Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Cegah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cegah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

Dua Langkah Cegah Penyakit Jantung


KOMPAS.com — Sampai saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menempatkan penyakit kardiovaskular, seperti jantung koroner, stroke, dan juga hipertensi sebagai penyebab kematian nomor satu.

Agar kita bisa terhindar dari penyakit yang terus memakan korban jiwa ini, menjalankan gaya hidup sehat menjadi wajib hukumnya. Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk memastikan organ jantung selalu sehat adalah menjaga kadar tekanan darah dan kolesterol.

Para peneliti dari Medical University of South Carolina menemukan, pasien penderita hipertensi yang menurunkan kadar tekanan darahnya saja atau kadar kolesterolnya saja, risiko terkena serangan jantung hanya turun menjadi 20 persen dan 35 persen.

Berbeda hasilnya jika seorang pasien hipertensi berusaha menjaga agar kadar tekanan darah dan kolesterolnya tetap normal. Risiko terkena serangan jantung berkurang sampai lebih dari 50 persen.

Tekanan darah tinggi akan merusak lapisan pembuluh darah sehingga kolesterol mudah terserap masuk. Namun, jika menjaga kedua faktor tersebut, Anda akan membatasi jumlah kolesterol yang bisa masuk sekaligus melindungi kerusakan arteri.

Kebanyakan dokter lebih fokus untuk menurunkan kadar kolesterol pasiennya, padahal tekanan darah juga penting untuk dicek secara berkala dan dijaga agar selalu normal.

Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicine, untuk mengetahui kadar tekanan darah yang akurat, dibutuhkan pengukuran sampai dengan enam kali. Karena itu, selain di ruang dokter, Anda juga bisa mengukur tensi darah di toko obat atau di rumah jika memiliki alatnya.

Selain itu, sebaiknya ukur tensi darah pada kedua lengan. Menurut Aaron Michelfelder, peneliti dari Loyola University Stritch School of Medicine, hasil pengukuran yang berbeda bisa menjadi gejala penyakit pembuluh darah periferal yang akan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 27 Mei 2013

Membatasi Makan Cegah Pikun?

KOMPAS.com - Membatasi kalori tidak selalu menyenangkan, namun dapat memberikan banyak manfaat. Bukan hanya manfaat terkait berat badan, beberapa studi telah menunjukkan makan lebih sedikit dapat membantu memperlambat proses penuaan, memperpanjang umur, dan menurunkan efek penyakit Alzheimer.

Atas dasar itu, tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) melakukan sebuah studi untuk mengetahui lebih jauh, apakah pembatasan kalori juga dapat menunda kerusakan sel saraf di otak.

"Karena sebelumnya sudah diketahui penurunan fungsi kognitif dan saraf merupakan ciri-ciri dari proses penuaan, pembatasan kalori mungkin juga dapat berpengaruh dalam memperlambat kerusakan sel saraf," ujar Ketua Studi dr. Johannes Graff dari Picower Institute for Learning and Memory di MIT, dan Howard Hughes Medical Institute.

Graff dan timnya melakukan uji coba teori ini pada dua kelompok tikus yang sudah direkayasa mengalami penuaan saraf. Para peneliti mengurangi asupan kalori hingga 30 persen pada suatu kelompok tikus, dan menjaga asupan kalori tetap sama pada kelompok yang lain.

Setelah tiga bulan, para peneliti menguji kemampuan belajar dan ingatan setiap grup tikus. Hasilnya kelompok tikus kedua menunjukkan penurunan kemampuan belajar dan ingatan yang signifikan berkaitan dengan kerusakan sel saraf. Sedangkan pada kelompok tikus yang makannya dibatasi menunjukkan tidak adanya penurunan kemampuan belajar dan mengingat.

Para peneliti tidak puas dengan hasil itu saja. Mereka kemudian melihat melalui otak guna mengetahui tingkat dan jumlah kerusakan sel saraf. Ternyata, kerusakan sel saraf dapat diperlambat dengan pembatasan kalori.

