Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Risiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risiko. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Kecelakaan Uje dan Risiko Mengemudi Dini Hari

Kondisi motor Kawasaki Ninja ER6n yang dikendarai Ustaz Jeffry Al Buchori dari sisi samping.

KOMPAS.com Kepergian Ustaz Jeffry Al Buchori pada Jumat (26/4/2013) dini hari akibat kecelakaan sepeda motor mengejutkan masyarakat luas. Ustaz Jeffry mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Gedung Hijau 7 Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Uje, panggilan akrab Ustaz Jeffry, mengendarai sepeda motor dari arah timur Pondok Indah menuju Jalan Gedung Hijau Raya arah Pondok Pinang. Pada sekitar pukul 01.00 dini hari, motor yang dikendarai Uje menabrak trotoar sehingga ia kehilangan kendali. Motor besar yang dikemudian Uje kemudian menabrak sebuah pohon.

Menurut keterangan resmi dari pihak kepolisan, Ustaz Jeffry mengalami luka parah di bagian kepala dan bagian muka. "(Uje) luka bagian muka, dan keluar darah dari telinga," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam keterangannya kepada Kompas.com, Jumat pagi.

Berdasarkan pemberitaan, kondisi pria dengan panggilan akrab Uje ini sedang kurang bugar sebelum terjadinya kecelakaan. Fajar Sidik, adik kandung Ustaz Jeffry Al Buchori, menerangkan bahwa mendiang kakaknya memang sebelumnya sedang dalam kondisi kurang sehat saat mengendarai sepeda motor. Padahal, kondisi ini secara umum dapat menurunkan konsentrasi, kewaspadaan, dan refleks sehingga berbahaya untuk aktivitas mengemudi.

Ahli kesehatan tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT, menjelaskan, penurunan konsentrasi, kewaspadaan, dan refleks saat mengemudi sangat berbahaya dan berisiko besar. Pasalnya, mengemudi merupakan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Terlebih lagi, saat dini hari, manusia yang secara umum menjalani jam tidur normal akan mengalami penurunan konsentrasi akibat mengantuk. Oleh karenanya, berkendara saat dini hari sangat tidak disarankan bagi mereka yang tidak biasa terjaga saat itu.

Andreas menuturkan, kalaupun terpaksa harus berkendara pada dini hari, ada dua syarat yang perlu dipenuhi. Cukupkan tidur sebelumnya minimal 6 jam, dan di jam-jam tersebut seseorang memang terbiasa beraktivitas atau tidak tidur.

"Kalau ngantuk, sangat tidak disarankan untuk berkendara. Apa pun kendaraannya, mengemudi tetap membutuhkan konsentrasi tinggi," paparnya saat dihubungi Kompas.com.

Tidak teratasi

Mengantuk, kata Andreas, tidak dapat teratasi dengan apa pun kecuali dengan tidur. Sama halnya seperti lapar yang hanya terpuaskan dengan makan, dan haus dengan minum; maka mengantuk hanya dapat diatasi dengan tidur yang berkualitas.

Penggunaan stimulasi seperti minuman berkafein atau nikotin yang konon dapat mengatasi kantuk sebenarnya hanya menunda mengantuk. Otak yang sudah lelah akan tetap lelah dan baru dapat diberikan energi dengan tidur.

"Mengantuk tidak untuk diatasi, tetapi untuk dicegah. Mencegahnya pun juga dengan tidur. Maka, bila mulai mengantuk selagi berkendara, sebaiknya tidak memaksakan diri," tutur Andreas.

Larangan mengemudi

Kendati telah memenuhi kedua syarat itu untuk mengemudi pada dini hari, Andreas mengatakan, perlu adanya larangan mengemudi bagi mereka yang mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur dapat berupa hipersomnia atau selalu mengantuk akibat tidak mendapatkan tidur yang berkualitas.

"Gangguan tidur ditandai dengan mendengkur saat tidur. Maka sebaiknya ada larangan mengemudi bagi para pendengkur," cetus Andreas.

Andreas menambahkan, kasus kecelakaan akibat mengantuk dari data Operasi Ketupat Polisi tahun 2011 mencapai 55 persen dari total kecelakaan. "Ini membuktikan risiko mengemudi saat ngantuk sangat tinggi," ungkapnya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 29 April 2013

Makan Ikan Sejak Dini Turunkan Risiko Alergi?

