Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
KOMPAS.com — Ilmuwan Inggris berhasil menciptakan alat yang mampu 'mencium aroma' kanker kandung kemih pada sampel urine. Alat ini menggunakan sensor untuk mendeteksi aroma yang diberikan urine apabila kanker tersebut ada.
Percobaan awal menunjukkan, hasil uji alat ini memberikan hasil akurat. Dari 10 tes, 9 berhasil mendeteksi dengan benar. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal PLoS One.
Alat ini diciptakan Prof Chris Probert dari Liverpool University dan Prof Norman Ratcliffe dari University of the West of England.
"Alat ini membaca zat yang terlepas menjadi aroma ketika sampel urine masih hangat," kata Ratcliffe.
Untuk menguji kemampuan alat ini, penelitian menggunakan 24 sampel urine dari pria yang memiliki kanker kandung kemih. Adapun 74 sampel urine pria lainnya tidak mengalami kanker. Diakui peneliti, sampel urine yang digunakan dalam riset ini masih terlalu sedikit.
"Kami butuh sampel yang lebih besar sehingga alat ini bisa digunakan di rumah sakit," kata Probert.
Hal senada dikatakan Dr Sarah Hazell dari Cancer Research UK. Menurut dia, meski kebenaran tes mencapai 96 persen, sampel masih terlalu kecil dan hanya berasal dari pria.
"Percobaan ini masih tahap awal. kami membutuhkan lebih banyak sampel urine wanita dan pria untuk menguji alat ini," ujar Hazell.
Walau begitu, Hazell berpendapat, langkah ini sangat baik menuju diagnosa kanker yang lebih aman. Apalagi setiap tahunnya sekitar 10.000 orang di Inggris didiagnosa menderita kanker kandung kemih.
KOMPAS.com — Bagi kaum pria, masalah prostat adalah momok yang kerap menghantui saat menginjak usia lanjut. Tak ada salahnya jika upaya pencegahan penyakit ini sudah dibiasakan sejak usia muda. Salah satu pencegahan yang dapat dipertimbangkan adalah mengonsumsi buah tomat dengan kedelai. Menurut sebuah penelitian, kombinasi tomat dan kedelai ternyata memiliki efek yang lebih baik dalam mencegah masalah prostat. Mengonsumsi keduanya secara bersamaan akan memberi efek yang lebih baik daripada dimakan satu-satu.
Seperti yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Prevention Research, kombinasi dua makanan ini efektif dalam mencegah kanker prostat.
Para peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign dan Ohio State University melakukan percobaan pada tikus untuk menguji kemampuan kombinasi ini. Mereka sudah merekayasa gen dari tikus agar dapat mengembangkan sebuah bentuk agresif dari kanker prostat.
Mereka memberi makan tikus-tikus dengan bubuk tomat yang mengandung dua persen kedelai, sementara ada kelompok tikus yang diberi makan tomat atau kedelai saja.
Hasilnya, tikus yang berasal dari grup kombinasi tomat dan kedelai 45 persen mengalami kanker prostat. Angka ini dibandingkan dengan tikus dari grup tomat, yaitu sebanyak 61 persen, dan grup kedelai 66 persen.
Para peneliti mengatakan, jika diaplikasikan pada manusia dewasa, hasil ini dapat diterjemahkan dengan konsumsi tiga hingga empat sajian tomat per minggu dan satu hingga dua sajian kedelai setiap hari.
Mereka juga mengatakan, sajian alami yang diperoleh dari buah tomat dan susu kedelai lebih memberikan manfaat daripada suplemen likopen dan kedelai. Alasannya, kandungan secara keseluruhan makanan dapat menambah efek dalam melawan sel kanker.
Kompas.com - Polusi udara berat bukan cuma menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga diduga kuat memicu kanker pada anak. Menurut studi terbaru, bayi yang sering terpapar polusi udara selama berada di kandungan dan satu tahun usianya lebih beresiko terkena kanker, terutama leukemia akut limfoblastik (LLA).
Leukimia akut limfoblastik merupakan kanker leukemia yang paling banyak diderita anak. Pada kondisi tersebut sel limfoblast tidak pernah menjadi bentuk yang matur yaitu limfosit sehingga tidak dapat berfungsi secara normal. Padahal fungsi limfosit adalah untuk melawan infeksi, sehingga akibatnya anak menjadi gampang sakit.
