Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Alergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alergi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Alergi Sperma, Jarang tetapi Ada

Kompas.com - Tentu Anda sering mendengar seseorang yang alergi terhadap kacang, debu, atau pun kucing. Alergi-alergi tersebut mungkin dapat diatasi dengan menghindari alergen atau pemicu alergi. Namun ternyata ada juga alegi yang agak sulit untuk dihindari alergennya, terlebih bagi mereka yang sudah menikah, yaitu alergi terhadap sperma.

Alergi sperma secara langsung ataupun tidak memang dapat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Bagaimana tidak, wanita yang alergi sperma tentu akan menghindari hubungan seksual. Padahal, seks yang sehat dan teratur merupakan faktor penting dalam keutuhan perkawinan.

Seorang wanita asal California Utara, sebut saja Clara, mengalami alergi sperma ini. Ia mengalami bercak merah, bengkak, dengan rasa terbakar yang tidak biasa setelah berhubungan seks. Tadinya ia mengira, ia terkena penyakit menular seksual. Padahal wanita ini mengalami hipersensitivitas terhadap reaksi protein yang ada di dalam sperma suaminya.

"Itu sangat buruk, kami tidak bercinta selama 10 bulan terakhir," ujar suami Clara.

Direktur Ryan Family Planning Clinic di Oregon Health and Science University Portland Paula Bednarek mengatakan, alergi ini memang tidak umum. Faktanya, hanya satu di antara 40.000 wanita yang mengalaminya.

"Sperma mengubah keseimbangan pH dalam vagina untuk beberapa wanita, sehingga menimbulkan iritasi, pembengkakan, bahkan gatal-gatal," tutur Bednarek.

Hal yang senada juga diungkapkan Linda Ford, pakar alergi di Nebraska Medical Center di Omaha yang juga mantan presiden American Lung Association. "Mungkin selama 30 tahun, hanya ditemukan sekali," ujarnya.

Bercinta kembali

Seks merupakan sarana untuk menjaga intimasi dari pasangan suami istri, begitu pula Clara dengan suaminya. Semenjak mereka "berpuasa" bercinta untuk waktu agak lama, mereka merasa sangat jauh dan tidak intim. Bahkan mereka merasa seperti hanya teman sekamar daripada seperti pasangan suami istri.

Menurut situs Columbia University, pengobatan terbaik untuk kondisi ini adalah dengan mengenakan kondom. Namun ternyata, Clara tetap mengalami gejala alergi dengan cara tersebut.

Cara lainnya adalah dengan mengisolasi protein tertentu dalam semen suami lalu melakukan tes kulit untuk menentukan zat apa yang memicu alergi. Cara ini akan mengurangi sensitivitas wanita terhadap protein sperma.

Saat ini, Clara dan suaminya menjalani metode desensitisasi yang disebut dengan intravaginal graded challenge. Metode ini dapat mengencerkan sperma hingga suami hanya akan menginjeksikan sperma dengan konsentrasi yang sangat rendah lalu disuntikkan ke vagina istri. Kemudian mereka diminta melakukan hubungan seks dalam waktu 12 jam setelahnya. Metode ini cukup berhasil, karena setelah berhubungan, reaksi alergi Clara berkurang.

Berdasarkan informasi dari situs Columbia University, setelah istri berkurang sensitivitasnya, maka mereka harus terus melakukan hubungan seksual setiap dua hingga tiga hari sekali untuk menjaga keadaan yang serupa.

Prosedur ini mungkin mahal dan tidak tersedia di banyak tempat. Namun sangat berguna bagi mereka yang menderita alergi sperma, bahkan saat suami mereka memakai kondom.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 29 April 2013

Makan Ikan Sejak Dini Turunkan Risiko Alergi?

Kompas.com - Jumlah anak-anak yang menderita alergi terus meningkat. Sayangnya gangguan alergi ini belum bisa diobati. Karena itu para ahli berusaha menggali upaya pencegahannya. Salah satu cara yang diduga berpotensi bisa mencegah kejadian alergi adalah mengenalkan ikan pada anak sejak dini.

Sebuah studi yang dilakukan di Swedia dilakukan terhadap 3000 anak ditujukan untuk melihat efek dari konsumsi ikan terhadap berkurangnya risiko alergi, seperti alergi musim, debu, dan eksim. Dicari tahu pula apakah efek pencegahan itu bisa bertahan jangka panjang.

Studi ini menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi paling tidak dua sajian ikan setiap bulan, risikonya memiliki alergi 75 persen lebih rendah. Studi juga menunjukkan adanya pergeseran pemikiran dari para orangtua untuk mengenalkan anak pada makanan yang beragam di usia muda.