Kompas.com - Jumlah anak-anak yang menderita alergi terus meningkat. Sayangnya gangguan alergi ini belum bisa diobati. Karena itu para ahli berusaha menggali upaya pencegahannya. Salah satu cara yang diduga berpotensi bisa mencegah kejadian alergi adalah mengenalkan ikan pada anak sejak dini.

Sebuah studi yang dilakukan di Swedia dilakukan terhadap 3000 anak ditujukan untuk melihat efek dari konsumsi ikan terhadap berkurangnya risiko alergi, seperti alergi musim, debu, dan eksim. Dicari tahu pula apakah efek pencegahan itu bisa bertahan jangka panjang.

Studi ini menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi paling tidak dua sajian ikan setiap bulan, risikonya memiliki alergi 75 persen lebih rendah. Studi juga menunjukkan adanya pergeseran pemikiran dari para orangtua untuk mengenalkan anak pada makanan yang beragam di usia muda.

Yang mengejutkan, pola makan kaya ikan bagi anak usia satu tahun sudah umum di beberapa area di dunia. Salah satunya di wilayah Mediterania. Dalam pola makan Mediterania, makanan yang menjadi fokus utama adalah buah-buahan, sayur-sayuran, gandum utuh, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, ikan dan makanan laut lain dengan kandungan merkuri rendah.

Penganut diet jenis ini juga membatasi asupan produk susu. Mereka membatasi hanya mengonsumsi yogurt atau keju segar.

Studi lain meneliti pada sekitar 460 anak yang tinggal di Minorca (sebuah pulau di Mediterania). Studi tersebut menemukan, anak yang utamanya makan makanan nabati paling tidak risikonya 62 persen lebih rendah untuk memiliki asma atau alergi. Studi itu juga menunjukkan bahwa anak-anak yang makan 60 gram ikan setiap hari risikonya terkena alergi 57 persen lebih rendah.

Hubungan pasti antara gaya diet Mediterranean dan alergi masih belum diketahui, namun penemuan seperti ini dapat membuka cakrawala baru tentang pengenalan makanan yang beragam terhadap anak-anak. Kendati demikian, Anda sebaiknya berkonsultasi dulu pada dokter anak sebelum mengubah pola makan mereka.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 28 April 2013

Mengapa Sunat Menurunkan Risiko HIV?

KOMPAS.com — Setelah beberapa lama menjadi misteri, akhirnya para ilmuwan berhasil mengungkapkan mengapa sunat pada pria bisa menurunkan risiko penularan HIV.

Dalam studi yang dimuat dalam jurnal mBio, para ilmuwan menjelaskan bahwa perubahan populasi bakteri yang hidup di sekitar penis akibat tindakan sunat menjadi alasan di balik rendahnya risiko tertular HIV.

Menggunakan teknologi teranyar sehingga pengurutan gen dari organisme lebih cepat dan mudah diakses, peneliti melakukan analisis secara mendalam pada gen dari mikroba yang berada di sekitar penis. Sebanyak 156 pria Uganda yang disunat saat dewasa menjadi responden dalam penelitian ini. Mereka memberikan sampel sebelum sunat dan setahun setelahnya.

Meski tak ada perbedaan signifikan pada komunitas bakteri sebelum sunat dan setelahnya, tetapi pada kurun waktu 12 bulan kemudian, pria yang disunat memiliki jumlah bakteri yang bisa bertahan di kondisi beroksigen rendah (anaerob) lebih sedikit dan bakteri yang perlu oksigen (aerob) lebih banyak.

Secara umum, pria yang disunat memiliki jumlah bakteri 33 persen lebih rendah sehingga berpengaruh pada kemampuan tubuh dalam melawan infeksi seperti HIV.

Jumlah bakteri yang tinggi, seperti pada penis pria yang tidak disunat, akan mengaktifkan sel Langerhans di permukaan kulit. Sel-sel ini juga ditemukan di seluruh permukaan kulit manusia dan normalnya bertindak sebagai lini pertama pertahanan tubuh melawan patogen.

Dalam kondisi aktif, sel Langerhans ternyata justru mempermudah penularan HIV dengan menarik sel-sel spesifik yang ditargetkan oleh HIV, yakni CD4 dan sel T, kemudian mengikatnya. Sehingga, sel-sel yang sehat justru menjadi sasaran mudah dari HIV.