Tim peneliti dari Universitas California, Los Angeles School of Public Health, mengumpulkan data anak-anak yang didiagnosa kanker sebelum usia 6 tahun. Dikumpulkan pula paparan polusi udara lalu lintas. Ternyata, makin berat paparan pulusi, makin tinggi risiko seorang anak terkena kanker LLA, sel tumor germ (testis, ovarium, dan organ lain), serta kanker mata.
Menurut ketua peneliti, Julia Heck, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa polusi menyebabkan kanker. "Kami menemukan kaitan, tetapi belum bisa dijadikan bukti adanya hubungan sebab akibat," katanya.
Penelitian tersebut dilakukan di California, yang memang dikenal memiliki kualitas udara buruk. Salah satu negara bagian AS itu memiliki cuaca hangat sehingga polutan udara mudah terperangkap dan menyebabkan kabut asap.
Para peneliti memilih untuk fokus pada kehamilan karena menurut Heck beberapa jenis kanker terjadi sejak kehamilan.
Meski begitu menurut Dr.Rubin Cohen, direktur Adult Cystic Fibrosis and Bronchiestasis Center, mengatakan ada beberapa penyakit yang terkait dengan polusi udara. Tetapi menurutnya penyakit asma adalah ancaman yang nyata.
Kompas.com - Belasan anak-anak berusia balita sampai praremaja yang merupakan pasien kanker anak tampak ceria bercengkerama dengan orangtua mereka di Rumah Kita, di Jalan Karang Menjangan No.5 , Surabaya, Kamis (11/4/13).
Rumah yang baru diresmikan tersebut merupakan rumah yang menampung pasien kanker anak dan orangtua yang mendampingi. Rumah Kita di Surabaya merupakan persembahan dari Panadol lewat program Aksi Peduli bersama Panadol kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Jawa Timur.
Tidak tampak kesedihan atau kesakitan di wajah anak-anak tersebut meski sesungguhnya mereka menanggung beban penyakit yang berat. Di usia masih sangat belia, anak-anak itu harus menjalani perawatan kanker di rumah sakit dalam jangka waktu yang tak tentu kapan berakhir.
Rumah Kita di Surabaya terletak persis di belakang RS.Dr.Soetomo sehingga pasien dan keluarga bisa dengan mudah bolak-balik ke rumah sakit.
Menurut Ira Soelistiyo, pendiri YKAKI, meski sekarang ini pasien kanker anak sudah bisa berobat gratis, tetapi tetap diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk ongkos ke rumah sakit serta akomodasi jika mereka berasal dari luar kota.
"Faktor sosial ekonomi sering membuat pengobatan pasien menjadi tidak tuntas. Padahal, pengobatan kanker tidak boleh putus," katanya.
Di Rumah Kita, keluarga pasien diberi tempat tinggal serta makan dan minum. Kondisi rumah singgah tersebut bersih dan nyaman. Terdiri dari dua lantai, rumah tersebut dilengkapi kamar tidur, dapur bersama, ruang tamu, ruang makan, serta tempat bermain di teras. Mereka boleh tinggal dalam jangka waktu sesuai lamanya pengobatan.
Sementara ini di Rumah Kita Surabaya baru ada dua keluarga pasien yang tinggal. Namun, menurut Ira hal itu memang karena rumah singgah itu baru diresmikan. Rumah tersebut mampu menampung 24 pasien anak dan pendampingnya. Untuk saat ini YKAKI masih dalam status mengontrak rumah tersebut. "Moga-moga di masa depan kami bisa mengumpulkan dana untuk membeli rumah ini," kata Ira.
Kehadiran Rumah Kita mendapat apresiasi dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini. "Dengan adanya rumah singgah ini orangtua tidak perlu bingung lagi. Perjalanan yang jauh dari rumah ke rumah sakit tentu melelahkan untuk anak. Kehadiran rumah ini memberikan jalan bagi orangtua untuk berharap," katanya.
Hak anak
Di Rumah Kita, anak-anak yang menderita kanker diharapkan tetap bisa menikmati haknya untuk tumbuh, bermain, dan belajar. "Rumah ini juga menjadi wadah untuk saling menguatkan, berbagi, sambil mendapatkan perawatan yang layak," kata Endang Putri, Brand Manager Panadol, disela acara peresmian.
