Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Vaksin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaksin. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Uji Coba Vaksin HIV Dimulai di London

KOMPAS.com — Upaya terbaru untuk menemukan vaksin untuk mencegah HIV dimulai di laboratorium di rumah sakit London, Inggris, serta dua pusat riset di Afrika. Para ilmuwan merekrut 64 orang dewasa yang sehat dalam penelitian yang diharapkan selesai dalam dua tahun.

Percobaan awal vaksin ini dilakukan oleh International AIDS Vaccine Initiative (IAVI), sebuah organisasi nonprofit. Penelitian akan dibagi dua antara di London, ibu kota Rwanda, Kigali, serta Nairobi di Kenya. Afrika merupakan benua dengan epidemi HIV tertinggi.

Virus HIV sudah ditemukan sejak 30 tahun lalu, tetapi penelitian untuk menemukan vaksinnya sejauh ini belum ada yang memuaskan. Penelitian yang dilakukan tim dari Amerika Serikat di Thailand pada tahun 2009 menemukan kombinasi dua vaksin prototipe 30 persen efektif mencegah infeksi HIV. Penelitian lanjutan sedang disiapkan untuk meningkatkan hasil tersebut.

Dalam uji coba yang dilakukan tim dari IAVI, para relawan yang bebas dari HIV dan tidak berisiko tertular infeksi itu akan mendapatkan kombinasi dari dua vaksin. Salah satunya diambil dari virus penyebab penyakit mirip flu yang menginfeksi tikus. Vaksin ini diberikan lewat obat tetes di hidung sehingga tak dibutuhkan jarum suntik.

"Saya percaya kita memiliki vaksin yang efektif karena data ilmiah mendukung hal tersebut. Kita akan sampai ke sana, tetapi perkembangan vaksin memang butuh waktu," kata Dr Jill Gilmour, ketua penelitian ini.

Ia mencontohkan vaksin polio yang baru ditemukan 45 tahun setelah virusnya dikenali.

"HIV adalah lawan yang tangguh dan licik. Ia selalu berubah setiap kali terbagi sehingga variabelnya banyak. Virus ini juga bisa bergabung dengan sel kita sendiri sehingga sistem imun tubuh tidak mengenalinya," katanya.

Nantinya, jika vaksin yang diuji coba ini memberikan respons imun yang kuat, akan segera dilakukan pengujian berskala besar untuk melihat apakah vaksin efektif dalam mengurangi penularan atau menurunkan jumlah virus.

"Virus yang dipakai sudah dimodifikasi dari virus yang menulari hewan pengerat. Dari perspektif kami, ini adalah bonus karena virus itu sudah tinggal dalam lingkungan manusia tanpa menyebabkan gangguan," katanya.

Laboratorium IAVI di Chelsea dan Westminster Inggris sudah menangani lebih dari 100.000 contoh darah setiap tahunnya dan membantu lebih dari 20 uji coba vaksin.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 27 Mei 2013

Mengapa Orang Dewasa Wajib Vaksin?

KOMPAS.com — Vaksinasi tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak. Orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun pun sebaiknya mendapatkan vaksin agar terhindar dari penularan beragam jenis penyakit.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI menyatakan, ada beberapa alasan mengapa kaum dewasa kini juga memerlukan vaksin sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan orang dewasa perlu mendapatkan vaksin, yaitu faktor daya tahan, faktor pembuat tekanan (stresor), asupan gizi, dan gaya hidup.

"Apalagi kondisi lingkungan saat ini berpotensi negatif pada daya tahan tubuh," kata Samsuridjal pada media briefing "Imunisasi Orang Dewasa", Rabu (22/5/2013) di Jakarta.

Faktor gaya hidup yang tidak sehat, asupan gizi tidak seimbang, dan stres, menurut Samsu, dapat menimbulkan efek secara langsung terhadap daya tahan tubuh. Kebiasaan buruk seperti merokok dan kurang olahraga secara perlahan akan menurunkan imunitas tubuh, demikian pula halnya dengan pola makan yang tidak seimbang. 

"Kelebihan atau kekurangan gizi sama saja. Orang yang menderita diabetes, jantung, atau penyakit kronik lainnya lebih berpotensi terkena penyakit pneumonia atau influenza, apalagi yang tidak divaksin," kata Samsu.

Faktor stres, menurut Samsu, juga menjadi penting dalam memicu penyakit. Tekanan dari berbagai lingkungan akan menimbulkan beban psikologis. Stres yang tidak dikelola dengan baik akan berefek pada kesehatan fisik, misal kelebihan atau kekurangan makan, tidak bisa istirahat, dan enggan beraktivitas. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun dan penderita akhirnya tidak mampu melakukan aktivitas keseharian.

Seiring bertambahnya usia, kata Samsuridjal, daya tahan tubuh terhadap penyakit pun cenderung menurun. Saat ini lebih kurang 10 persen masyarakat Indonesia berusia lanjut. Usia ini wajib mendapatkan imunisasi, jika ingin memiliki hidup yang lebih berkualitas. "Semakin dewasa, kekebalan tubuh makin menurun. Jadi, pemahaman masyarakat selama ini harus diluruskan," kata Samsuridjal.

Pentingnya imunisasi pada orang dewasa juga diungkapkan anggota Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Iris Rengganis, SpPD. Menurutnya, pemberian vaksin akan memberi perlindungan hingga 80 persen pada setiap individu.