Selain itu, mereka juga ingin mengetahui pengaruh enzim tertentu yang jumlahnya meningkat saat kalori dibatasi, yaitu enzim Sirtuin 1 (SIRT1). Jumlah enzim ini melimpah saat asupan kalori dibatasi.

Mereka pun membagi tikus menjadi dua kelompok lagi, dengan perlakuan pembatasan kalori pada grup pertama, dan penambahan obat berisi enzim tanpa membatasi kalori pada grup kedua. Hasilnya, kedua perlakuan ini efektif dalam memperlambat kerusakan sel saraf.

Graff berharap hasil ini dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara pembatasan kalori, enzim SIRT1, dan penuaan sel saraf.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 11 Mei 2013

Omega-3 Tak Banyak Bantu Cegah Sakit Jantung

KOMPAS.com — Meskipun sudah ada penelitian yang menunjukkan bahwa suplementasi asam lemak omega-3 dapat membantu mereka yang telah mengalami serangan jantung dan gagal jantung, studi baru menemukan suplemen ini hanya berpengaruh kecil untuk mencegah terjadinya masalah kardiovaskular bagi mereka yang berisiko tinggi.

Para peneliti asal Italia melaporkan bahwa suplemen asam lemak omega-3 tidak dapat mengurangi risiko kematian dari penyakit jantung atau serangan jantung atau stroke pada orang yang memiliki risiko tinggi.

Ketua studi, dr Gianni Tognoni dari Istituto di Ricerche Farmacologiche di Milan mengatakan, berlawanan dengan ekspektasi, konsumsi suplemen asam lemak omega-3 tidak memberikan keuntungan spesifik terhadap populasi yang memang memiliki risiko tinggi penyakit kardiovaskular.

Ia mengatakan, asam lemak omega-3 tidak dapat membantu mencegah irama jantung yang tidak normal yang diikuti dengan serangan jantung dan gagal jantung. Oleh karena itu, suplemen ini tidak bermanfaat untuk sesuatu yang bersifat pencegahan.

"Selama gaya hidup tidak diubah, obat tidak akan membantu banyak," ujar Tognoni.

Dalam mengurangi risiko, lanjutnya, masyarakat perlu menghindari merokok, memilih makanan yang sehat, dan olahraga teratur.

Anggota studi dr Maria Carla Roncaglioni, Kepala Laboratorium Praktik Penelitan Umum di Istituto di Ricerche Farmacologiche Mario Negri berpesan, mereka yang berisiko tinggi sebaiknya tidak mengandalkan penggunaan suplemen asam lemak omega-3 dalam waktu lama, tetapi mulailah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, khususnya kebiasaan makan.

Studi yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine ini melibatkan 12.000 orang dengan risiko tinggi penyakit jantung. Mereka secara acak ada yang diminta meminum suplemen atau plasebo.

Setelah dipantau selama lima tahun, lebih dari 1.400 orang meninggal karena penyakit jantung atau mengalami serangan jantung atau stroke. Di antara mereka yang mengonsumsi suplemen, 11,7 persen di antaranya mengalami masalah-masalah tersebut. Adapun 11,9 persen kasus terjadi pada kelompok plasebo.



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 09 Mei 2013

Kombinasi Tomat-Kedelai Efektif Cegah Kanker Prostat

Selain bermanfaat untuk membantu menurunkan bobot tubuh, tomat juga berfungsi untuk menjaga kesehatan tubuh.

KOMPAS.com  Bagi kaum pria, masalah prostat adalah momok yang kerap menghantui saat menginjak usia lanjut. Tak ada salahnya jika upaya pencegahan penyakit ini sudah dibiasakan sejak usia muda. Salah satu pencegahan yang dapat dipertimbangkan adalah mengonsumsi buah tomat dengan kedelai. Menurut sebuah penelitian, kombinasi tomat dan kedelai ternyata memiliki efek yang lebih baik dalam mencegah masalah prostat. Mengonsumsi keduanya secara bersamaan akan memberi efek yang lebih baik daripada dimakan satu-satu.


