Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Pasien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasien. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

Pasien Stroke "Membaik" Usai Disuntik Sel Punca

KOMPAS.com - Lima dari sembilan pasien yang menderita stroke menunjukan sedikit pemulihan menyusul dilakukannya injeksi sel punca ke dalam otak mereka.

Keith Muir, profesor dari Glasgow University, yang merawat mereka, menyatakan terkejut dengan pemulihan yang terjadi dalam skala kecil hingga menengah itu.

Namun dia menegaskan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pemulihan tersebut disebabkan oleh perawatan yang mereka lakukan.

Pasalnya, perasaan 'sembuh' sementara akibat perhatian klinis, atau semacam efek placebo, dapat dialami oleh pasien.

"Tampaknya aneh bahwa itu semua hanya kebetulan saja dan efek placebo," kata Muir kepada BBC News.

"Kami melihat hal ini sebagai kasus yang menarik dan agak mengejutkan. Kami telah melihat pasien kini memiliki kemampuan untuk menggerakkan jari mereka, padahal sebelumnya mereka telah menderita kelumpuhan total," kata Muir.

"Kami melihat beberapa orang telah mampu berjalan di sekitar rumah mereka padahal sebelumnya mereka sangat tergantung pada bantuan orang lain, dan pasien juga mengalami pemulihan yang memungkinkan mereka untuk mengenali apa yang terjadi di sekitar mereka."

Jalan panjang

Sembilan pasien sebelumnya menjalani perawatan percobaan klinis untuk menilai keamanan prosedur penyuntikan sel punca pada bagian otak yang rusak. Ini adalah salah satu percobaan pertama di dunia untuk menguji penggunaan sel punca pada pasien.

Hasil penemuan rencananya dipresentasikan pada European Stroke Conference di London.

Mengomentari penelitian itu, Clare Walton dari Asosiasi Stroke mengatakan: "Penggunaan sel punca adalah teknik menjanjikan yang bisa membantu membalikkan beberapa efek melumpuhkan akibat stroke. Kami sangat gembira tentang uji coba ini."

"Namun ini adalah awal dari jalan yang sangat panjang, dan pengembangan signifikan lebih lanjut diperlukan sebelum terapi sel punca dapat dianggap sebagai pengobatan yang mungkin."

Sel-sel induk diciptakan 10 tahun yang lalu dari salah satu sampel dari jaringan saraf yang diambil dari janin. Perusahaan yang memproduksi sel-sel induk, Reneuron, mampu memproduksi sebanyak apapun sel punca yang dibutuhkan dari sampel asli.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 07 Mei 2013

Pasien Bisa Kontrol Diabetes di Pusbindu

Kompas.com - Penyakit diabetes melitus memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah timbulnya komplikasi. Karena itu pasien diabetes diharapkan teratur memeriksakan diri demi mengontrol penyakitnya. Di tingkat layanan primer, selain di puskesmas pasien juga bisa memeriksakan penyakitnya ke pusat pembinaan terpadu (pusbindu).

Pusbindu dikelola masyarakat dengan kader yang sudah dilatih dokter. "Pusbindu ini mirip posyandu, fungsinya lebih kepada kontrol usai pengobatan," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Dirjen P2PL Kementrian Kesehatan RI, Dr.Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes pada media briefing Partneship for Diabetes Control in Indonesia, Jumat (3/5).

Pelayanan yang bisa didapatkan pasien di pusbindu antara lain pengecekan kadar gula dan tekanan darah. 

Saat ini ada sekitar 5000 pusbindu di seluruh Indonesia. Keberadaan pusbindu diklaim mulai menunjukkan hasil. Menurut data Kementrian Kesehatan saat ini mulai terjadi penurunan tingkat penderita kolesterol tinggi pada 2006 yang mencapai 2,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. dari sebelumnya 7,6 persen pada 2001.

"Kita mentargetkan untuk tahun ini ada 25 ribu kader yang bisa dilatih. Keberadaan pusbindu penting sebagai upaya mawas diri dari penyakit diabetes," ujar Eko.

Pentingnya pusbindu juga ditekankan Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB-Perkeni), Prof.Dr.dr.Pradana Soewondo, SpPD-KEMD. "Terutama untuk cek teratur dan konseling faktor risiko diabetes," ujarnya.

Keberadaan pusbindu semakin penting mengingat banyak pasien yang masih malas memeriksakan diri. Pradana mengatakan 52,2 persen penderita PTM tidak pernah melakukan cek kesehatan, 51,3 persen tidak pernah mengecek tekanan darah, dan 88,8 persen tidak pernah memeriksakan kadar glukosanya.

Keberadaan pusbindu diharapkan memotivasi masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan karena lokasinya yang berada di tengah-tengah masyarakat. Pradana berharap jumlah pusbindu bisa terus ditambah. "Kita berkaca pada posyandu. Saat ini jumlahnya mencapai 220 ribu dan berjasa ikut menurunkan angka kematian bayi. Sebaiknya pusbindu menirunya," kata Pradana.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 29 April 2013

Mengapa Pasien Bisa Tersadar di Meja Operasi?

