Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

Susu Rendah Lemak Tak Berarti Lebih Sehat


Kompas.com - Susu rendah lemak (skimmed milk) banyak dipilih oleh orang yang ingin mendapatkan semua manfaat susu tetapi tak berkalori tinggi. Namun menurut studi terbaru susu rendah lemak ternyata bisa memicu kenaikan berat badan.

Peneliti David Ludwig dari Boston's Children Hospital dan Dr. Walter Willett dari Harvard School of Public Health mengatakan minuman rendah kalori tak berarti asupan kalori yang diasup juga sedikit.

Mereka mengatakan, sangat sedikit data yang mendukung susu rendah lemak membantu pengurangan berat badan. Hal ini terjadi karena konsumen yang mengonsumsi susu rendah lemak merasa kurang kenyang sehingga makan dan minum lebih banyak sebagai kompensasi.

Sebuah studi lain yang dimuat dalam majalah Time juga menyebutkan, orang yang minum susu rendah lemak cenderung kegemukan.

"Hipotesis kami adalah anak yang minum susu tinggi lemak, entah whole milk atau dua persen cenderung lebih gemuk karena mereka mengonsumsi kalori yang berasal dari lemak jenuh," kata Dr.Mark Daniel DeBoer, ahli endokrin pediatrik.

Namun ketika para peneliti menganalisa data, ternyata anak-anak yang minum susu rendah lemak dan satu persen lemak justru lebih gemuk dibanding yang minum susu whole milk.

Fakta lain yang perlu diwaspadai adalah susu rendah lemak pada umumnya memiliki kadar gula lebih tinggi supaya rasa susu lebih enak. Misalnya saja, satu gelas susu cokelat rendah lemak mengandung 158 kalori, 68 kalori berasal dari lemak padat dan gula tambahan. Sementara itu susu semi rendah lemak tanpa rasa memiliki 122 kalori, yang 37 diantaranya berasal dari lemak padat dan gula.

Menurut DeBoer, susu rendah lemak juga mengandung nutrisi lebih sedikit dibanding susu biasa. Susu whole milk mengandung vitamin larut lemak seperti vitamin A,D,E, dan K, selain juga kalsium dan fosfor, mineral yang bekerja dengan vitamin D untuk membangun tulang kuat.

Larut lemak berarti, vitamin-vitamin tersebut harus diedarkan dalam atau bersama lemak supaya nutrisinya siap diserap tubuh. Tanpa lemak maka nutrisi tersebut menjadi tidak bisa diserap.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 03 Juni 2013

6 Cara Bakar Lemak Lebih Cepat

KOMPAS.com - Memiliki rencana untuk mendapatkan bentuk tubuh lebih ideal dengan mengurangi berat badan? Simaklah cara yang membuat Anda mampu membakar lebih banyak lemak sepanjang hari berikut ini.

1. Mulai dengan latihan interval
Setelah melakukan latihan interval, maka Anda dapat membakar lemak lebih banyak di latihan selanjutnya. Studi yang dipublikasi dalam Journal of Applied Physiology menemukan bahwa setelah melakukan latihan interval, pembakaran lemak akan berlangsung lebih lama.

2. Sebentar namun rutin
Siapa bilang Anda tidak punya waktu untuk berolahraga? Hanya 20 menit dan dilakukan dengan rutin, olahraga dapat memberikan hasil yang lebih efektif daripada menghabiskan waktu berjam-jam di gym. Hal ini dikarenakan metabolisme tubuh mengalami percepatan satu hingga dua jam setelah berolahraga. Maka tak harus lama, olahraga lebih baik dilakukan rutin.

3. Kurangi stres
Stres sangat berkontribusi pada penumpukan lemak perut. Sebuah studi dari University of California mengatakan, hal tersebut dikarenakan hormon stres kortisol meningkatkan napsu makan dan mempermudah penumpukan lemak di perut. Maka Anda pun butuh aktivitas yang dapat mengurangi kadar stres, seperti yoga ataupun bergaul.

4. Coba yang baru
Tantang tubuh untuk melakukan jenis olahraga baru. Bahkan meskipun Anda pelari yang tangguh, otot Anda tertantang ketika melakukan jenis olahraga lain sehingga membuatnya semakin berkembang.

5. Angkat beban lebih berat
Sekali dalam seminggu, tambahlah beban yang Anda angkat lebih berat daripada biasanya. Ini akan memberikan tantangan bagi otot dan membuatnya lebih kuat. Ketika kardio akan membakar kalori seketika itu juga, angkat beban akan membakar kalori 24 jam kemudian. Selain itu, tidak seperti kardio yang membakar lemak serta otot, angkat beban hanya akan membakar lemak.