Seperti yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Prevention Research, kombinasi dua makanan ini efektif dalam mencegah kanker prostat.


Para peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign dan Ohio State University melakukan percobaan pada tikus untuk menguji kemampuan kombinasi ini. Mereka sudah merekayasa gen dari tikus agar dapat mengembangkan sebuah bentuk agresif dari kanker prostat.


Mereka memberi makan tikus-tikus dengan bubuk tomat yang mengandung dua persen kedelai, sementara ada kelompok tikus yang diberi makan tomat atau kedelai saja.


Hasilnya, tikus yang berasal dari grup kombinasi tomat dan kedelai 45 persen mengalami kanker prostat. Angka ini dibandingkan dengan tikus dari grup tomat, yaitu sebanyak 61 persen, dan grup kedelai 66 persen.


Para peneliti mengatakan, jika diaplikasikan pada manusia dewasa, hasil ini dapat diterjemahkan dengan konsumsi tiga hingga empat sajian tomat per minggu dan satu hingga dua sajian kedelai setiap hari.


Mereka juga mengatakan, sajian alami yang diperoleh dari buah tomat dan susu kedelai lebih memberikan manfaat daripada suplemen likopen dan kedelai. Alasannya, kandungan secara keseluruhan makanan dapat menambah efek dalam melawan sel kanker.




Sumber Kompas




Info Alkes

Rabu, 24 April 2013

Bawa Bekal Cegah Anak Jajan Sembarangan

Kompas.com - Banyak makanan dan jajanan anak di sekolah tercemar mikroba atau kuman berbahaya serta bahan kimia, terutama zat pewarna bukan untuk makanan. Rasa lapar bisa membuat anak membeli jajanan apa saja asal membuatnya kenyang sehingga mereka kurang berhati-hati memilih jenis jajanan yang sehat. Orangtua bisa mencegah kebiasaan jajan pada anak dengan cara membawakannya bekal dari rumah.

Jajanan yang tidak bersih akan menyebabkan anak menderita berbagai penyakit, misalnya diare atau muntaber. Bahan makanan yang berwarna mencolok juga dikhawatirkan mengandung bahan pewarna bukan makanan. Kebiasaan jajan makanan yang padat energi seperti makanan manis dan berlemak juga berpotensi membuat anak kegemukan.

"Sebaiknya anak bawa bekal dari rumah. Hidangan yang dibuat sendiri lebih mudah diawasi kebersihan dan kesehatannya," kata Kepala Pusat Pomkes Kementrian Kesehatan RI, dr. Lily Sulistyowati, MM. Hal tersebut dikatakannya pada pencanangan Hari Bawa Bekal Nasional (HBBN) yang digagas Kementrian Kesehatan RI dan Tupperware di Jakarta, Jumat (12/4/13).

Makanan yang bergizi dapat membantu anak tumbuh lebih sehat. Orangtua bisa membawakan anak camilan yang rendah kalori dan tinggi serat, seperti buah-buahan, kraker atau biskuit buah, jus buah, dan sebagainya. Untuk mencegah anak bosan, orangtua harus lebih kreatif dalam menyajikan variasi menu.

Kebiasaan membawa bekal akan mengajarkan anak selektif memilih jajanan. Selain itu pihak sekolah dan orangtua juga perlu mengajarkan anak cara memilih jajanan yang sehat. Edukasi ini akan terbawa sampai dewasa dan menjadi bagian dari kebiasaan.

Menurut Lily usaha mencegah anak jajan sembarangan wajib dilakukan orangtua, bekerja sama dengan sekolah. "Pendidikan bermula dari rumah. Orangtua yang peduli tentu akan membuat hidangan terbaik untuk buah hatinya," kata Lily.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 21 April 2013

Inilah Cara Mudah Cegah Parkinson

KOMPAS.com - Parkinson, nama penyakit degenerasi saraf progresif yang disebabkan oleh kematian sel otak yang mengandung dopamin, ternyata dapat dicegah dengan melakukan kegiatan seni. Kegiatan seni yang dimaksud antara lain melukis, menggambar, membuat aneka kerajinan tangan, meronce manik-manik, keramik, patung, mozaik, dan kegiatan seni lainnya.

