Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Tetapi, dengan adanya faktor risiko itu, tidak berarti bahwa Anda otomatis menderita penyakit yang sama. Ada ahli yang mengatakan bahwa faktor genetik itu ibaratkan Anda mempunyai sebuah lilin. Lilin itu tidak akan menyala kalau tidak ada yang memantikkan api ke sumbunya.
Diabetes mellitus tipe 2 juga begitu, faktor genetik yang Anda bawa, tidak akan muncul bila tidak ada faktor pemantik, pencetusnya. Pencetusnya utamanya itu diantaranya adalah obesitas, gaya hidup santai (sedentary life, physical inactivity), dan pola makan tidak sehat, serta merokok.
Besarnya pengaruh gaya hidup terhadap diabetes melitus tipe 2 ini dapat dilihat dari meroketnya kasus diabetes di seluruh dunia. Sehingga, organisasi kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa diabetes mellitus menjadi penyakit epidemik di seantero dunia.Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 4 besar kasus diabetes setelah India, China, Amerika Seriktat dan kemudian Jepang. Pada tahun 2010, International Diabetes Federation memperkirakan 285 juta penduduk Dunia menjadi penyandang Diabetes Melitus, lebih dari 430 juta akan menderita diabetes melitus pada tahun 2030.Meningkatnya kasus DM tipe 2 di negara berkembang termasuk Indonesia seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan perubahan gaya hidup penduduknya. Hal itu pula menjadi bukti yang jelas adanya hubungan gaya hidup dengan diabetes tipe 2. Sebagai contoh, yang pernah diteliti adalah penduduk pulau Nauru di Pasifik. Sampai pada tahun 1950 mata pencarian penduduknya adalah sebagai petani dan nelayan.Diet mereka terutama dari ikan, sayur-sayuran, dan tanaman, buah-buahan yang ada di pulau itu. Pada tahun 1960, industri fosfat berkembang di sana. Setelah itu, pada tahun 1976 penduduk Nauru termasuk yang paling sejahtera di dunia. Seiring dengan itu, kebiasan kerja keras seperti bertani, nelayan mulai menghilang. Mereka yang selama ini biasa berjalan, beralih menggunakan kendaraan bermotor. Makanan impor memenuhi pertokoan, dan peralatan rumah tangga elektrik, sarana hiburan elektronik seperti TV menghiasi setiap rumah.Perubahan gaya hidup yang dramatis akibat industrialisasi dan peningkatan kesejahteraan ini juga membawa dampak yang mencolok terhadap penduduk Nauru ini. Obesitas, diabetes melitus yang sebelumnya jarang ditemukan, sekarang menjadi penyakit yang banyak muncul di antara penduduk Nauru. Akibat obesitas dan kurang aktivitas, sebanyak 34,4 persen populasi Nauru kemudian mengidap diabetes.Penelitian yang dilakukan di China juga demikian, urbanisasi, industrialisasi, kesejahteraan yang meningkat dan perubahan gaya hidup menempatkan China sebagai negara nomor dua terbanyak kejadian penyakit diabetes mellitus di dunia. Indonesia tampaknya juga sama saja, kejadian diabetes mellitus juga meningkat.
Istilah perawat saya, orang di kampung saja sekarang sudah banyak yang menderita DM. Dan, poliklinik penyakit dalam, ruang rawat inap penyakit dalam sekarang juga dipenuhi oleh penyandang DM dengan bermacam komplikasi.
Jadi, bila Anda sekarang menderita DM, kebetulan Anda mewarisi faktor genetik atau keturunan, jangan semata-mata menyalahkan mereka. Gaya hidup andalah yang paling menentukan. Dan, bila Anda tidak ingin seperti orang tua Anda dan khawatir menderita penyakit yang sama, maka mulai sekarang ubahlah gaya hidup Anda!
Kompas.com - Alokasi biaya kesehatan untuk penyakit degeneratif akibat gaya hidup tidak sehat diperkirakan akan membebani negara melalui Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan digulirkan di tahun 2014 mendatang. Dibandingkan dengan penyakit infeksi, penyakit tidak menular akibat gaya hidup membutuhkan perawatan seumur hidup.
Menurut Hannah Nawi, Associate Director, Healthcare Practice, Asia Pasific, Frost & Sullivan, penyakit "lifestyle" seperti kanker atau stroke membutuhkan perawatan seumur hidup. "Pengobatan penyakit lifestyle tidak dapat sekali berobat langsung sembuh, tetapi bertahap seumur hidup," tuturnya dalam acara Media Briefing yang bertajuk "Prediksi Industri Kesehatan Indonesia 2013" beberapa waktu lalu di Jakarta.
