Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Tuberkulosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuberkulosis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Tuberkulosis Kebal Obat Jadi Fokus Perhatian

Jakarta, Kompas - Tuberkulosis kebal obat-obatan menjadi prioritas dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia. Panduan penanganan pengobatan tuberkulosis terus disosialisasikan agar kepedulian masyarakat meningkat.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan hal itu seusai membuka Simposium Peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia, Sabtu (30/3), di Jakarta. Tuberkulosis kebal obat-obatan (multidrug resistant tuberculosis/MDR TB) disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang kebal terhadap minimal dua obat anti-TB isoniazid (INH) dan rifampicin (RMP).

Selain MDR TB, pemerintah memberi prioritas pada TB-HIV. Berdasarkan data WHO Global Report 2012, Indonesia berada di peringkat ke-9 dari 27 negara dengan beban MDR TB terbanyak di dunia. Diperkirakan pasien MDR TB di Indonesia mencapai 6.620 orang. Rinciannya, MDR TB di antara TB kasus baru 5.700 kasus dan MDR TB di antara kasus TB yang pernah mendapat pengobatan 920 kasus.

Kepala Perwakilan WHO Indonesia Khancit Limpakarnjanarat mengatakan, saat ini perhatian terhadap penanganan tuberkulosis di dunia fokus pada MDR TB. Hal yang menggembirakan, sudah ada laboratorium untuk pemeriksaan kultur sekaligus melaksanakan uji kepekaan obat anti-TB lini pertama dan kedua.

”Di Indonesia sudah ada di beberapa provinsi. Harapannya penanganan MDR TB ke depan semakin baik,” katanya. Laboratorium tersebut adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, Laboratorium Mikrobiologi FKUI, Laboratorium Mikrobiologi RS Persahabatan Jakarta, Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Jawa Barat, dan Laboratorium NHCR-Universitas Hasanuddin, Makassar.

Direktur Utama RS Persahabatan Syahril Mansyur mengatakan, MDR TB sulit dideteksi karena harus melalui uji sensitivitas. Kesulitan kedua terletak pada pengobatan. ”Kalau pengobatan TB perlu waktu selama enam bulan, MDR TB perlu waktu 18-24 bulan,” kata Syahril.

Selain RS Persahabatan, ada delapan RS yang menjadi rujukan MDR TB, yaitu RSU dr Soetomo, RSUD dr Saiful Anwar, RSUD dr Moewardi, RS Labuang Baji, RS Hasan Sadikin, RSUP Adam Malik, RS Sanglah, dan RSUP dr Sardjito.

Hingga tahun 2012, tercatat terjaring 4.297 suspek MDR TB dengan 1.005 pasien MDR TB. Sebanyak 825 pasien sudah menjalani pengobatan. Angka keberhasilan pengobatan pada pasien MDR TB 71 persen.

Sosialisasi panduan

Tjandra mengatakan, panduan penanganan pengobatan TB sudah ada. Pihaknya berupaya agar panduan itu disosialisasikan. ”Melalui acara yang mengundang petugas kesehatan sebanyak 1.200 orang ini diharapkan panduan diketahui dengan baik dan benar. Harapannya, mereka yang sebagian datang dari daerah menyebarkan di daerah masing-masing,” kata Tjandra.

Dia menegaskan, hal yang sangat penting dalam penanganan TB MDR adalah bagaimana pasien TB sejak awal minum obat yang diberikan dengan benar. ”Pasien TB harus minum obat sampai penyakitnya sembuh dan tidak menulari orang lain sehingga tidak terjadi MDR TB dengan segala masalahnya,” kata Tjandra.

Menurut Untung Suseno, Ketua Country Coordinating Mechanism (tim yang mengelola dana bantuan global), dana yang dialokasikan untuk penanganan TB di Indonesia saat ini 90 juta dollar AS. Tahun 2014-2016 jumlahnya 75 juta dollar AS. ”Bantuan yang diberikan makin lama makin kecil disesuaikan kemampuan Indonesia dengan ekonomi yang makin baik sehingga peran pemerintah pun semakin besar,” kata Untung. (DOE)



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 01 April 2013

Inovasi Atasi Tuberkulosis

Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap 24 Maret baru saja berlalu. Tidak banyak ulasan media meskipun Kementerian Kesehatan menyelenggarakan lomba gerak jalan yang melibatkan beberapa pejabat pula. Gaungnya tertutup drama Cebongan dan isu kudeta yang ditanggapi berlebihan.


Terlepas dari pilihan acara peringatan yang kurang ”seksi”, tuberkulosis memang sering luput dari perhatian publik. Padahal, Indonesia adalah negara kelima dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2010 menunjukkan, estimasi prevalensi adalah 660.000 dengan 61.000 kematian per tahun.


Dalam Terobosan Menuju Akses Universal: Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014 (Kementerian Kesehatan, 2011) disebutkan, Indonesia merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV tertinggi di antara negara-negara Asia. Inilah yang turut memicu peningkatan kasus tuberkulosis—dikenal juga sebagai TB—di Tanah Air. Prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2,8 persen.