Dokter spesialis saraf Rumah Sakit PMI Bogor dr. Banon Sukoandari, Sp.S mengatakan, seni dapat membuat koordinasi otak dengan otot lebih baik, serta secara tidak langsung memberikan perasaan lebih bahagia. Hal inilah yang dapat mencegah ataupun memperbaiki penyakit parkinson.

"Seni dapat membuat orang lebih baik dalam menjalankan complex planning yang sulit dilakukan oleh penyandang parkinson. Complex planning merupakan perencanaan yang dibuat otak sebelum melakukan sesuatu yang berurutan," tuturnya dalam forum edukasi media bertajuk "Seni Parkinson: Saya dan Keluarga" Kamis (11/4/2013) di Jakarta.

Forum tersebut diadakan oleh Yayasan Peduli Parkinson Indonesia (YPPI) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan PT Roche Indonesia, dalam rangka Peringatan Hari Parkinson Sedunia yang jatuh pada 11 April 2013.

Banon mengatakan, manfaat seni terhadap mencegah maupun meringankan gejala parkinson cukup baik, itulah yang menyebabkan pekerja seni umumnya memiliki risiko kecil untuk mengembangkan penyakit parkinson.

"Selain itu, untuk penyandang parkinson sendiri, seni dapat mengeksplor kemampuan mereka. Banyak dari penyandang parkinson yang baru mengenal seni sejak sudah menyandang parkinson, dan ternyata memiliki bakat seni," tutur Ketua YPPI ini.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jendral Pengurus Pusat PERDOSSI dr. Diatri Nari Lastri, Sp.K (K) dari Rumah Sakit dr. Ciptomangunkusumo (RSCM) mengatakan, penyakit parkinson memang belum diketahui secara pasti faktor pemicunya. Namun genetik dan lingkungan merupakan faktor risiko dari penyakit ini.

"Belum ada pengobatan kausatif, yang ada baru pengobatan simtomatis yang mengatasi gejalanya," ujar Nari.

Seni menjadi salah satu terapi dalam memperbaiki gejala dari parkinson. Kombinasi obat-obatan dan terapi merupakan pengobatan yang terbaik bagi penyandang Parkinson.



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 18 April 2013

Cegah Cacat Lahir dengan USG Rutin

TANGERANG, KOMPAS.com - Kasus bayi dengan cacat lahir akibat cacat bawaan dapat ditekan jika ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Melalui pemeriksaan USG, perkembangan janin dapat dikontrol sehingga bila terjadi kelainan pada janin, maka tenaga medis dapat segera mengambil tindakan yang diperlukan.

Dokter spesialis kebidanan Rumah Sakit Premier Bintaro dr. Nurwansyah, Sp.OG mengatakan, USG sebaiknya dilakukan secara berkala. USG yang rutin dan berkala akan memberikan keuntungan yaitu dapat lebih cepat tahu jika ada kelainan pada janin.

Kendati USG perlu rutin dan berkala dilakukan saat kehamilan, namun masih banyak yang beranggapan melakukan USG terlalu sering akan menimbulkan efek negatif bagi kandungan. Sebaliknya, Nurwansyah mengatakan, gelombang yang dihasilkan dari USG aman karena tidak berefek radiasi. USG pun tidak memiliki efek negatif bagi janin.

"Idealnya USG dilakukan setiap bulan, namun setidaknya USG dilakukan 4 kali selama masa kehamilan," ungkap Nurwansyah dalam Seminar Dokter yang bertajuk "Updates In Maternal - Fetal Medicine" di Tangerang, Sabtu (6/4/2013).

Prinsip USG yaitu menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak dapat didengar oleh telinga. Beberapa studi internasional tentang USG belum ada yang menunjukkan dampak negatif pemeriksaan USG pada kehamilan. Sedangkan menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), USG baru berakibat negatif jika telah dilakukan sebanyak 400 kali.