Vaksin juga memberi perlindungan komunitas bila tercapai kondisi herd immunity. Iris menjelaskan, herd immunity adalah ketika 80 persen dari anggota populasi sudah divaksin. Kondisi ini menghindarkan sebagian besar anggota populasi dari penularan penyakit 20 persen anggota lainnya. Dengan pertahanan yang sudah diperoleh melalui vaksinasi, penyakit pada populasi bisa dicegah menyebar lebih luas.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 26 Mei 2013

HPV dan Hepatitis B, Vaksin yang Diperlukan Sebelum Nikah

KOMPAS.com  Pasangan yang akan menikah disarankan untuk melakukan vaksinasi human papiloma virus (HPV) dan hepatitis B. Kedua vaksin ini akan membentengi diri dari penyakit hepatitis B dan kanker serviks pada wanita.

"Sedapat mungkin harus suntik. Tidak hanya untuk diri sendiri, perlindungan juga diberikan kepada pasangan," kata Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr dr Iris Rengganis, Sp PD, K-AI, Finasim, pada media briefing Imunisasi pada Orang Dewasa di Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Penyakit HPV menular lewat hubungan seksual dan menginfeksi daerah dubur dan alat kelamin pada pria maupun wanita. Saat ini, terdapat 130 tipe HPV yang berhasil diindentifikasi dengan 12 tipe berisiko mengakibatkan keganasan. Wanita usia 20 sampai 24 tahun dan pria berusia 25 hingga 29 tahun menjadi sasaran utama HPV, apalagi bagi yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual dan merokok.

Vaksin HPV terdiri atas quadrivalen untuk tipe 6, 11, 16, 18, serta bivalen untuk 16 dan 18. Vaksin ini diberikan tiga kali selama enam bulan dengan vaksin kedua berjarak satu bulan untuk bivalen dan dua bulan untuk quadrivalen.

Sementara penyakit Hepatitis B menular lewat transfusi darah, hubungan seksual, dan penggunaan barang pribadi bersama. Penyakit ini disebabkan virus dan menyerang lever. Vaksin hepatitis B diberikan tiga kali dengan jarak satu dan enam bulan. Dua dosis pertama untuk membentuk antibodi dan yang ketiga untuk meningkatkan kadar antibodi.

Jangan lupa tetanus

Selain vaksin HPV dan hepatitis B,  Iris juga mengingatkan pentingnya untuk melakukan vaksinasi tetanus. Jenis vaksin ini melindungi diri dari bakteri Clostridium tetanii, yang masuk melalui luka. Kuman ini menyebar lewat aliran darah dan menyebabkan kejang.

"Pertama dilakukan sebelum menikah, lalu yang kedua saat trimester pertama kehamilan," kata anggota Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr Dirga Sakti Rambe, M Sc-VPCD.

Dengan dua kali suntikan, perlindungannya bertahan selama 10 tahun. Vaksin tetanus melindungi pasangan dari kemungkinan tertular kuman ketika berhubungan seksual. Vaksin juga melindungi wanita saat proses melahirkan. Vaksin tetanus sebetulnya memiliki lima seri penyuntikan, yaitu saat bayi, usia sekolah (SD), wanita usia subur, sebelum menikah, dan saat trimester pertama. Dengan lima kali penyuntikan, perlindungan akan bertahan 25 tahun.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 25 Mei 2013

Beberapa Vaksin Boleh Digunakan Sekaligus

KOMPAS.com - Banyaknya jenis vaksin tak jarang membuat menjadi masyarakat bingung. Padahal, beberapa vaksin sebenarnya dapat diberikan sekaligus. Pemberian beberapa vaksin sekaligus selain menghemat waktu juga dapat mempermudah pasien.  Syarat-syarat apa sebenarnya yang membuat vaksin dapat diberikan atau digunakan kepada pasien secara sekaligus?

"Tentunya harus diperhatikan, apakah yang diberikan vaksin hidup atau mati, dan lokasi penyuntikan (pada tubuh)," kata Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) , Dr.dr.Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, FINASIM pada media briefing Imunisasi pada Orang Dewasa di Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Vaksin hidup, menurut Iris, harus diberikan secara bersamaan. Contoh vaksin hidup di antaranya adalah campak, gondong, rubella (MMR), cacar air, dan polio oral.

Pemberian vaksin hidup secara terpisah, kata Iris, dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan antibodi. Kalaupun terpisah, Iris menyarankan adanya jarak waktu 28 hari.

Vaksin hidup sebetulnya berasal dari kuman yang dilemahkan, namun mampu menimbulkan respon imun. Vaksin ini dapat berasal dari keseluruhan atau sebagian organisme.  Sedangkan vaksin mati, menurut Iris bisa diberikan kapan saja.

"Selain MMR, varicella, dan polio oral, umumnya merupakan jenis vaksin mati. Vaksin mati bisa diberikan bersamaan atau selang sehari," kata Iris.

Hal ini dikarenakan respon vaksin mati lebih lemah, dan biasanya memerlukan suntik berulang.

Vaksin mati dibedakan menjadi 3 jenis. Pertama, disebut vaksin subunit yang berasal dari bagian organisme, misalnya kapsul bakteri Pneumonia. Kedua disebut vaksin toksoid, yang terbuat dari racun bakteri.  Vaksin ini tidak beracun dan merangsang pembuatan antibodi, misalnya vaksin tetanus dan difteri. Ketiga disebut vaksin konjugat, yang dicampur polisakarida murni. Vaksin ini tidak disarankan untuk usia di bawah 2 tahun, karena daya tahannya yang kurang maksimal.

Lokasi penyuntikan untuk vaksin multipel, lanjut Iris,  harus berbeda. Jika suntikan diberikan pada lokasi yang sama, misal lengan atau tungkai, harus berbeda 1 sampai 2 inchi. Hal ini untuk membedakan reaksi lokal yang terjadi.

"Misalnya kalau ada bengkak atau ruam, akan diketahui dari suntikan yang mana. Selanjutnya pastikan vaksin tidak dicampur pada suntikan yang sama," kata Iris.



Sumber Kompas



Info Alkes