6. Cukup tidur
Ingat si hormon stres kortisol? Kurang tidur ternyata juga dapat meningkatkan kadar hormon ini. Menurut penelitian asal University of Chicago, kurang tidur juga meningkatkan kadar hormon insulin yang membuat tubuh semakin sulit dalam mencerna karbohidrat. Tidurlah cukup karena tidur merupakan waktunya tubuh untuk mengisi kembali energi yang mempercepat metabolisme.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 02 Juni 2013

Merawat Kulit Lebih Efektif di Malam Hari

KOMPAS.com - Merawat kulit merupakan kewajiban bagi siapapun yang menginginkan kulit yang sehat. Selain memperhatikan kebersihan, kelembaban, dan nutrisi bagi kulit, ternyata kita juga perlu memperhatikan waktu perawatan guna mendapatkan kulit yang lembut, kenyal, dan kencang.

Menurut dermatolog Global Medical Center dr. Sarah Hutapea, SpKK, waktu yang paling efektif untuk melakukan perawatan kulit adalah di malam hari sebelum tidur. Pada waktu tersebut, kulit melakukan regenerasi lebih cepat, sehingga pengaplikasian produk perawatan kulit seperti lotion akan bekerja dengan efektif.

"Regenerasi kulit terjadi dua kali lebih cepat ketika kita tidur di malam hari. Maka inilah saat yang tepat untuk memakai pelembab, karena akan membantu proses meregenerasinya," paparnya seusai konferensi pers yang diadakan PT Unilever Indonesia, Rabu (29/5/2013) di Jakarta.

Selain itu, imbuh Sarah, jika tidur di ruangan berpendingin kulit juga menerima paparan udara dingin sehingga lebih mudah kehilangan kelembaban alaminya. Pengaplikasian lotion akan membantu menjaga kulit tetap lembab. Maka kita tidak akan melewatkan "kesempatan emas" regenerasi kulit yang cepat di malam hari.

Selain di malam hari, perawatan kulit dapat dilakukan ketika mandi, yaitu dengan menggunakan sabun yang kaya pelembab sehingga mudah meresap pada kulit. Sedangkan pengaplikasian lotion juga efektif sehabis mandi karena dapat menjaga kelembaban dan memberi proteksi sebelum kulit menerima paparan dari cahaya matahari maupun polusi saat beraktivitas.

Selain upaya-upaya primer dalam menjaga kesehatan kulit tersebut, kita juga membutuhkan upaya sekunder. Sarah memaparkan upaya sekunder yang dapat dilakukan antara lain tidak merokok, sebisa mungkin menghindari polusi dan paparan sinar matahari terlalu intens, cukup asupan vitamin dan air, serta menghindari stres dan cukup tidur.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 29 Mei 2013

Diabetes Tipe 2 pada Anak Lebih Cepat Memburuk

Kompas.com - Penyakit diabetes tipe dua pada anak ternyata lebih agresif jika diderita anak-anak ketimbang orang dewasa. Tanda-tanda komplikasi serius juga lebih cepat muncul beberapa tahun setelah didiagnosis.

Penelitian yang dilakukan Dr.Jane Chiang dari American Diabetes Association menunjukkan hal tersebut. Hasil riset tersebut dinilai para pakar sebagai hal yang mengkhawatirkan.

"Jika perburukan penyakit pada anak-anak dengan diabetes tipe dua berlangsung cepat, kita akan melihat dampak buruk dari komplikasi diabetes pada usia yang begitu muda, misalnya penyakit ginjal atau penyakit jantung," kata Chiang.

Riset yang dilakukan Chiang tersebut merupakan studi lanjutan mengenai pilihan terapi untuk penderita diabetes melitus pada anak dan remaja. Para peneliti menggunakan data dari studi tersebut untuk mengetahui faktor yang terkait penyakit ini, misalnya komplikasi.

Penderita diabetes tipe dua memiliki kadar gula darah yang tinggi karena tubuh mereka tidak bisa menggunakan atau menghasilkan insulin, hormon yang diperlukan untuk mengubah gula menjadi energi.

Menurut American Diabetes Associatioon, kegemukan adalah faktor terbesar terjadinya diabetes tipe dua. Jumlah anak-anak yang menderita diabetes tipe dua di AS terus meningkat. Padahal, penyakit ini sebenarnya lebih banyak menyerang orang berusia di atas 40 tahun.

Penelitian yang dilakukan Chiang melibatkan 700 anak penderita diabetes tipe dua yang penyakitnya muncul saat mereka berusia 10-17 tahun. Seluruh partisipan rata-rata berbadan gemuk.

Pada awal dimulainya studi sekitar 12 persen anak menderita hipertensi. Empat tahun kemudian, 34 persen menderita hiperetnsi dan risiko tersebut paling besar dialami anak laki-laki dan bobot badan paling gemuk.

Gejala awal penyakit ginjal, yang disebut microalbuminuria, hampir meningkat tiga kali lipat empat tahun kemudian.

Selain itu, kerusakan sel beta (yang memproduksi insulin), pada anak dan remaja terjadi empat kali lipat lebih tinggi. Anak-anak yang kadar gulanya tinggi juga lebih buruk dalam merespon pengobatan oral sehingga perlu menggunakan insulin.

Dalam tiga tahun, jumlah anak yang membutuhkan obat untuk menurunkan kolesterol jahat meningkat dari 4,5 persen ke 10,7 persen. Perubahan gaya hidup juga tidak banyak berperan menurunkan kolesterol LDL, meski kadar trigliseridanya turun.