USG menurut Nurwansyah wajib dilakukan antara lain pada 2 minggu pertama kehamilan  untuk memastikan kehamilan normal berada di dalam rahim. Selanjutnya, USG dilakukan satu buan kemudian untuk menentukan kondisi bayi untuk mengetahui adan tidakya kelainan atau cacat bawaan, seperti penebalan kulit tengkuk. Pemeriksaan USG idealnya terus dilakukan setiap bulan untuk mengikuti perkembangan janin.

Nurwansyah memaparkan, USG memiliki tiga tingkatan. USG tingkat pertama yaitu hanya sebatas skrining. USG skrining dapat dilakukan oleh tenaga medis, meski bukan dokter, asal telah mendapatkan sertifikasi, seperti bidan. USG tingkat kedua sudah dapat menentukan kesehatan organ-organ janin seperti ginjal atau jantung. Sedangkan USG tingkat tiga sudah dapat menentukan hingga pada kelainan-kelainan yang lebih mendetail.

"USG pun memiliki beberapa jenis dimensi. Untuk mendeteksi awal adanya kelainan harus digunakan USG tipe 2D, sedangkan untuk 3D dan 4D digunakan untuk melihat keseluruhan dari cacat bila ditemukan," tutur Nurwansyah.

Kendati USG efektif untuk mendeteksi kelainan, menurut Nurwansyah, yang paling penting lagi adalah "man behind the gun" atau tenaga medis yang melakukan pemeriksaan USG. "Karena dia lah yang mendiagnosa jika terjadi kelainan pada janin. Maka dia pula yang menentukan apabila harus dilakukan tindakan selanjutnya," pungkasnya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 14 April 2013

Dikembangkan Cara Cegah Penyakit pada Obesitas

Kompas.com - Berat badan sangat berlebih alias obesitas memang identik dengan penyakit. Namun menurut studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Cell Press orang obesitas punya peluang untuk tetap sehat dan terbebas dari risiko penyakit kronis.

Para peneliti dari University of Tokyo menemukan bahwa, pada tikus, penghambatan suatu protein tertentu yang terkait dengan kondisi obesitas dan inflamasi dapat mencegah terjadinya diabetes. Mereka percaya hasil penemuan ini dapat berkembang menjadi sebuah perlakuan nyata untuk mencegah penyakit pada orang obesitas.

Protein ini, yang dikenal dengan nama apoptosis inhibitor of macrophage (AIM) ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi dalam orang obesitas. AIM bekerja untuk mereduksi jumlah lemak yang disimpan saat seseorang mulai mengalami obesitas. Semakin bertambah berat badan, semakin banyak AIM yang diproduksi tubuh.

Padahal kadar AIM yang berlebihan di darah akan berbahaya. Hal ini dikarenakan AIM memicu antibodi yang menyerang tubuh, sehingga menyebabkan inflamasi. Inflamasi akan memicu banyak masalah kesehatan yang terjadi saat mengalami obesitas.

"Obesitas dapat mengembangkan penyakit metabolik dan kardiovaskular yang awalnya  dipicu oleh resistensi insulin dan disebabkan oleh inflamasi kronis," ujar para peneliti yang diketuai oleh Toru Mizayaki.

"Penghambatan AIM berpotensi menjadi terapi untuk mencegah bukan hanya resistensi insulin dan gangguan metabolisme, tetapi juga autoimunitas dalam kondisi obesitas."

Para peneliti juga menemukan bahwa kadar antibodi imunoglobulin M (IgM) mengalami peningkatan pada tikus yang diberi diet tinggi lemak. IgM juga dapat berikatan dengan AIM, yang dapat menyebabkan produksi antibodi lebih meningkat.

"Ikatan AIM-IgM berperan penting dalam proses autoimun yang terkait obesitas," tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa kadar AIM yang tinggi dalam darah  berkorelasi dengan indeks massa tubuh yang tinggi, terutama pada pasien dengan penyakit autoimun. Mereka berpendapat, dengan menghambat AIM maka dapat membantu mencegah penyakit terkait obesitas pada manusia.