Kompas.com - Meskipun sangat jarang terjadi, tetapi seorang pasien yang sudah mendapatkan anestesi bisa terbangun saat dokter sedang melakukan pembedahan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tiba-tiba tersadar saat di meja operasi disebut juga dengan "kesadaran selama pembiusan". Hal ini hanya terjadi pada sekitar 1-2 kali untuk setiap 1.000 penggunaan obat bius. Seorang pasien disebut mengalami kesadaran ketika mereka bisa mengingat dengan benar kejadian yang dialaminya di meja operasi.

Tersadar saat berada di meja operasi lebih banyak dialami pasien yang menjalani operasi jantung, operasi caesar, atau kondisi yang disebabkan trauma. Pada operasi tersebut biasanya dokter tidak memberikan obat dengan dosis yang biasa karena lebih mengutamakan keselamatan pasien.

Kesadaran selama pembiusan bisa terjadi karena peralatan yang dipakai tidak berfungsi atau karena pasien memiliki metabolisme tinggi untuk memecah obat bius lebih cepat dari biasanya.

Walaupun dalam kondisi "sadar" namun kebanyakan pasien tidak merasakan sakit selama mengalami kesadaran saat dioperasi. Meski begitu hal itu bisa menimbulkan trauma dan kecemasan sesudahnya.

Menurut Dr.Morris Brown, kepala bagian anestesi di Henry Ford Hospital, Michigan, AS, mengatakan, tujuan utama pembiusan adalah membuat pasien bebas dari sakit dan stres selama tindakan operasi.

"Jika pasien justru menjadi sadar dan bisa mengingat meski di bawah pengaruh obat bius, maka itu akan menyebabkan gangguan trauma," kata Brown.

Ia menambahkan, pasien tak perlu terlalu khawatir akan terbangun di tengah meja operasi karena kejadiannya termasuk jarang. Sebelum memberikan obat dokter anestesi akan menjelaskan apa yang akan Anda alami selama dibius.

Beberapa pasien mengaku bermimpi selama operasi atau bisa mengingat suasana ruang operasi. Namun hal tersebut ternyata tidak termasuk dalam kondisi "kesadaran saat pembiusan". Sensasi dan memori tersebut kebanyakan tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 20 April 2013

Obat Baru Kanker Payudara Perpanjang Umur Pasien

Kompas.com - Sebuah obat baru untuk kanker payudara dengan nama generik Kadcyla telah disetujui oleh badan pengawas obat dan makanan AS (FDA). Obat tersebut diklaim mampu meningkatkan harapan hidup pasien stadium lanjut hingga enam bulan lebih lama.

Kadcyla menargetkan pada sel-sel tumor, tanpa merusak sel-sel yang sehat. Obat ini dapat membantu meningkatkan usia harapan hidup secara lebih berkualitas. Salah satu pasien, Lisa Canales (50), yang telah berjuang melawan kanker payudara selama 15 tahun merasakan adanya perbaikan sejak mendapatkan obat Kadcyla.

"Cara yang baik untuk menjelaskan mekanisme obat ini ialah dengan perumpamaan; jika kita ingin mematikan satu lampu pada langit-langit, kita harus mematikan semua lampu. Namun dengan obat ini, kita dapat pergi pada satu lampu yang ingin kita matikan tanpa mematikan lainnya," tutur dr. Marc Citron, Direktur pelayanan kanker di ProHealth Care Associates.

Citron mengatakan, obat ini dapat memberikan keuntungan lebih baik daripada pengobatan yang sebelumnya. Hal ini karena obat ini dapat menunda perkembangan sel kanker selama beberapa bulan. Kadcyla memberikan pengobatan lebih baik dengan efek samping yang lebih kecil.

"Pengobatan ini luar biasa, karena dapat memberikan saya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang saya perlu kerjakan. Saya tidak punya waktu untuk merasa buruk, karena saya telah menghabiskan 16 tahun waktu saya dengan kanker," ujar Canales.

Obat ini digunakan terutama untuk kanker pada pada stadium penyebaran atau metastasis dengan gen Human Epidermal-growth factor Receptor-2 (HER-2) positif. HER-2 positif adalah suatu protein yang diproduksi oleh gen yang potensial menyebabkan kanker. Penggunaan Kadcyla dikombinasikan dengan obat Herceptin (trastuzumab) dan juga kemoterapi taxane.

Dokter berharap penggunaan Kadcyla dapat semakin luas untuk melawan kanker payudara di masa mendatang.

"Obat ini sedang diperiksa untuk digunakan pada stadium kanker payudara yang lebih awal, baik pada pasien sebelum operasi, dan pasien sesudah operasi. Secara umum, bila suatu obat efektif untuk kanker stadium akhir, maka akan lebih efektif untuk stadium sebelumnya," papar Citron.



Sumber Kompas



Info Alkes