Kerusakan pada mata juga ditemukan dalam skala yang sama pada orang dewasa. Sekitar 5 tahun setelah didiagnosis 13,7 persen mengalami gangguan pada mata.

"Kondisi tersebut mengejutkan. Selama ini para dokter merasa sudah melakukan yang terbaik untuk terapi diabetes pada anak tetapi penyakitnya ternyata terus memburuk," kata Dr.Jane Lynch, salah satu peneliti.

Ia menjelaskan, hormon pubertas yang memicu resistensi insulin, mungkin berpengaruh pada terjadinya perburukan penyakit. "Kami belum diketahui apakah perburukan penyakit akan berhenti setelah melewati masa pubertas," katanya.

Karena itu para pakar menekankan pentingnya pencegahan diabetes tipe dua. "Tindakan pencegahan harus dimulai sejak kehamilan dengan cara mencipatkan gaya hidup sehat dan terus dilanjutkan sampai usia sekolah," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Lahir Caesar Anak Beresiko Lebih Gemuk

KOMPAS.com - Sebuah studi baru mengungkap bahwa bayi yang lahir dengan operasi caesar dua kali cenderung untuk kelebihan berat badan di usia praremaja dibanding dengan bayi yang lahir melalui persalinan normal.

Adalah tim peneliti dari New York University School of Medicine yang melakukan analisa terhadap catatan kesehatan lebih dari 10.000 anak Inggris. Mereka menemukan bayi yang dilahirkan dengan cara operasi caesar 83 persen lebih mungkin untuk kelebihan berat badan di usia 11 tahun dibandingkan bayi yang dilahirkan normal.

Hasil ini mendukung studi sebelumnya yang mengatakan adanya hubungan antara bayi yang lahir dengan operasi ceasar dengan obesitas di usia anak-anak.

Para peneliti mengatakan bahwa bayi yang lahir dengan cara alamiah terkena paparan bakteri di jalan lahir. Bakteri ini dapat membantu meregulasi metabolisme setelah mereka memasuki usia yang lebih tua.

Studi ini bertujuan untuk memberikan informasi dari konsekuensi melahirkan caesar yang selama ini belum banyak diketahui. Banyak orang memilih untuk melahirkan dengan cara caesar meskipun tidak ada masalah pada kehamilan mereka. Operasi caesar seharusnya dijadikan pilihan ketika ada masalah pada kehamilan.

Ketua studi dr. Jan Blustein dari New York University School of Medicine mengatakan, wanita hamil perlu mempertimbangkan alasan untuk memilih operasi caesar saat melahirkan, mengingat ada konsekuensi yang harus dihadapi setelahnya.

Studi ini juga melakukan investigasi pada sekitar 14.000 anak yang lahir di awal tahun 1990-an. Para peneliti menemukan, bayi yang dilahirkan dengan cara operasi caesar rata-rata lebih ringan 56 gram saat dilahirkan dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan normal.

Namun setelah berusia enam minggu, bayi yang dilahirkan caesar cenderung lebih berat dibandingkan bayi yang dilahirkan normal. Bahkan hasil ini sudah melibatkan faktor lain seperti pemberian ASI dan berat badan ibu mereka. Para peneliti mengatakan, anak yang lahir dari ibu yang kelebihan berat badan cenderung untuk kelebihan berat badan juga.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal International Journal of Obesity ini juga menekankan pada risiko wanita yang menjalani operasi ceasar. Para wanita ini memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan usus yang sama besarnya dengan risiko komplikasi kehamilan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Kamis, 23 Mei 2013

Kombinasi Jahe dan Obat Asma Lebih Efektif

KOMPAS.com - Selama ribuan tahun, jahe sudah dikelompokkan sebagai penyedap masakan dan minuman, serta pengobatan. Tanaman rimpang ini disukai karena efeknya yang menghangatkan tubuh. Salah satu khasiat lain dari jahe adalah membantu mengurangi gejala asma.

Para peneliti dari departemen anestesiologi Columbia University mengatakan, jika dikombinasikan dengan obat-obatan asma, jahe akan meningkatkan  efek rileksasi otot polos di sekitar saluran napas. Otot-otot ini menyempit saat serangan asma terjadi sehingga menyulitkan untuk bernapas.

Para peneliti menemukan ada tiga komponen spesifik dari jahe yang memiliki efek rileksasi sehingga baik jika dikombinasikan dengan obat asma. Ketua studi Elizabeth Townsend mengatakan, komponen jahe yang telah dimurnikan dapat bekerja secara sinergi dengan pengobatan asma dalam rileksasi otot saluran napas.

"Prevalensi asma meningkat beberapa tahun terakhir, namun dengan pengetahuan yang lebih baik tentang penyebabnya dan bagaimana penyakit ini berkembang, maka pengobatan baru yang lebih efektif dapat diciptakan," ujar Townsend.