"Telah terjadi revolusi pada pemahaman kita akan mikroba. Mikroba sebenarnya sama seperti halnya sistem organ yang lain dan kita baru sampai pada permukaan untuk memahami kaitan antara mikroba dan sistem imun," kata Lance Price, yang melakukan riset ini.

Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa perubahan populasi bakteri di usus, misalnya, berdampak pada risiko obesitas. Studi lain juga menemukan kaitan yang kuat antara komunitas mikroba dan faktor risiko kanker, asma, serta penyakit kronis lainnya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 27 April 2013

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Kanker Pada Anak

Tingginya tingkat polusi udara membuat pemandangan kawasan Jakarta Selatan terlihat samar seperti berselimut kabut tipis, Rabu (18/7/2012).

Kompas.com - Polusi udara berat bukan cuma menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga diduga kuat memicu kanker pada anak. Menurut studi terbaru, bayi yang sering terpapar polusi udara selama berada di kandungan dan satu tahun usianya lebih beresiko terkena kanker, terutama leukemia akut limfoblastik (LLA).


Leukimia akut limfoblastik merupakan kanker leukemia yang paling banyak diderita anak. Pada kondisi tersebut sel limfoblast tidak pernah menjadi bentuk yang matur yaitu limfosit sehingga tidak dapat berfungsi secara normal. Padahal fungsi limfosit adalah untuk melawan infeksi, sehingga akibatnya anak menjadi gampang sakit.


Tim peneliti dari Universitas California, Los Angeles School of Public Health, mengumpulkan data anak-anak yang didiagnosa kanker sebelum usia 6 tahun. Dikumpulkan pula paparan polusi udara lalu lintas. Ternyata, makin berat paparan pulusi, makin tinggi risiko seorang anak terkena kanker LLA, sel tumor germ (testis, ovarium, dan organ lain), serta kanker mata.


Menurut ketua peneliti, Julia Heck, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa polusi menyebabkan kanker. "Kami menemukan kaitan, tetapi belum bisa dijadikan bukti adanya hubungan sebab akibat," katanya.


Penelitian tersebut dilakukan di California, yang memang dikenal memiliki kualitas udara buruk. Salah satu negara bagian AS itu memiliki cuaca hangat sehingga polutan udara mudah terperangkap dan menyebabkan kabut asap.


Para peneliti memilih untuk fokus pada kehamilan karena menurut Heck beberapa jenis kanker terjadi sejak kehamilan.


Meski begitu menurut Dr.Rubin Cohen, direktur Adult Cystic Fibrosis and Bronchiestasis Center, mengatakan ada beberapa penyakit yang terkait dengan polusi udara. Tetapi menurutnya penyakit asma adalah ancaman yang nyata.




Sumber Kompas




Info Alkes

Kamis, 25 April 2013

Mendengkur dan Risiko Kanker Otak

KOMPAS.com - Pasien mendengkur yang menderita sleep apnea ternyata mempunya risiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita kanker otak, dibanding yang tidak. Penelitian yang dilakukan oleh dokter Huang Chun Hao dari Taiwan ini memantau 112.555 penderita sleep apnea, dan 112.555 orang lainnya yang sehat.

Penelitian ini melihat rekam medis penderita sejak tahun 2000. Beberapa pasien diikuti selama lebih dari 10 tahun. Hasilnya, kejadian tumor ganas otak di antara penderita sleep apnea setiap tahunnya adalah 2,96 setiap 10.000 orang.

Sleep apnea

Orang yang sedang ngorok memang tampak nyenyak dan nyaman, tapi tahukah Anda bahwa tidur mendengkur mengandung bahaya besar? Ya, bahaya tersebut bernama sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, mengalami penyempitan saluran nafas saat tidur hingga udara tak ada yang bisa lewat. Walau gerakan nafas tetap ada, penderita sleep apnea seolah tercekik tak bisa bernafas.

Sebentar ia akan tersedak dan mengambil nafas. Sayangnya semua ini terjadi saat tidur, hingga penderita sleep apnea tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, kadar oksigen dalam tubuh berulang kali turun naik.

Penelitian lain

Kadar oksigen normal manusia saat tidur adalah 90%-100%. Penderita sleep apnea bisa turun jauh di bawah itu. Penelitian di Spanyol tahun lalu menemukan bahwa mereka yang mengalami penurunan kadar oksigen hingga di bawah normal saat tidur, mempunyai risiko terkena kanker hingga 68%. Penelitian yang diterbitkan pada the American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine itu menyebutkan bahwa penderita sleep apnea memiliki risiko 4,8 kali lebih besar untuk meninggal karena kanker.