Melalui SJSN, biaya pengobatan akan ditanggung pemerintah, khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu membayar premi. "Maka tentu saja penambahan penderita penyakit lifestyle akan membebani biaya kesehatan yang ditanggung pemerintah," ujarnya.
Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia Sutoto mengatakan, rumah sakit seharusnya tidak melihat SJSN sebagai ancaman, melainkan peluang. "Dengan adanya SJSN, 8,5 juta masyarakat miskin yang tadinya tidak punya akses jadi terfasilitasi dan dibayar preminya oleh pemerintah," ujarnya.
Selain memfokuskan untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mengurangi beban biaya pemerintah, Sutoto mengatakan, perbaikan tenaga kesehatan juga perlu dilakukan. Indonesia memiliki rasio 3 dokter berbanding 10.000 pasien. Sedangkan, Malaysia 9 dokter berbanding 10.000 pasien.
"Dengan menambah jumlah dokter serta rumah sakit yang dapat memberikan biaya pengobatan yang lebih efektif dan efisien, SJSN akan berjalan dengan baik," katanya.
Kompas.com - Meski agak jarang menemukan seseorang yang hidup dengan satu paru, namun Paus Fransiskus yang baru terpilih adalah sedikit dari orang yang langka tersebut.
Paus berusia 76 tahun itu menjalani operasi pengangkatan paru karena parunya terinfeksi saat ia masih remaja. Pada masa itu, infeksi paru seperti radang paru atau tuberkulosis bisa berakhir dengan pengangkatan paru karena antibiotik belum seefektif saat ini.
Menurut Dr.Len Horovitz, pakar paru dari Lenox Hill Hospital di New York, AS, pada masa sekarang pun jika terjadi komplikasi radang paru dan batuk rejan yang sulit ditangani dokter terpaksa harus membuang paru yang terinfeksi. Demikian juga halnya dengan kanker paru.
Jika satu paru diangkat, paru yang masih tersisa akan mengambil alih tugas tersebut. Karena itu hidup dengan satu paru tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Kendati kita harus berusaha untuk menjaga organ tubuh selengkap mungkin, namun ternyata kita tetap bisa hidup meski tanpa organ-organ berikut ini:
- Ginjal
Manusia memiliki dua ginjal meski sebenarnya kita tetap bisa bertahan hidup hanya dengan satu ginjal. Ada orang-orang yang terlahir hanya dengan satu ginjal, atau satu ginjal terpaksa diambil untuk didonorkan atau diangkat setelah terjadinya cedera.
Secara umum, seseorang bisa hidup dengan normal hanya dengan satu ginjal. Bahkan secara teknis sebenarnya kita bisa hidup tanpa ginjal, tetapi harus melakukan cuci darah secara rutin.
- Limpa
Fungsi limpa adalah menyaring darah dan membantu tubuh melawan infeksi. Akan tetapi organ ini tidak esensial untuk bertahan hidup. Limpa bisa diangkat, misalnya jika terjadi kerusakan. Namun orang yang hidup tanpa limpa cenderung mudah tertular penyakit.
- Organ reproduksi
Ada beberapa penyebab mengapa wanita terpaksa menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim, antara lain kanker, tumor dalam rahim, nyeri pelvis kronik, dan sebagainya. Sekitar 1 dari 3 wanita di AS menjalani prosedur histerektomi di usia 60 tahun. Sementara kaum pria juga bisa menjalani pengangkatan testis jika terkena kanker testis.
- Lambung
Lambung terkadang diangkat sebagian atau seluruhnya sebagai bagian dari terapi kanker lambung. Prosedur ini dikenal sebagai gastrektomi. Dalam prosedur ini, usus kecil disambungkan dengan esofagus.
Seseorang yang menjalani gastrektomi total akan mendapatkan nutrisi lewat pembuluh darah selama beberapa minggu pasca operasi. Setelah itu mereka sudah bisa makan berbagai makanan meski dalam porsi kecil.
- Usus besar
Penyakit kanker usus atau penyakit Chrohns juga akan membuat penderitanya menjalani pengangkatan kolon atau usus besar. Kita bisa hidup tanpa kolon tetapi harus memakai kantong di bagian perut untuk menampung hasil buangan. Tetapi kini dokter juga bisa melakukan operasi untuk membuat semacam kantong di usus halus sebagai pengganti usus yang dibuang.
- Usus buntu
Panjang usus buntu, yang bentuknya mirip cacing dan menempel pada bagian awal usus besar ini adalah sekitar 8,5 cm. Tidak jelas apa fungsi usus buntu, kemungkinan besar usus ini berperan sebagai imunitas usus besar. Usus ini sering diangkat jika mengalami peradangan atau pembengkakan.