Asma dikendalikan oleh otot yang mengetat di saluran udara yang disebut bronkokonstriksi. Maka selama ini asma diobati dengan betagonists yang berfungsi mengendurkan otot.

Untuk mengukur efek dari jahe, para peneliti mengambil sampel jaringan otot saluran napas dan memberikan paparan sebuah senyawa neurotransmiter yang disebut asetilkolin untuk membuat otot berkontraksi. Kemudian mereka memberikan tiga perlakukan berbeda pada otot polos yang berkontraksi tersebut.

Perlakukan pertama yaitu dengan memberikan isoproterenol, salah satu tipe bronkodilator, yang dicampur dengan komponen jahe 6-gingerol. Kedua, pengobatan ditambah komponen jahe 8-gingerol, dan yang tiga pengobatan ditambah komponen jahe 6-shogaol. Sedangkan ada juga kontrol yaitu dengan hanya memberikan pengobatan saja.

Hasilnya, ketiga perlakuan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pengobatan saja. Khususnya, 6-shogaol merupakan komponen yang paling efektif dalam mengendurkan otot yang memperbaiki pengobatan asma.

Ketiga komponen bekerja dengan mempengaruhi enzim yang disebut dengan phosphodiesterase 4D (PDE4D). Penelitian sebelumnya menunjukkan enzim tersebut ditemukan di paru-paru, menghambat mekanisme rileksasi di saluran napas dan mengurangi inflamasi jaringan.

Para peneliti berharap studi ini dapat memberikan penjelasan yang lebih lanjut hingga ke tingkat seluler mengenai efektivitas komponen jahe untuk pengobatan saluran napas.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 11 Mei 2013

Wanita Lebih Lama Sembuh dari Sakit Flu

KOMPAS.com - Obat terbaik saat sakit flu adalah beristirahat total di rumah. Lama sebentarnya waktu istirahat yang diperlukan pria dan wanita saat menderita flu ternyata berbeda. Wanita butuh waktu lebih panjang dibanding pria. 

Menurut data statistik di Australia, wanita rata-rata perlu masa istirahat 3 hari, sementara pada pria hanya rata-rata 2,8 hari. Dari data tersebut ditengarai para pria lebih kuat menghadapi flu parah sehingga memutuskan untuk tidak meninggalkan pekerjaan untuk beristirahat. Selain itu kaum wanita juga lebih sulit untuk sembuh dari virus flu dibanding pria.

Ahli kesehatan masyarakat dari New South Wales Dr. Craig Dalton mengatakan, pria memang merasa sakit, namun mereka cenderung lebih mampu menahan rasa itu. Ditambah lagi, wanita lebih mudah terserang flu dibandingkan pria.

Sebuah penelitian baru di London School of Hygiene and Tropical Medicine mendukung pernyataan dari data statistik tersebut. Studi dengan metode survei pada 5000 orang tersebut menemukan, wanita cenderung gampang mengeluh saat sakit flu.

Peneliti studi Dr. Alma Adler mengatakan, selama ini ada mitos bahwa pria cenderung lebih "cengeng" saat sakit. Namun studi ini menyatakan sebaliknya.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan perbedaan cara virus flu menyerang wanita dan pria. Sehingga tidak dapat dikatakan wanita memiliki gejala yang lebih berat sehingga lebih menderita," ujar Adler.

Peserta dalam survei tersebut diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar gejala yang mereka alami dengan skala 0 hingga 100. Baik pria maupun wanita yang sehat memiliki skor yang hampir sama yaitu rata-rata 90.

Namun ketika ditanya gejala saat sakit, para pria memberi skor 60, sedangkan wanita memberi skor 50.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 06 Mei 2013

Wanita Lebih Rentan Gusi Berdarah

Kompas.com - Perubahan hormonal pada wanita bisa memicu penyakit gusi berdarah pada wanita. Meski begitu, hal tersebut juga tergantung pada ada tidaknya penumpukkan plak pada pertemuan gigi dan gusi.

Gusi berdarah merupakan gejala awal terjadinya peradangan gusi atau gingivitis.

Menurut drg.Dedy Yudha Rismanto, Sp.Perio, perubahan hormon akan menyebabkan gusi bengkak, tanpa rasa sakit, atau perdarahan.

"Biasanya didahului dengan adanya kuman atau tumpukan plak. Perubahan hormon akan memacu kerja kuman-kuman itu," katanya dalam acara konferensi media Solusi Permasalahan Gusi di Jakarta, Kamis (2/5/13).

Karena kuman bertambah aktif, gusi akan terangsang untuk mengeluarkan reaksi imunitas sehingga terjadi radang dan bengkak.  "Reaksi ini menyebabkan gusi mempertebal dindingnya pada bagian leher. Makanya jadi bengkak," kata dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Bila bengkak dibiarkan, dinding yang dibangun akan jebol dan mengakibatkan kuman masuk ke dalam lapisan gigi. Kuman tersebut berpotensi menimbulkan luka pada pembuluh darah dan jaringan di dalamnya sehingga menimbulkan gusi berdarah.

