90.000 pekerja yang melakukan pemeriksaan medis.
Salah seorang peneliti Carlos Catalina, yang juga pskilog klinis dan ahli di bidang stres pekerjaan mengatakan, para pekerja yang memiliki kesulitan dalam pekerjaannya selama 12 bulan terakhir memiliki risiko lebih tinggi mengalami dislipidemia. Jumlah peserta yang mengalami stres dalam studi ini adalah sebanyak 8,7 persen.
Dislipidemia mengakibatkan peningkatan kolesterol total dan kadar kolesterol "jahat" dan trigliserida. Selain itu juga mengakibatkan penurunan kadar kolesterol "baik". Studi menemukan risiko displidemia lebih ditemukan pada mereka yang stres bekerja.
Tingginya kadar kolesterol "jahat" dan trigliserida, serta rendahnya kadar kolesterol "baik" meningkatkan risiko membentuk plak pada pembuluh arteri sehingga memicu pengerasan arteri. Pengerasan arteri meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
KOMPAS.com - Stres tidak selalu buruk. Ada juga manfaat yang diperoleh dari kondisi ini. Sebuah studi baru yang dimuat dalam jurnal eLife menunjukkan, stres mungkin dapat mempertajam memori.
Stres kronik telah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan memperlemah imunitas. Namun ternyata, stres juga meningkatkan performa dari otak, khususnya kemampuan mengingat. Dengan catatan, stres terjadi dalam jangka waktu pendek.
Studi yang dilakukan pada tikus menemukan hasil yang signifikan. Stres menyebabkan sel punca yang ada di otak tikus berubah menjadi sel-sel saraf baru. Sel-sel tersebut akan menjadi dewasa dua minggu kemudian, sehingga meningkatkan performa otak.
"Mungkin Anda selalu berpikir stres adalah hal yang buruk, namun ternyata tidak juga," ujar Daniela Kaufer, profesor biologi integratif dari University of California Amerika Serikat.
Ia mengatakan, stres dalam kadar tertentu baik untuk membentuk tingkat kesadaran, perilaku, dan kemampuan kognitif yang optimal. "Saat stres, mungkin otak akan lebih waspada sehingga membuat Anda bertindak lebih baik," paparnya.
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan stres kronik akan meningkatkan produksi kortisol, hormon stres, yang dapat menekan produksi sel saraf baru di otak, sehingga memperburuk ingatan. Peningkatan hormon stres juga dikaitkan dengan risiko obesitas, penyakit jantung, dan depresi.
Hanya saja, kata Kaufer, efek dari stres akut mungkin masih belum banyak diketahui, sehingga hasil dari studi-studi tersebut masih rancu.
Untuk memecah kerancuan ini, para peneliti menggunaan tikus sebagai hewan percobaan. Tikus-tikus dibuat stres dengan mengurungnya di kandang selama beberapa jam. Hal ini akan memicu tikus memproduksi hormon stres yang setara dengan mereka yang mengalami stres kronik, meskipun hanya selama beberapa jam.
Hasilnya, terjadi pembelahan ganda sel otak dalam bagian otak yakni wilayah hippocampus. Para peneliti juga menemukan bahwa tikus yang stres memiliki kemampuan mengingat yang lebih baik setelah dua minggu.
Para peneliti mengatakan, efek yang diperoleh dari stres memang tidak langsung, melainkan membutuhkan waktu setidaknya dua minggu. Dalam waktu ini, sel saraf membutuhkan waktu untuk pendewasaan.
Kendati demikian, para peneliti mencatat, stres yang akut dan intens dapat berbahaya karena akan membuat trauma setelahnya.
"Namun ada pesan positif yang dapat diambil, yaitu stres bisa membuat Anda lebih baik, asalkan dengan kadar dan lama yang tepat. Serta, bagaimana Anda mengartikan dan memahaminya," tandas Kaufer.
Kompas.com - Berbagai kajian menunjukkan manfaat musik untuk meningkatkan kekebalan tubuh sampai pengobatan penyakit. Analisa terbaru terhadap lebih dari 400 laporan ilmiah bahkan menyebutkan musik mungkin lebih baik dibanding obat untuk beberapa jenis penyakit.
Studi yang diketuai oleh Profesor Daniel K. Levitin dari Departemen Psikologi McGill University menganalisa ratusan studi mengenai bagaimana pengaruh musik dalam tubuh. Secara garis besar ada dua area yang mendapat manfaat besar dari musik, yaitu sistem imun dan keadaan mental dalam mengurangi stres.
"Kami menemukan bukti yang kuat bahwa intervensi musik memiliki peran penting untuk kesehatan, mulai dari kamar operasi sampai klinik keluarga," ujar Levitin.
Namun yang lebih penting, lanjut Levitin, telah ditemukan mekanisme neurokimia yang dipengaruhi musik memberikan efek terbesar untuk 4 hal, yaitu manajemen mood, stres, imunitas, dan ikatan sosial.
Berikut beberapa kesimpulan dari telaah:
- Mendengarkan musik jauh lebih baik ketimbang obat untuk mengurangi stres sebelum operasi.
- Orang yang mendengarkan musik memiliki kenaikan tingkat imunoglobulin A, yaitu antibodi yang ada pada jaringan mukosa dan membantu mencegah infeksi.
- Orang yang mendengar musik memiliki jumlah sel imun yang disebut sebagai "pembunuh sel alami" lebih banyak. Sel imun tersebut berguna untuk melawan bakteri, sel infeksi, dan sel kanker.
- Mendengarkan musik dapat mengurangi kadar kortisol pada tubuh. Kortisol merupakan hormon stres yang memiliki banyak efek psikologis negatif dan dapat memicu obesitas.