"Namun, tingkat AIM lebih bervariasi pada  manusia dibandingkan pada tikus," tulis para peneliti. Sehingga untuk mengaplikasikan hasil temuan ini pada manusia mungkin masih memerlukan waktu yang lama, selain membutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap manusia.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 09 April 2013

Cegah Stres dan Penyakit dengan Musik

Kompas.com - Berbagai kajian menunjukkan manfaat musik untuk meningkatkan kekebalan tubuh sampai pengobatan penyakit. Analisa terbaru terhadap lebih dari 400 laporan ilmiah bahkan menyebutkan musik mungkin lebih baik dibanding obat untuk beberapa jenis penyakit.

Studi yang diketuai oleh Profesor Daniel K. Levitin dari Departemen Psikologi McGill University menganalisa ratusan studi mengenai bagaimana pengaruh musik dalam tubuh. Secara garis besar ada dua area yang mendapat manfaat besar dari musik, yaitu sistem imun dan keadaan mental dalam mengurangi stres.

"Kami menemukan bukti yang kuat bahwa intervensi musik memiliki peran penting untuk kesehatan, mulai dari kamar operasi sampai klinik keluarga," ujar Levitin.

Namun yang lebih penting, lanjut Levitin, telah ditemukan mekanisme neurokimia yang dipengaruhi musik memberikan efek terbesar untuk 4 hal, yaitu manajemen mood, stres, imunitas, dan ikatan sosial.

Berikut beberapa kesimpulan dari telaah:

- Mendengarkan musik jauh lebih baik ketimbang obat untuk mengurangi stres sebelum operasi.

- Orang yang mendengarkan musik memiliki kenaikan tingkat imunoglobulin A, yaitu antibodi yang ada pada jaringan mukosa dan membantu mencegah infeksi.

- Orang yang mendengar musik memiliki jumlah sel imun yang disebut sebagai "pembunuh sel alami" lebih banyak. Sel imun tersebut berguna untuk melawan bakteri, sel infeksi, dan sel kanker.

- Mendengarkan musik dapat mengurangi kadar kortisol pada tubuh. Kortisol merupakan hormon stres yang memiliki banyak efek psikologis negatif dan dapat memicu obesitas.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 26 Maret 2013

Cegah Masalah Gizi Melalui Posyandu

Salah satu kegiatan di posyandu peduli TAT.

Kompas.com - Posyandu selama ini identik dengan penimbangan berat badan dan pemberian makanan tambahan. Padahal, di posyandu orangtua juga bisa belajar tentang ilmu pengasuhan anak.


Di posyandu peduli Tumbuh-Aktif-Tanggap (TAT), para kader-kader posyandu yang sebelumnya sudah mendapat pelatihan, aktivitasnya jauh lebih bermakna dibanding sebelumnya.


Misalnya saja kegiatan monitoring tumbuh kembang balita tidak cuma dilakukan dengan menimbang dan mengukur tinggi badan anak, tapi juga lingkar kepala untuk mengetahui perkembangan otak.


Kegiatan pengukuran tersebut jika dilakukan secara rutin akan mencegah timbulnya gangguan gizi pada balita karena jika pertumbuhan anak di bawah rata-rata bisa segera diberikan intervensi.


Menurut Prof.Ali Khomsan dari Institut Pertanian Bogor, kegiatan di posyandu sangat mendukung upaya pemerintah yang saat ini berusaha mencapai target MDGs untuk menurunkan prevalensi balita kurang gizi.


"Saat ini Indonesia masih memiliki sekitar 7,8 juta anak dengan keterlambatan pertumbuhan karena kurang gizi," katanya dalam acara peluncuran Gerakan Posyandu Peduli TAT 2013 di Jakarta pekan lalu.


Program gerakan posyandu peduli Tumbuh-Aktif-Tanggap (TAT) merupakan bagian dari upaya revitalisasi poyandu melalui pemberdayaan kader. Program tersebut merupakan kerjasama antara pengurus PKK pusat dan Nestle Dancow Batita.