Sedikitnya ada 5 hal yang menandakan terjadinya radang, yakni bengkak, rasa sakit, timbulnya demam, kerusakan jaringan, dan kerusakan sel. Pada radang gusi, demam terjadi di tingkat sel sehingga tidak bisa dirasakan.

Penyakit gusi berdarah karena perubahan hormon memang sulit dihindari karena tidak mudah mengontrol hormon dalam tubuh.

"Untuk mencegah terjadinya gusi berdarah bisa dilakukan dengan rajin membersihkan gigi dan karang gigi, serta memeriksakan gigi dan gusi," katanya



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 24 April 2013

Ayo, Lebih Peduli Parkinson

Kompas.com - Meningkatnya usia harapan hidup membuat jumlah penduduk berusia lanjut melonjak. Konsekuensi yang mengiringi hal tersebut antara lain peningkatan jumlah penyakit degeneratif seperti penyakit parkinson. Di RSCM Jakarta, penyakit ini masuk dalam 10 peringkat penyakit paling sering diderita.

Penyakit parkinson merupakan penyakit penurunan fungsi saraf progresif yang menyebabkan ketidakmampuan gerak yang semakin memburuk dan semakin mengganggu karena terjadi dalam jangka panjang. Makin tua usia seseorang, makin rentan ia menderita parkinson. Umumnya, penyakit ini terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun, namun parkinson juga dapat terjadi pada orang yang berusia lebih muda.

Penderita parkinson cukup banyak di Indonesia. Di RSCM Jakarta saja setiap bulannya ada 40 sampai 50 kunjungan pasien parkinson, dan ada 3 kasus baru. Di dunia angka untuk penyakit ini mencapai 4 juta orang.

Spesialis saraf dari Rumah Sakit PMI Bogor dr. Banon Sukoandari, Sp.S mengatakan, penyakit parkinson memiliki dimensi gejala klinis yang sangat luas sehingga sangat mempengaruhi kualitas hidup penyandang maupun keluarganya.

"Meskipun bukan penyakit yang mematikan, parkinson dapat menurunkan kualitas hidup penyandang karena semakin lama mereka tidak mungkin dapat melakukan apa yang orang lain bisa lakukan, terutama yang berhubungan dengan gerakan," tutur Banon dalam Forum Edukasi Media bertajuk "Seni Parkinson: Saya dan Keluarga Kamis (11/4/2013) kemarin di Jakarta.

Walau sebenarnya sulit didiagnosis, ada empat gejala utama parkinson. Gejala paling umum yang sangat dikenal adalah tremor istirahat, yaitu gemetar tidak terkontrol- biasanya terjadi pada tangan atau kaki-saat keadaan istirahat.

Selain itu, banyak pasien yang mengalami rigiditas otot (kekakuan anggota gerak), bradikinesia (gerakan melambat), gangguan berjalan (berjalan yang kacau), dan perubahan postur (gangguan keseimbangan).

Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai penyakit parkinson, maka Yayasan Peduli Parkinson Indonesia (YPPI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan PT Roche Indonesia mengadakan seminar yang terbuka untuk umum, termasuk pasien dan keluarga pasien Parkinson. Seminar tersebut akan diadakan pada tanggal 28 April 2013 di SMESCO Building pukul 09.00-12.00.

"Dengan bertambahnya kepedulian masyarakat maka diharapkan kualitas hidup penyandang akan semakin baik karena dukungan kepada mereka terus membaik," tandas Ketua YPPI ini.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 19 April 2013

Belajar Jalan Lebih Cepat Belum Tentu Anak Hebat

Kompas.com - Dalam hal kemampuan berjalan, kebanyakan orangtua menilai anak yang mampu berjalan lebih cepat dari usianya sebagai anak yang hebat. Padahal, dalam jangka panjang kemampuan berjalan yang lebih cepat tersebut tidak berpengaruh banyak kemampuan motorik anak.

Bayi biasanya mulai belajar berjalan mulai usia 10 bulan dan siap berjalan sendiri di usia setahun. Namun, ada juga anak yang mulai berjalan di usia 9 bulan atau usia 18 bulan. Menurut penelitian yang digelar di Swiss, bayi yang berjalan lebih cepat dari tahap perkembangannya tidak berpengaruh banyak pada kemampuan motoriknya di kemudian hari.

Para peneliti menemukan bahwa bayi yang mulai bisa berjalan di usia 9 bulan tidak lebih memiliki kemampuan motorik lebih baik daripada bayi yang terlambat berjalan. Demikian hasil yang dimuat dalam studi yang dipublikasi di jurnal Acta Paediatrica ini.

Para peneliti menganalisa kecerdasan dan kemampuan koordinasi dari 222 bayi yang sehat hingga mereka mencapai usia 18 tahun. Mereka mengambil kesimpulan bahwa hanya ada hubungan kecil bahkan hampir tidak ada hubungan sama sekali antara kemampuan awal berjalan dengan perkembangan di kemudian hari.