Yang mengejutkan, pola makan kaya ikan bagi anak usia satu tahun sudah umum di beberapa area di dunia. Salah satunya di wilayah Mediterania. Dalam pola makan Mediterania, makanan yang menjadi fokus utama adalah buah-buahan, sayur-sayuran, gandum utuh, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, ikan dan makanan laut lain dengan kandungan merkuri rendah.

Penganut diet jenis ini juga membatasi asupan produk susu. Mereka membatasi hanya mengonsumsi yogurt atau keju segar.

Studi lain meneliti pada sekitar 460 anak yang tinggal di Minorca (sebuah pulau di Mediterania). Studi tersebut menemukan, anak yang utamanya makan makanan nabati paling tidak risikonya 62 persen lebih rendah untuk memiliki asma atau alergi. Studi itu juga menunjukkan bahwa anak-anak yang makan 60 gram ikan setiap hari risikonya terkena alergi 57 persen lebih rendah.

Hubungan pasti antara gaya diet Mediterranean dan alergi masih belum diketahui, namun penemuan seperti ini dapat membuka cakrawala baru tentang pengenalan makanan yang beragam terhadap anak-anak. Kendati demikian, Anda sebaiknya berkonsultasi dulu pada dokter anak sebelum mengubah pola makan mereka.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 29 Maret 2013

Alergi pada Bayi Bisa Dicegah

Kompas.com - Alergi bukan cuma dipengaruhi oleh riwayat keluarga karena setiap bayi memiliki risiko alergi sampai 15 persen. Karena itu deteksi dini dan tindakan pencegahan timbulnya gejala sangat penting diketahui.

Anak-anak yang lahir dari orangtua yang memiliki riwayat alergi, baik salah satu atau kedua orangtuanya, beresiko tinggi menderita alergi juga.

"Pada bayi yang termasuk beresiko tinggi itu perlu dilakukan tindakan pencegahan. Pencegahannya harus sangat dini atau terlambat sama sekali," kata Prof.Urlich Whan, pakar bidang Pneumonolgy dan Allergology dari Jerman dalam acara bertajuk Pencegahan Alergi Primer dan Dampak Ekonomi di Jakarta (19/3/13).

Urlich menjelaskan pentingnya pencegahan primer bahkan sebelum bayi lahir. "Ibu hamil, terlebih jika ada riwayat alergi, harus menghindari paparan asap rokok," katanya.

Asap rokok, menurut Dr.Zakiudin Munir, Sp.A(K), konsultan alergi dan imunologi dari FKUI/RSCM Jakarta, bisa merusak barier di plasenta.

"Selain itu asap rokok juga akan mengganggu pertumbuhan paru pada janin sehingga anak kelak akan beresiko asma. Zat-zat dalam rokok juga merangsang sitokin-sitokin dalam tubuh sehingga memicu alergi," kata Zakiudin.

Calon ibu yang memiliki alergi tidak disarankan melakukan pantang makanan demi mencegah alergi pada bayinya. "Tidak direkomendasikan untuk berpantang makanan saat hamil karena bisa mengganggu pertumbuhan janin," kata Ulrich.

Setelah melahirkan, bayi sebaiknya diberikan ASI eksklusif. "ASI mengandung protein dari ibu sendiri sehingga tak akan ditolak tubuh. Selain itu ada zat-zat dalam ASI yang meningkatkan imunitas bayi," imbuh Zakiudin.

Ia menambahkan, berpantang makanan pencetus alergi pada ibu menyusui baru dilakukan jika bayi sudah menderita alergi. "Kalau bayi belum ada gejala alergi sebaiknya tak perlu pantang supaya mutu ASI bagus," katanya.

Pada bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI, pemberian susu terhidrolisis parsial atau susu dengan protein yang sudah dihidrolisis, bisa mencegah risiko alergi.

"Susu yang terhidrolisis parsial akan membantu tubuh mengenali protein dalam susu tetapi tidak mencetuskan alergi," kata Ulrich.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 26 Maret 2013

Kenali Perjalanan Alami Penyakit Alergi

Kompas.com - Angka kejadian alergi pada anak terus meningkat. Penyakit yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik ini memiliki perjalanan alami yang manifestasinya berbeda-beda sesuai perkembangan usia anak.

Perjalanan alami penyakit alergi disebut juga dengan Allergy March. Ini berarti penyakit alergi sebenarnya tidak bisa sembuh namun akan menghilang untuk kemudian muncul kembali di usia tertentu.

"Sekali alergi tidak akan bisa lepas karena alergi bukanlah penyakit yang berhenti di satu titik," jelas Dr.Zakiudin Munasir, Sp.A(K), kepala divisi dan konsultan alergi-imunologi dari FKUI/RSCM dalam acara bertajuk Pencegahan Alergi Primer dan Dampak Ekonomi di Jakarta (19/3/13).