Dalam program "Aksi Peduli bersama Panadol" masyarakat diajak berpartisipasi menunjukkan kepedulian mereka terhadap sesama dengan cara mengirimkan foto dan cerita singkat tentang hal kecil yang ingin dilakukan untuk sesama. Setiap foto yang dikirim dihargai Rp 5000 dan dalam waktu tiga bulan telah terkumpul dana Rp 500 juta yang seluruhnya diberikan kepada YKAKI untuk membangun Rumah Kita di Surabaya.
Bagi keluarga pasien, keberadaan Rumah Kita dianggap sangat mendukung pengobatan kanker. Karyastuti, Ketua YKAKI Jawa Timur, menceritakan pengalamannya saat mendampingi anak bungsunya yang menderita leukimia di tahun 2002.
"Setelah didiagnosa leukimia, saya harus mendampingi anak saya selama ia menjalani pengobatan di rumah sakit selama tiga bulan. Setelah itu selama dua tahun saya bolak-balik untuk berobat dari Sidoarjo ke Surabaya. Bagi pasien yang tidak mampu tentu sangat berat mencari biaya untuk transportasi," katanya.
Siti Ngaisah, orangtua dari Fantika Setiarini (14) yang juga menderita leukimia, mengatakan keluarganya terpaksa pindah dari Nganjuk ke Surabaya supaya putri bungsunya itu bisa mendapat pengobatan.
"Kami terpaksa pindah dan menjadi warga Surabaya supaya biaya perawatan di tanggung pemerintah. Terpaksa mengontrak rumah dan memulai dari nol lagi," katanya.
Rumah Kita di Surabaya merupakan rumah singgah kedua setelah sebelumnya YKAKI merintis pembangungan rumah singgah di Jakarta yang terletak tak jauh dari RSCM.
Menurut Ira, dalam waktu dekat akan diresmikan pula Rumah Kita di Bali dan Bandung. "Bukan hanya anak Jakarta dan Surabaya saja yang berhak mendapat perhatian, tapi juga anak-anak di seluruh Indonesia," katanya.
KOMPAS.com - Pasien mendengkur yang menderita sleep apnea ternyata mempunya risiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita kanker otak, dibanding yang tidak. Penelitian yang dilakukan oleh dokter Huang Chun Hao dari Taiwan ini memantau 112.555 penderita sleep apnea, dan 112.555 orang lainnya yang sehat.
Penelitian ini melihat rekam medis penderita sejak tahun 2000. Beberapa pasien diikuti selama lebih dari 10 tahun. Hasilnya, kejadian tumor ganas otak di antara penderita sleep apnea setiap tahunnya adalah 2,96 setiap 10.000 orang.
Sleep apnea
Orang yang sedang ngorok memang tampak nyenyak dan nyaman, tapi tahukah Anda bahwa tidur mendengkur mengandung bahaya besar? Ya, bahaya tersebut bernama sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, mengalami penyempitan saluran nafas saat tidur hingga udara tak ada yang bisa lewat. Walau gerakan nafas tetap ada, penderita sleep apnea seolah tercekik tak bisa bernafas.
Sebentar ia akan tersedak dan mengambil nafas. Sayangnya semua ini terjadi saat tidur, hingga penderita sleep apnea tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, kadar oksigen dalam tubuh berulang kali turun naik.
Penelitian lain
Kadar oksigen normal manusia saat tidur adalah 90%-100%. Penderita sleep apnea bisa turun jauh di bawah itu. Penelitian di Spanyol tahun lalu menemukan bahwa mereka yang mengalami penurunan kadar oksigen hingga di bawah normal saat tidur, mempunyai risiko terkena kanker hingga 68%. Penelitian yang diterbitkan pada the American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine itu menyebutkan bahwa penderita sleep apnea memiliki risiko 4,8 kali lebih besar untuk meninggal karena kanker.
Beberapa penelitian di AS menyebutkan angka penderita sleep apnea sejumlah 3% sampai 20% dari penduduk. Sementara yang benar-benar terdiagnosa baik dan dirawat hanya 20% nya saja. 80% sisanya tidak mendapat perawatan apa-apa. Artinya sekian banyak penderita sleep apnea tetap menanggung risiko kesehatan yang tidak ringan.