Beberapa penelitian di AS menyebutkan angka penderita sleep apnea sejumlah 3% sampai 20% dari penduduk. Sementara yang benar-benar terdiagnosa baik dan dirawat hanya 20% nya saja. 80% sisanya tidak mendapat perawatan apa-apa. Artinya sekian banyak penderita sleep apnea tetap menanggung risiko kesehatan yang tidak ringan.

Di Indonesia belum ada penelitian berskala besar tentang sleep apnea. Tetapi melihat penelitian-penelitian di negara-negara lain, diduga jumlahnya tak jauh berbeda. Lihat saja di sekeliling kita, rekan atau kerabat, pasti ada yang mendengkur.

Bagi seorang dokter ahli kesehatan tidur, sleep apnea bukanlah gangguan tidur yang sepele. Sleep apnea telah diketahui berakibat langsung pada hipertensi, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengakibatkan penyakit diabetes, stroke dan impotensi. Belum lagi akibatnya pada kualitas hidup yang disebabkan oleh hipersomnia atau kantuk berlebihan. Jika ada kerabat atau sahabat yang mendengkur, peringatkan. Anda menyelamatkan nyawanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 20 April 2013

Ditemukan Cara Deteksi Risiko Alzheimer

Kompas.com - Kendati belum diketahui penyebab pasti dan obat penyakit Alzherimer, namun akhirnya ada titik terang dalam hal identifikasi siapa yang beresiko terkena penyakit ini. Para peneliti asal Amerika Serikat menemukan penanda (marker) genetik yang dapat membantu menentukan apakah seseorang memiliki risiko mengembangkan penyakit Alzheimer atau tidak.

Alzheimer adalah penyakit orang yang sudah berusia lanjut. Penderitanya akan mengalami hilang ingatan secara perlahan. Dari taraf ringan hingga mengganggu sistem bicara dan bahasa serta penalaran abstrak. Pada akhirnya Alzheimer akan menghancurkan sistem fungsional otak secara keseluruhan.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Neuron menemukan adanya mutasi yang mempengaruhi pembentukan protein tertentu di otak. Protein ini disebut protein tau. Kadar protein tau yang tinggi di otak meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

Para pakar kesehatan di Inggris mengatakan bahwa studi ini dapat membantu menjelaskan perubahan otak yang terjadi pada pasien Alzheimer. Protein tau yang rumit atau disebut juga dengan tau terfosforilasi merupakan tanda awal dari penyakit ini.

Sebelumnya, suatu jenis gen baru yang ditemukan oleh tim peneliti dari Washington University School of Medicine juga menunjukkan hubungan risiko Alzheimer dan risiko lebih besar dalam penurunan kemampuan kognitif atau daya ingat.

Dalam penelitian terkini digunakan informasi genetik pada lebih dari 1.200 orang, yang secara signifikan berskala lebih besar daripada penelitian sebelumnya. Ketua studi dr. Alison Goate mengatakan, hasil temuan tentang peran gen pada penyakit Alzheimer diharapkan dapat menjadi target baru dari terapi penyakit ini.

Gaya Hidup Turut Berperan

Para pakar kesehatan Inggris mengatakan studi ini menambah bukti dari marker genetik yang sudah sebelumnya dikaitkan pada perkembangan penyakit Alzheimer.

Direktur penelitian dan pengembangan di Alzheimer's Society dr. Doug Brown mengatakan, dengan penemuan gen baru yang memiliki kaitan dengan Alzheimer, studi ini membantu para peneliti untuk lebih mengerti bagaimana perubahan di otak saat terjadi demensia.

"Hasil penelitian ini dapat membantu dalam merancang pengobatan untuk menghentikan perubahan otak sehingga dapat memperlambat atau menghentikan efek demensia," tutur Brown.

Meski demikian, lanjut Brown, penting untuk menekankan gaya hidup sebagai faktor yang berperan dalam menentukan penyakit tersebut. "Dan penelitian telah menunjukkan bahwa makan seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, rutin memeriksakan tekanan darah dan kolesterol adalah kunci untuk menurunkan risiko demensia.



Sumber Kompas



Info Alkes

Selasa, 19 Maret 2013