Dokter Zaki mencontohkan, pada bayi jenis alergi yang paling sering adalah alergi makanan, misalnya susu sapi. Manifestasinya adalah dermatitis atopik atau diare pada bayi.

Seiring dengan pertambahan usia, alergi makanan akan berkurang karena sistem pencernaan bayi semakin matang. Kemudian yang rentan terkena adalah sistem pernapasan.

"Di usia pra sekolah biasanya berganti menjadi asma karena anak sudah mulai sering beraktivitas di luar. Kemudian bertambahnya usia berganti lagi menjadi rhinitis alergi yang akan terus menetap sampai akhir hayat," paparnya.

Prof.Ulrich Whan, ahli bidang pneumonolgy dan allergology dari Jerman, menjelaskan bahwa alergi telah menjadi epidemi di zaman modern.

"Angka kejadian penyakit infeksi terus turun, sementara penyakit yang berkaitan dengan sistem imun seperti alergi terus meningkat," katanya dalam kesempatan yang sama.

Ulrich menambahkan, setiap bayi baru lahir pada dasarnya memiliki risiko alergi sekitar 5-15 persen. "Terlebih jika salah satu atau kedua orangtuanya juga memiliki riwayat alergi. Bayi tersebut beresiko tinggi juga memiliki alergi," katanya.

Pengobatan dan perawatan penyakit alergi ternyata membutuhkan biaya kesehatan cukup tinggi. Di Perancis, misalnya, setiap bayi yang menderita dermatitis atopik atau eksim, setiap tahunnya memerlukan biaya mencapai 1.500 euro (sekitar 19 juta rupiah).

Karena itulah pencegahan alergi menjadi sangat penting. "Tindakan pencegahan bisa dimulai sejak kehamilan dengan cara menghindari paparan asap rokok. Kemudian setelah bayi lahir lakukan pemberian ASI eksklusif," kata Ulrich.



Sumber Kompas



Info Alkes

Alergi pada Bayi Bisa Dicegah

Kompas.com - Alergi bukan cuma dipengaruhi oleh riwayat keluarga karena setiap bayi memiliki risiko alergi sampai 15 persen. Karena itu deteksi dini dan tindakan pencegahan timbulnya gejala sangat penting diketahui.

Anak-anak yang lahir dari orangtua yang memiliki riwayat alergi, baik salah satu atau kedua orangtuanya, beresiko tinggi menderita alergi juga.

"Pada bayi yang termasuk beresiko tinggi itu perlu dilakukan tindakan pencegahan. Pencegahannya harus sangat dini atau terlambat sama sekali," kata Prof.Urlich Whan, pakar bidang Pneumonolgy dan Allergology dari Jerman dalam acara bertajuk Pencegahan Alergi Primer dan Dampak Ekonomi di Jakarta (19/3/13).

Urlich menjelaskan pentingnya pencegahan primer bahkan sebelum bayi lahir. "Ibu hamil, terlebih jika ada riwayat alergi, harus menghindari paparan asap rokok," katanya.

Asap rokok, menurut Dr.Zakiudin Munir, Sp.A(K), konsultan alergi dan imunologi dari FKUI/RSCM Jakarta, bisa merusak barier di plasenta.

"Selain itu asap rokok juga akan mengganggu pertumbuhan paru pada janin sehingga anak kelak akan beresiko asma. Zat-zat dalam rokok juga merangsang sitokin-sitokin dalam tubuh sehingga memicu alergi," kata Zakiudin.

Calon ibu yang memiliki alergi tidak disarankan melakukan pantang makanan demi mencegah alergi pada bayinya. "Tidak direkomendasikan untuk berpantang makanan saat hamil karena bisa mengganggu pertumbuhan janin," kata Ulrich.

Setelah melahirkan, bayi sebaiknya diberikan ASI eksklusif. "ASI mengandung protein dari ibu sendiri sehingga tak akan ditolak tubuh. Selain itu ada zat-zat dalam ASI yang meningkatkan imunitas bayi," imbuh Zakiudin.

Ia menambahkan, berpantang makanan pencetus alergi pada ibu menyusui baru dilakukan jika bayi sudah menderita alergi. "Kalau bayi belum ada gejala alergi sebaiknya tak perlu pantang supaya mutu ASI bagus," katanya.

Pada bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI, pemberian susu terhidrolisis parsial atau susu dengan protein yang sudah dihidrolisis, bisa mencegah risiko alergi.

"Susu yang terhidrolisis parsial akan membantu tubuh mengenali protein dalam susu tetapi tidak mencetuskan alergi," kata Ulrich.



Sumber Kompas



Info Alkes