Di Indonesia belum ada penelitian berskala besar tentang sleep apnea. Tetapi melihat penelitian-penelitian di negara-negara lain, diduga jumlahnya tak jauh berbeda. Lihat saja di sekeliling kita, rekan atau kerabat, pasti ada yang mendengkur.
Bagi seorang dokter ahli kesehatan tidur, sleep apnea bukanlah gangguan tidur yang sepele. Sleep apnea telah diketahui berakibat langsung pada hipertensi, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengakibatkan penyakit diabetes, stroke dan impotensi. Belum lagi akibatnya pada kualitas hidup yang disebabkan oleh hipersomnia atau kantuk berlebihan. Jika ada kerabat atau sahabat yang mendengkur, peringatkan. Anda menyelamatkan nyawanya.
Jakarta, Kompas - Kanker mata atau retinoblastoma merupakan kanker penyebab kematian tertinggi kedua pada anak. Harapan hidup anak meningkat jika gejala diketahui lebih dini dan segera mendapat pengobatan medis.
Dokter spesialis anak konsultan hematologi-onkologi di Rumah Sakit Kanker Dharmais Edi Setiawan Tehuteru dalam acara Edukasi Kanker Anak, Jumat (12/4), di Jakarta, mengatakan, umumnya pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi kanker stadium 3 atau 4. ”Pada kondisi itu, sulit menyelamatkan pasien karena harapan hidup tinggal 20 persen,” kata Edi.
Di negara maju seperti Amerika Serikat, pasien datang ke rumah sakit saat kanker masih stadium 1 atau 2. Dengan demikian, tidak hanya mata pasien, tetapi nyawa pasien juga dapat diselamatkan.
Menurut Edi, mengenali gejala kanker mata dan mengobati sedini mungkin dapat meningkatkan angka harapan hidup pasien hingga 80 persen. Pengobatan kanker secara medis mata rata-rata perlu waktu 1,5 tahun.
Masyarakat umumnya masih enggan untuk segera melaksanakan pengobatan yang disarankan dokter. Mereka menunda pengobatan dengan dalih keputusan harus diambil oleh keluarga besar. Penundaan pengobatan berbahaya karena pertumbuhan sel kanker sangat cepat.
”Biasanya mereka mencari pengobatan alternatif lebih dulu, misalnya pengobatan herbal. Selain belum tentu berhasil baik, harga obat herbal juga kerap lebih mahal,” kata Edi.
Gejala
Kanker mata ditandai dengan manik bola mata yang berubah menjadi putih, mata juling, dan berwarna merah. Kanker mata dapat menyebabkan kebutaan. Bila terlambat ditangani, kanker ini dapat mengakibatkan kematian.
Di Indonesia, diperkirakan ada 4.100 kasus baru kanker anak tiap tahun. Belum dapat dipastikan berapa jumlah kasus kanker mata. Kanker darah (leukemia) masih menjadi kanker penyebab utama kematian anak.
Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) Pinta Manullang Panggabean mengatakan, meningkatnya kasus kanker pada anak seharusnya menjadi perhatian masyarakat. Berdasar pengalamannya mengedukasi masyarakat, banyak orang tidak tahu kanker dapat terjadi pada anak. ”Karena itu, edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat harus dilakukan,” katanya. (DOE)
Kompas.com - Sebuah obat baru untuk kanker payudara dengan nama generik Kadcyla telah disetujui oleh badan pengawas obat dan makanan AS (FDA). Obat tersebut diklaim mampu meningkatkan harapan hidup pasien stadium lanjut hingga enam bulan lebih lama.
Kadcyla menargetkan pada sel-sel tumor, tanpa merusak sel-sel yang sehat. Obat ini dapat membantu meningkatkan usia harapan hidup secara lebih berkualitas. Salah satu pasien, Lisa Canales (50), yang telah berjuang melawan kanker payudara selama 15 tahun merasakan adanya perbaikan sejak mendapatkan obat Kadcyla.
"Cara yang baik untuk menjelaskan mekanisme obat ini ialah dengan perumpamaan; jika kita ingin mematikan satu lampu pada langit-langit, kita harus mematikan semua lampu. Namun dengan obat ini, kita dapat pergi pada satu lampu yang ingin kita matikan tanpa mematikan lainnya," tutur dr. Marc Citron, Direktur pelayanan kanker di ProHealth Care Associates.