Dalam program tersebut, para kader posyandu diberi pembekalan ilmu pengetahuan seputar kesehatan ibu dan anak, termasuk kegiatan monitoring tumbuh kembang anak.


Selain pemantauan perkembangan fisik, para kader juga dilatih untuk mengenali tanda-tanda keterlambatan kognitif atau kecerdasan anak.


Menurut Mayke Tedjasaputra, Psi, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, anak yang sehat dan cerdas adalah anak yang aktif dan tanggap.


"Aktif berarti anak menunjukkan minat dan mau melakukan kegiatan yang mengandalkan gerakan motorik kasar dan halus, misalnya memanjat, berlari, terampil menggunakan pensil, dan sebagainya," kata Mayke.


Sementara itu anak yang tanggap berarti anak punya keinginan untuk merespon terhadap stimulus yang diberikan. Misalnya anak memiliki nalar berbahasa, punya kemampuan sosial, serta menanggapi ketika diajak berbicara.


Seluruh indikator TAT tersebut dimasukkan dalam cek list yang dibagikan kepada para kader sehingga mereka bisa melakukan pencatatan dan monitoring anak-anak yang datang ke posyandu.


Para kader juga diajak untuk aktif memberikan penyuluhan kepada para orangtua anak supaya memperhatikan tumbuh kembang anaknya.


"Pengetahuan kader posyandu harus terus ditingkatkan supaya mereka bisa membimbing keluarga-keluarga di Indonesia," kata Soesilowati Soebekti, Ketua IV PKK Pusat.


Ia menambahkan, para kader posyandu hanya sebatas memberikan penyuluhan dan pemantauan. Jika ditemukan masalah kesehatan yang lebih serius, entah itu gizi kurang atau gangguan tumbuh kembang, maka balita akan dirujuk ke puskesmas.




Sumber Kompas




Info Alkes

Rabu, 20 Maret 2013

Minuman Hangat Cegah Stroke?

Kompas.com - Minum minuman hangat di pagi hari, entah itu teh atau kopi, menjadi bagian dari rutinitas harian banyak orang. Kebiasaan sederhana tersebut ternyata membantu kita mengurangi risiko stroke.

Penelitian terhadap 83.000 orang di Jepang menunjukkan, mereka yang sering minum teh hijau atau kopi setiap hari memiliki risiko terkena stroke 20 persen lebih rendah. Bahkan efek perlindungan terhadap jenis stroke tertentu juga lebih besar.

"Jika Anda belum bisa mengubah gaya hidup, cobalah mencegah stroke dengan rutin minum teh hijau setiap hari," kata Dr.Yoshihiro Kokubo dari National Cerebral and Cardiovascular Center, Osaka, Jepang.

Meski belum jelas mengapa kopi dan teh memiliki efek pencegahan stroke, tetapi menurut Kokubo hal itu mungkin terkait dengan kandungan dalam minuman tersebut yang menjaga penyumbatan darah.

Selain itu, teh hijau mengandung katekin yang memiliki efek antioksidan dan antiperadangan. Beberapa zat dalam kopi, seperti asam klorogenik juga mengurangi risiko stroke dengan menurunkan risiko terjadinya diabetes melitus.

Kandungan kafein dalam kopi juga memiliki efek pada kadar kolesterol dan tekanan darah. Selain itu juga menyebabkan perubahan pada sensitivitas insulin yang berpengaruh pada gula darah.

Meski begitu, menurut Dr.Ralph Sacco, mantan priseden American Heart Association, tipe penelitian seperti yang dilakukan Kokubo ini tidak bisa memastikan dengan akurat apakah penurunan risiko stroke itu memang diperoleh dari konsumsi kopi dan teh.

"Kaitan yang tampak dari penelitian semacam itu masih terbatas kemampuannya untuk menyatakan apakah kandungan dalam kopi, teh, atau memang gaya hidup para responden yang memiliki efek perlindungan," kata Sacco.



Sumber Kompas



Info Alkes