Meski demikian, Indonesia merupakan negara pertama di antara high burden country di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada 2006. Tahun 2009 ada 294.732 kasus TB ditemukan dan diobati.


Dengan demikian, rata-rata pencapaian keberhasilan pengobatan selama empat tahun terakhir adalah 90 persen. Inilah tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional, yang baru saja mendapat penghargaan di Washington DC, Amerika Serikat. Global Health USAID yang menyerahkan penghargaan tersebut menilai, Indonesia tidak hanya mencapai kemajuan dalam pengendalian TB, tetapi juga menjadi pelopor penerapan strategi yang inovatif dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan.


Riwayat TB


Peringatan Hari Tuberkulosis berpijak pada keberhasilan mikrobiolog Jerman Robert Koch mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis sebagai kuman penyebab infeksi TB. Koch mengumumkan temuan itu pada 24 Maret 1882 setelah berhasil menumbuhkan koloni TB di laboratorium untuk pertama kalinya. Kumpulan kuman biru itu berbuah Nobel tahun 1905.


Meskipun baru dikenali 131 tahun lalu, sebenarnya penyakit tuberkulosis sudah ada seiring peradaban manusia. Kehadiran kuman ini ditemukan pada tulang belakang mumi Mesir berusia ribuan tahun yang kini disimpan di British Museum, London. TB juga menjadi penyakit umum pada zaman kekaisaran Romawi dan Yunani kuno.


Sejak itulah upaya ilmiah untuk mengatasi TB terus berlangsung. Temuan kuman TB diikuti dengan pengembangan obat dan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) yang efektif mencegah penularan. Meski angka kasus sempat menurun signifikan, kehadiran human immunodeficiency virus (HIV) yang menurunkan sistem kekebalan tubuh meningkatkan kembali penularan TB. Di Indonesia, sebagai contoh, TB menjadi pembunuh utama orang dengan HIV/AIDS.


Kondisi tersebut, ditambah dengan meningkatnya strain kuman yang resistan terhadap obat, membuat TB masih menjadi penyakit infeksi utama yang banyak membunuh umat manusia sampai hari ini.


Tidak tepat dan tidak taat


Prof Dr Samsuridjal Djauzi dalam kolom kesehatan di Kompas (1 April 2012) mengingatkan, resistansi obat terjadi akibat terapi yang tidak tepat dan ketaatan pasien yang rendah. Hal ini karena pengobatan TB baru tuntas setelah enam bulan, dan dalam banyak kasus pasien berhenti sebelum waktunya karena merasa sudah sehat.


Dampaknya adalah multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB), yang berarti kuman sudah kebal terhadap dua obat lini pertama TB, yaitu rifampicin dan isoniazid. MDR-TB tentu saja memerlukan pengobatan yang lebih canggih dan dalam jangka waktu yang panjang sehingga lebih mahal biayanya.


Tantangan ini diakui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP (K) MARS DTM&H DTCE. Menurut Tjandra, meningkatnya koinfeksi TB-HIV dan kasus MDR-TB membuat jumlah pasien TB dan kematian akibat TB masih cukup banyak di Indonesia.


Karena itu, Kementerian Kesehatan mengupayakan sejumlah program TB, mulai dari penyertaan pengetahuan dan penatalaksanaan TB dalam proses akreditasi rumah sakit dan surat izin praktik dokter hingga bekerja sama dengan asuransi kesehatan dalam penerapan standar pengobatan TB dengan directly observed treatment short-course (DOTS) bagi seluruh pasien TB.


DOTS adalah metode pengawasan untuk meningkatkan ketaatan pasien menuntaskan pengobatan. Di puskesmas, misalnya, pasien TB wajib minum obat di depan petugas kesehatan.


Inovasi insentif


Di wilayah Serang dan Pandeglang, keduanya di Provinsi Banten, bahkan ada strategi yang layak diterapkan secara nasional. Nurul Agustina, antropolog kesehatan yang tengah melakukan penelitian etnografis untuk Program Initiatives for Maternal Mortality Program Assessment pada tahun 2005-2006, menyaksikan ada program menukar ongkos dengan beras untuk pasien TB di salah satu puskesmas.


”Setiap pasien yang datang mengambil obat mendapat 5 kilogram beras per bulan. Artinya, jika dalam satu keluarga ada tiga pasien TB, mereka akan menerima 15 kilogram beras.” ujar Nurul.


Ini sungguh suatu inovasi yang berdampak ganda: menyembuhkan TB sekaligus memperbaiki gizi keluarga yang pada gilirannya akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit pada keluarga miskin.


Tentu saja inovasi tidak harus berupa barter beras. Lokasi puskesmas yang sering tidak mudah diakses pasien dari pelosok mungkin bisa diatasi dengan upaya ”jemput bola”: petugas yang berkeliling membagikan obat.


Sanggupkah kita?




Sumber Kompas




Info Alkes