Citron mengatakan, obat ini dapat memberikan keuntungan lebih baik daripada pengobatan yang sebelumnya. Hal ini karena obat ini dapat menunda perkembangan sel kanker selama beberapa bulan. Kadcyla memberikan pengobatan lebih baik dengan efek samping yang lebih kecil.
"Pengobatan ini luar biasa, karena dapat memberikan saya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang saya perlu kerjakan. Saya tidak punya waktu untuk merasa buruk, karena saya telah menghabiskan 16 tahun waktu saya dengan kanker," ujar Canales.
Obat ini digunakan terutama untuk kanker pada pada stadium penyebaran atau metastasis dengan gen Human Epidermal-growth factor Receptor-2 (HER-2) positif. HER-2 positif adalah suatu protein yang diproduksi oleh gen yang potensial menyebabkan kanker. Penggunaan Kadcyla dikombinasikan dengan obat Herceptin (trastuzumab) dan juga kemoterapi taxane.
Dokter berharap penggunaan Kadcyla dapat semakin luas untuk melawan kanker payudara di masa mendatang.
"Obat ini sedang diperiksa untuk digunakan pada stadium kanker payudara yang lebih awal, baik pada pasien sebelum operasi, dan pasien sesudah operasi. Secara umum, bila suatu obat efektif untuk kanker stadium akhir, maka akan lebih efektif untuk stadium sebelumnya," papar Citron.
Kompas.com - Kesembuhan pasien kanker tak hanya ditentukan kemajuan teknologi atau pengobatan. Keadaan lingkungan atau psikososial juga memegang peranan penting. Itu sebabnya dibutuhkan dukungan motivasi dari lingkungan terdekat pasien.
"Perjalanan menuju sembuh adalah seni. Tiap orang berbeda dan kami terus belajar dari pasien," kata Dr. Ang Peng Tiam, Medical Director and Senior Consultant Medical Oncology Parkway Cancer Centre, Singapura, dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Kompas.com di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Ang, untuk menuju sembuh tim dokter di rumah sakit seharusnya tidak hanya merawat penyakit, tapi juga merawat pasien. Prinsip ini melahirkan perlakuan yang berbeda. Merawat penyakit mengindikasikan proses menuju sembuh yang hanya berpedoman pada proses perkembangan penyakit sementara kondisi psikologi dan kenyamanan pasien menjadi kurang diperhatikan.
"Ketika vonis kanker dijatuhkan, kebanyakan pasien merasa khawatir, minder, dan takut akan masa depan. Sebagian pasien kemudian membatasi diri dengan orang terdekatnya. Sebaliknya lingkungan sekitar juga tidak tahu bagaimana memperlakukan pasien kanker," kata Ang.
Kurangnya komunikasi membuat pasien kanker merasa terkucil. Padahal hal itu akan memperburuk mood pasien sehingga yang terpikir hanya melulu kanker itu dan mulai membayangkan hal buruk yang mungkin timbul.
Saat seseorang terdiagnosa kanker, bukan hanya pasien yang merasa tertekan, tapi juga seluruh anggota keluarga. Untuk itu menurut Ang, pihak keluarga juga harus mendapat informasi yang benar seputar penyakit.
Menurut Ang, menjaga kondisi psikologis pasien dan anggota keluarga dibutuhkan karena tidak semua penyakit kanker bisa disembuhkan. "Tidak jarang pasien datang dengan kondisi parah dan tidak mungkin lagi disembuhkan. Pada kondisi ini rumah sakit harus menjadi tempat transit yang pantas menjelang ajal pasien," katanya.
Pada pasien yang penyakitnya tidak bisa disembuhkan, perawatan lebih ditekankan pada pengelolaan efek samping pengobatan. Sasaran dari program perawatan ini adalah memungkinkan pasien mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan tenang dan menjalani hari-hari terakhir mereka senyaman mungkin.
Kompas.com - Anemia alias kekurangan zat besi bukan cuma terkait dengan gejala mudah letih dan lelah, tapi juga bisa menjadi indikator penyakit kanker. Kendati jarang, namun ada sel kanker yang bisa memakan zat besi dalam darah sehingga menyebabkan seseorang anemia.