Kemampuan bayi untuk belajar duduk tanpa bantuan dan berjalan paling tidak lima langkah tanpa berpegangan juga dicatat. Rata-rata, para bayi dapat melakukan hal tersebut pada usia enam setengah bulan. Namun ada pula bayi yang baru bisa melakukannya setelah melalui usia satu tahun.

Juru bicara tim peneliti mengatakan, waktu berjalan benar-benar tidak memiliki konsekuensi. Anak yang mulai bisa berjalan lebih cepat tidak terlihat memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan koordinasi yang lebih baik.

Profesor Mitch Blair dari Royal College of Paediactrics and Child Health mengatakan, orangtua seringkali mencemaskan bila anaknya berjalan lebih lambat daripada anak seusianya. "Padahal itu tidak berpengaruh pada perkembangan anak." ujarnya.

Ia mengatakan, orangtua dapat memeriksaan anaknya apabila hingga usia 18 bulan anak mereka masih belum dapat berjalan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 15 April 2013

Agar Pemberantasan Nyamuk DBD Lebih Efektif

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAIlustrasi: Petugas melakukan pengasapan pada sebuah gedung di Kota Semarang, Jawa Tengah untuk mencegah serangan nyamuk demam berdarah.

KOMPAS.com - Nyamuk adalah hewan yang dikenal sebagai vektor penyakit berbahaya. Salah satu penyakit mematikan yang ditularkan melalui perantara nyamuk adalah demam berdarah dengue (DBD). Nyamuk Aedes aegypty merupakan vektor utama virus dengue, sedangkan Aedes albopictus menjadi vektor sekunder. Kedua hewan ini  dapat dikenali lewat tubuhnya yang bergaris hitam putih.

Segala cara kita lakukan untuk menghalau gangguan nyamuk. Namun seringkali cara menghalau tak tepat sasaran. Kalau sudah begini, nyamuk tetap datang mengganggu, dan bisa menjadi lebih kuat karena efek resistensi.

Menurut Dr.dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc dari Pusat Riset Epidemiologi dan Surveilans Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), agar pengendalian nyamuk ini menjadi lebih efektif, langkah menghalau hewan ini harus disesuaikan berdasarkan fase hidupnya.

Pada seminar bertajuk  "Menyikapi Kejadian Luar Biasa Kasus DBD yang Terus Meningkat di Indonesia", Selasa (2/4/2013)  di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Tri menjelaskan, nyamuk memiliki 4 fase dalam hidupnya yakni  telur, larva, dan pupa sebelum akhirnya dewasa.

Seluruh siklus tersebut membutuhkan fase 21 hari. Fase telur menjadi larva perlu waktu 1-2 hari. Larva menjadi pupa menghabiskan 4-9 hari. Tahap pupa menjadi dewasa membutuhkan 2-3 hari. Sementara, nyamuk dewasa hanya bertahan hidup selama 14 hari.

Untuk membersihkan telur nyamuk, masyarakat harus rajin membersihkan tempat air tergenang, misalnya bak kamar mandi. Membersihkan dapat dilakukan seminggu dua kali. Fase larva dapat diperangi dengan larvasida, atau dikenal dengan abate. Pengkabutan atau fogging bisa membasmi nyamuk dewasa. Nyamuk dewasa juga bisa dihalau dengan insektisida berbentuk lotion atau spray.

Pemberantasan nyamuk, lanjut Tri, tidak dapat dilakukan setengah hati. Fogging seharusnya dilakukan bersamaan dengan penyebaran larvasida. Dengan cara ini, nyamuk dewasa dan larva bisa mati bersamaan. Larva juga tidak sempat tumbuh dewasa yang akan kembali mengganggu kehidupan manusia.

Untuk kehidupan sehari-hari, Tri mengingatkan untuk rajin menjaga kebersihan. Langkah Menguras, Menutup, dan Menutup (3 M) tidak boleh dilupakan.
Langkah 3 M ini dilakukan untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Apabila perlu, masyarakat dapat mengganti bak mandi menjadi shower untuk meminimalisir kesempatan nyamuk bertelur. 

Masyarakat juga dapat menggunakan insektisida sebagai upaya menghalau gangguan nyamuk pada malam hari. Namun, Tri mengingatkan pentingnya menjaga aturan pemakaian pada label pembasmi nyamuk. Hal ini untuk mengurangi residu dan menjaga nyamuk tidak resisten terhadap insektisida. Aturan pemakaian juga harus ditaati untuk menghindari masyarakat dari risiko keracunan obat pembasmi nyamuk.

"Langkah ini kita sebut 3 M plus," kata Tri. "Plus" adalah langkah tambahan yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghalau gangguan nyamuk.  

Insektisida masih efektif

Walau pemberantasan nyamuk harus sesuai dengan fase hidupnya, penggunaan insektisida dinilai menjadi langkah yang paling efektif untuk menghalau gangguan nyamuk. Pasalnya, insektisida memberi perlindungan per individu, sementara penggunaan fogging dan larvasida memberi perlindungan dengan lingkup yang lebih besar.

"Insektisida juga lebih mudah dan praktis sehingga tiap orang bisa menggunakannya sendiri," kata Tri. Insektisida juga dinilai memberi dampak langsung kepada pengguna sehingga lebih sering digunakan.

