Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Jakarta, Kompas - Upaya lebih untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dokter menjadi semakin penting. Belum optimalnya aspek komunikasi dokter dan pasien menjadi salah satu persoalan praktik kedokteran sehingga menimbulkan banyak pengaduan.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Forum Komunikasi Rumah Sakit dalam Rangka Pembinaan Praktik Kedokteran yang Baik, di Jakarta, Rabu (29/5). Wakil Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) Sabir Alwy mengatakan, MKDKI menerima 208 pengaduan selama tahun 2006 hingga Mei 2013. Sebanyak 59 persen pengaduan berkaitan dengan masalah komunikasi.
”Permasalahan yang paling banyak diadukan adalah komunikasi, selain soal dokter ingkar janji, penelantaran, pembiayaan, standar pelayanan, dan lainnya. Terkait komunikasi, pasien mengeluh soal dokter yang lebih banyak diam dan tidak memberikan penjelasan, penggunaan istilah kedokteran yang tidak dipahami, hingga miskomunikasi antara dokter dan pasien,” ujarnya.
Menurut Sabir, penyampaian informasi yang komunikatif terkait penyakit, tindakan yang akan diambil, serta risiko yang timbul kepada pasien merupakan kewajiban dokter. Untuk itu, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Pakar komunikasi dari Universitas Mercu Buana, Leila Mona Ganiem, mengatakan, kebanyakan dokter cenderung mengembangkan kemampuan teknis. Padahal, interaksi sehari-hari terkait tubuh manusia perlu dijelaskan secara detail kepada pasien. Jika tidak, justru akan timbul kecemasan pasien hingga pengaduan. Karena itu, peningkatan kemampuan komunikasi harus mendapatkan porsi lebih.
”Tidak hanya fasilitas, rumah sakit juga perlu secara aktif melihat komunikasi sebagai bagian yang perlu ditingkatkan. Mereka bisa memfasilitasi dokter agar semaksimal mungkin mendapatkan kemampuan itu,” ujar Mona.
Ia menambahkan, rumah sakit juga bisa menyediakan ruang khusus atau forum interaksi dokter dan pasien untuk penyampaian informasi dari yang bersifat generik hingga yang berpotensi menimbulkan kecemasan tinggi, misalnya diagnosis penyakit berat.
Dokter dan rumah sakit juga harus menyikapi kondisi di mana mereka saat ini berhadapan dengan masyarakat yang semakin cerdas dan selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya seiring dengan perkembangan teknologi.
”Kalau masyarakat sudah semakin cerdas dan berani menyampaikan pandangan serta kekecewaannya, itu seharusnya jadi perhatian dokter dan rumah sakit untuk memperbaiki dirinya,” kata Mona. (K12)
KOMPAS.com - Masih ragu dengan pentingnya kesehatan tidur? Bukti-bukti ilmiah tentang pentingnya tidur terus bertambah. Nah, yang terbaru adalah tentang pentingnya tidur bagi perkembangan otak.
Penelitian yang terbit pada American Journal of Physiology: Regulatory,Integrative and Comparative Physiology, edisi Februari 2013 menunjukkan perubahan-perubahan gelombang otak tidur pada masa pra remaja. Pematangan sel-sel saraf ini terjadi pada peralihan masa kanak-kanak ke remaja.
Tidur memiliki tahapannya sendiri sepanjang malam berdasarkan gelombang otak selama tidur. Dua pembagian besar adalah tahap tidur REM dan tidur NonREM. Tahapan tidur NonREM (NREM) dibagi lagi menjadi tahap tidur N1, N2 dan N3. N1 merupakan tahap tidur ringan, N2 tidur sedang, dan N3 adalah tahap tidur dalam.
Penelitian ini melihat gelombang otak delta dan theta pada tahap tidur REM dan NonREM di rentang usia 6-18 tahun. Lalu dinilai perubahan-perubahan gelombang delta yang terjadi. Perubahan delta power seiring bertambahnya usia berkaitan langsung dengan proses pematangan otak dan kemampuan berpikir kompleks manusia.
Delta power NREM meningkat sejak usia 6 hingga 8 tahun lalu menurun. Penurunan aktivitas delta tampak paling banyak di usia 12 sampai 16,5 tahun. Sementara pada tidur REM sejak usia 6 tahun aktivitas delta justru sudah menurun, dan terus turun hingga usia 16 tahun.
Penemuan baru ini menunjukkan bagaimana proses tidur penting bagi perkembangan otak anak-remaja. Terutama dalam rentang empat setengah tahun, dari usia 12-16,5 tahun tidur jadi amat penting. Melihat perubahan pada gelombang otak tidur, sebenarnya merupakan cerminan bagaimana proses tumbuh-kembang dan pematangan saraf-saraf otak terjadi.
Jadi, jika tidur dianggap sebagai fase kehidupan yang tidak aktif, ternyata justru sebaliknya. Segala proses tumbuh-kembang dan pematangan kemampuan otak justru terjadi saat tidur.