Gejala anemia antara lain selalu merasa letih, lesu, sakit kepala, insomnia, hingga berkurangnya nafsu makan. Kelompok ibu hamil dan anak berusia kurang dari dua tahun adalah kelompok yang akan mengalami dampak paling buruk jika menderita anemia karena bisa menganggu tumbuh kembang anak.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Nadia Ayu Mulansari, anemia bukanlah penyakit, melainkan gejala yang harus dicari penyebab dasarnya atau penyakit yang mendasari anemia tersebut.
Anemia, lanjut Nadia, merupakan suatu keadaan yang menggambarkan kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit (sel darah merah) dalam darah yang kurang dari nilai normal. Anemia umumnya disebabkan oleh kehilangan sel darah merah akibat pendarahan saat kecelakaan atau operasi. Menurunnya produksi sel darah merah, dan peningkatan destruksi sel darah merah atau hemolisis juga menyebabkan anemia.
Nadia menuturkan, adanya penyakit kanker yang ditandai oleh anemia bukan hanya kanker yang berhubungan dengan darah seperti leukimia, namun juga kanker lainnya seperti kanker payudara, kanker saluran cerna dan lain-lain.
"Kanker usus misalnya, biasanya terjadi pendarahan di sekitar sel kanker. Itulah yang mengurangi volume darah di tubuh, salah satu penyebab anemia," paparnya dalam acara peluncuran Tanya Anemia Center yang diadakan oleh Sangobion Rabu (27/3/2013) di Jakarta.
Selain penurunan volume darah akibat pendarahan, sel kanker juga bisa merusak zat besi yang mengakibatkan anemia.
Hemblogin merupakan parameter yang menentukan anemia. "Wanita dikatakan mengalami anemia jika hemoglobinnya kurang dari 12, sedangkan pada pria jika kurang dari 13,5," tutur dokter dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik ini.
Namun, bukan berarti anemia selalu menjadi indikator kanker. Nadia menegaskan, anemia bisa diartikan seperti demam, yang belum pasti menunjukkan gejala penyakit tertentu, melainkan bisa sangat luas. Maka untuk memastikan apa yang menjadi penyebab anemia, harus dilakukan pemeriksaan dengan tepat.
Selain kanker, anemia dapat menjadi indikator dari penyakit thalasemia, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit jaringan ikat, infeksi kronik, dan gangguan nutrisi.
Kompas.com - Sekitar 160.000 pria yang sudah menjalani terapi pengobatan kanker prostat tidak lagi memiliki kehidupan seksual atau tak lagi sebaik biasanya. Data tersebut merupakan data terhadap pasien kanker prostat di Inggris. Namun pasien di negara lain diperkirakan mengalami nasib serupa.
Gangguan seksual yang dialami pasien antara lain disfungsi ereksi alias impotensi sebagai efek samping dari operasi, radioterapi, atau pun terapi hormonal yang dilakukan sebagai bagian dari pengobatan.
Sebagian besar pria yang mengalami gangguan seksual itu karena mereka mengalami kerusakan saraf permanen sehingga tidak lagi mampu ereksi. Sekitar 2 dari 3 pasien kanker prostat mengaku mereka tak lagi mampu ereksi.
Pada beberapa pria gangguan tersebut bersifat sementara karena mereka hanya mengalami hambatan psikologis untuk melakukan hubungan seks.
Profesor Jane Maher dari Macmillan Cancer Support menjelaskan, banyaknya pasien yang mengalami gangguan seksual tersebut membutuhkan penanganan serius. Dokter juga perlu menjelaskan dengan detil kepada pasien sebelum dimulainya terapi pengobatan.
"Banyak yang masih ditolong dengan tindakan pencegahan dan juga dukungan dari keluarga," katanya.
Para pasien juga didorong untuk berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gangguan seksual. "Bagi banyak pria yang menderita kanker prostat ada semacam stigma jika mereka membicarakan tentang disfungsi ereksi," kata Dr.Daria Bonanno, ahli klinis psikologis.
Kebanyakan pasien akan merasa kehilangan maskulinitas dan kesedihan karena mereka tak mampu ereksi. Ini akan semakin membuat mereka secara emosional lebih terisolasi dari pasangannya. Padahal hal itu justru memperburuk gangguan seksualnya.