Dalam pemaparannya Tri mengatakan, insektisida memiliki efek preventif paling besar dengan OR 0,48. Sedangkan pengkabutan dan larvadisasi memiliki OR 0,81 dan 0,84. OR menunjukkan efek preventif yang berhasil dicapai. Makin kecil angka mengindikasikan sedikitnya objek penelitian yang masih merasakan gigitan nyamuk.

Namun, Tri kembali mengingatkan pentingnya membaca aturan pakai dan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Tri mencontohkan penggunaan insektisida bakar yang harus menyesuaikan aliran udara. Hal ini untuk mencegah pengguna terkena dampak merugikan asap insektisida bakar.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 06 April 2013

Alat Deteksi Kuman Lebih Cepat

Jakarta, Kompas - Selama ini, pemeriksaan jenis kuman penyebab infeksi sekaligus uji kepekaan kuman terhadap antibiotik perlu waktu 3-4 hari. Dengan alat pemeriksaan mikrobiologi medik terbaru, deteksi kuman dapat dilakukan kurang dari dua hari, termasuk pengambilan sampel dan persiapan.

Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI Amin Soebandrio, di Jakarta, Kamis (28/3), mengatakan, lamanya pemeriksaan kuman menghambat penanganan pasien, memperpanjang waktu perawatan di rumah sakit, meningkatkan biaya perawatan, bahkan bisa mengancam nyawa pasien.

Infeksi bakteri, jamur, atau virus bisa mematikan jika berada di tahap sepsis (keracunan dalam darah). Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan perawatan intensif dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Frans J Pangalila, mengatakan, setiap tahun lebih dari 6 juta orang di dunia tewas akibat sepsis.

”Laporan Global Sepsis Alliance menyebutkan, setiap 2-3 menit terdapat satu orang yang meninggal akibat sepsis. Data Asia Ventilation Forum sekitar 3 bulan lalu menyebut, tingkat kematian akibat sepsis mencapai lebih dari 80 persen,” ujarnya.

Menurut Pangalila, sepsis bisa terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat jenis karena diberikan oleh tenaga kesehatan tanpa uji laboratorium untuk menentukan jenis kuman. Sepsis juga bisa dipicu penggunaan antibiotik dengan dosis tidak pas atau tidak dihabiskan.

Amin yang juga Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Bidang Kesehatan dan Obat mengatakan, kini ada Vitek 2 Compact yang dapat mengidentifikasi jenis kuman dan uji kepekaannya terhadap antibiotik dalam 4 jam. Adapun Vitek Mass Spectrophotometry mampu mendeteksi jenis kuman dalam 2 menit.

Meski sangat cepat, dihitung dengan waktu pengambilan sampel, baik darah, urine, maupun tinja, dibutuhkan waktu total kurang dari 2 hari. Kuman dari sampel harus dibiakkan dalam media hingga membentuk koloni untuk diidentifikasi. ”Kedua peralatan sebaiknya digunakan secara simultan,” katanya.

Deteksi kepekaan antibiotik penting dilakukan di Indonesia mengingat tingginya tingkat resistensi antibiotik. Selain dipicu penggunaan antibiotik secara serampangan, resistensi antibiotik juga bisa dipicu oleh paparan aneka zat kimia di alam.

Untuk menghindari resistensi antibiotik, Amin mengingatkan masyarakat dan tenaga kesehatan agar tak mudah mengonsumsi dan memberikan antibiotik. Sejumlah kuman penyebab infeksi bisa mati sendiri dalam beberapa hari tanpa perlu mengonsumsi obat. Kalaupun memberi antibiotik, harus melalui uji laboratorium agar sesuai jenis kuman dan takarannya pas. (MZW)



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 03 April 2013

Hubungan Seks Secara Spontan Lebih Baik?

KOMPAS.com - Semua orang menginginkan kehidupan percintaan yang sempurna, tidak terkecuali Anda. Namun sudahkah Anda mendapatkannya?

Mungkin ada banyak pertanyaan seputar mendapatkan kehidupan percintaan yang sempurna. Tetapi ada beberapa mitos keliru seputar bercinta yang masih dipercaya banyak orang.

1. Anda dan pasangan harus dalam "mood" bercinta.

Ketika Anda dan pasangan sedang dalam "mood" bercinta, mungkin akan lebih mudah untuk mencapai kepuasan bersama-sama. Namun tidak berarti Anda dan pasangan harus selalu dalam keadaan tersebut ketika bercinta. Jika hanya salah satu dari Anda yang dalam "mood", maka Anda dapat merangsang pasangan dengan melakukan foreplay lebih lama atau dengan permainan-permainan nakal yang dapat menyalakan gairahnya.

2. Seks terbaik adalah tanpa rencana.

Nyatanya saat ini segala sesuatu perlu direncanakan, termasuk bercinta. Memilih waktu yang tepat untuk bercinta yaitu saat Anda dan pasangan sedang dalam keadaan santai dan tidak tersibukkan dengan pekerjaan. Menyempatkan waktu dalam satu minggu untuk bercinta akan meningkatkan intimasi Anda dengan pasangan.

3. Bercinta harus dilakukan tiga kali seminggu.

Bercinta secara rutin tentu bermanfaat bagi hubungan Anda. Namun jangan terlalu terpaku pada jumlah Anda melakukan hubungan seks setiap minggunya. Hampir semua pasangan yang bahagia tidak melakukan seks setiap hari, bahkan dua atau tiga kali seminggu. Yang terpenting adalah Anda dan pasangan terpuaskan dengan frekuensi seks yang Anda lakukan saat ini dengan pasangan. Jika Anda merasa belum cukup maka Anda dapat mendiskusikannya dengan pasangan.

4. Seks yang baik adalah yang lama dan tempo lambat.

Tidak semua orang memiliki waktu untuk bercinta dengan durasi yang lama. Maka jangan paksakan untuk mendapatkan kepuasan seks dengan melakukannya dengan waktu lama dan tempo lambat. Seks dalam waktu singkat di pagi hari bisa jadi solusi untuk meningkatkan intimasi dan mencapai kepuasan Anda dan pasangan.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 02 April 2013

Brown Sugar Lebih Sehat dari Gula Putih?

Kompas.com - Gula dalam berbagai jenisnya merupakan bahan yang sering ditambahkan dalam makanan dan minuman sehari-hari. Jenis gula yang paling banyak dipakai adalah gula pasir yang berasal dari tebu.

Sebagian orang yang peduli pada kesehatan menganggap brown sugar atau raw sugar lebih baik ketimbang gula putih. Mungkin karena rasanya tak semanis gula pasir dan tampilannya lebih alami. Padahal, kandungan mineral dalam brown sugar tidak terlalu banyak.

Brown sugar adalah gula pasir yang diberi molasses atau gula tetes tebu. Dalam proses pembuatan gula, perasan air tebu diuapkan untuk menghasilkan kristal atau gula murni. Pada tahap ini, setelah evaporasi, gula secara teknis masih mentah karena belum dihaluskan atau disuling. Namun, gula mentah tersebut harus dibersihkan sebelum dijual.

Brown sugar atau turbinado sugar adalah gula yang tidak diproses sampai selesai, sehingga komponen dari perasan tebunya masih tertinggal. Untuk memberikan rasa manis ditambahkan molasses atau tetes tebu.

Aroma brown sugar lebih wangi dibanding gula pasir sehingga umumnya gula jenis ini banyak dipakai untuk membuat kue atau cake.

Tampilan raw sugar atau brown sugar yang kasar dibanding dengan gula pasir membuat produk ini tampak lebih organik. Tampilan yang alami tersebut sering dikaitkan dengan sesuatu yang sehat.

Baik raw sugar atau brown sugar mengandung mineral lebih banyak dibanding dengan gula putih, tetapi hal itu karena adanya tambahan gula tetes tebu. Brown sugar dan raw sugar mengandung 5-10 persen molasses.

Meski brown sugar mengandung kalsium, potasium, zat besi, dan magnesium, namun jumlahnya dianggap terlalu sedikit untuk memberikan manfaat kesehatan. Satu sendok teh brown sugar hanya mengandung 0.02 miligram zat besi. Padahal orang dewasa membutuhkan sekitar 8 miligram zat besi.

Perbedaan dalam komposisi energi yang dimiliki gula pasir dengan brown sugar juga dianggap tidak signifikan. Dalam penelitian terhadap tikus yang diberi brown sugar juga tidak menunjukkan perbedaan dalam komposisi tubuh dan metabolisme energi. Ini berarti belum terbukti brown sugar lebih baik untuk mereka yang ingin membatasi asupan kalorinya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 23 Maret 2013

Wanita Lebih Gampang Cemas

Kompas.com - Dibandingkan dengan pria, ternyata wanita lebih sering merasa panik dan cemas setiap harinya. Secara umum, perasaan tersebut lebih banyak dialami wanita yang berusia muda atau pertengahan.

Menurut survei tahun 2010 - 2011 yang dilakukan pusat pencegahan dan pengendalian penyakit, AS (CDC), sekitar 22 persen wanita mengaku mereka merasa khawatir, cemas, dan panik setiap hari atau setiap minggunya. Pada pria, hanya 16 persen yang merasakan demikian.

Berbeda dengan wanita berusia muda yang kerap merasa cemas dan panik, wanita yang berusia lanjut justru secara umum merasa lebih bahagia dan tidak terlalu stres.

Dalam penelitian yang dilakukan CDC itu para partisipan ditanyakan, "seberapa sering Anda merasa khawatir, cemas, atau panik?, Apakah setiap hari, minggu, bulan, beberapa kali dalam setahun, atau tidak pernah?"

Pada pria berusia 18-44 tahun, sekitar 17 persen kerap mengalami perasaan panik dan cemas. Sementara pada pria dari kelompok umur 45 dan 64 tahun sekitar 18 persen. 



Sumber Kompas



Info Alkes