Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Tampilkan postingan dengan label Dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Dokter

Jakarta, Kompas - Upaya lebih untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dokter menjadi semakin penting. Belum optimalnya aspek komunikasi dokter dan pasien menjadi salah satu persoalan praktik kedokteran sehingga menimbulkan banyak pengaduan.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Forum Komunikasi Rumah Sakit dalam Rangka Pembinaan Praktik Kedokteran yang Baik, di Jakarta, Rabu (29/5). Wakil Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) Sabir Alwy mengatakan, MKDKI menerima 208 pengaduan selama tahun 2006 hingga Mei 2013. Sebanyak 59 persen pengaduan berkaitan dengan masalah komunikasi.

”Permasalahan yang paling banyak diadukan adalah komunikasi, selain soal dokter ingkar janji, penelantaran, pembiayaan, standar pelayanan, dan lainnya. Terkait komunikasi, pasien mengeluh soal dokter yang lebih banyak diam dan tidak memberikan penjelasan, penggunaan istilah kedokteran yang tidak dipahami, hingga miskomunikasi antara dokter dan pasien,” ujarnya.

Menurut Sabir, penyampaian informasi yang komunikatif terkait penyakit, tindakan yang akan diambil, serta risiko yang timbul kepada pasien merupakan kewajiban dokter. Untuk itu, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Pakar komunikasi dari Universitas Mercu Buana, Leila Mona Ganiem, mengatakan, kebanyakan dokter cenderung mengembangkan kemampuan teknis. Padahal, interaksi sehari-hari terkait tubuh manusia perlu dijelaskan secara detail kepada pasien. Jika tidak, justru akan timbul kecemasan pasien hingga pengaduan. Karena itu, peningkatan kemampuan komunikasi harus mendapatkan porsi lebih.

”Tidak hanya fasilitas, rumah sakit juga perlu secara aktif melihat komunikasi sebagai bagian yang perlu ditingkatkan. Mereka bisa memfasilitasi dokter agar semaksimal mungkin mendapatkan kemampuan itu,” ujar Mona.

Ia menambahkan, rumah sakit juga bisa menyediakan ruang khusus atau forum interaksi dokter dan pasien untuk penyampaian informasi dari yang bersifat generik hingga yang berpotensi menimbulkan kecemasan tinggi, misalnya diagnosis penyakit berat.

Dokter dan rumah sakit juga harus menyikapi kondisi di mana mereka saat ini berhadapan dengan masyarakat yang semakin cerdas dan selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya seiring dengan perkembangan teknologi.

”Kalau masyarakat sudah semakin cerdas dan berani menyampaikan pandangan serta kekecewaannya, itu seharusnya jadi perhatian dokter dan rumah sakit untuk memperbaiki dirinya,” kata Mona. (K12)



Sumber Kompas



Info Alkes

Sabtu, 06 April 2013

Dokter Berperan Bentuk Kebiasaan Sehat Masyarakat

Kompas.com - Upaya pencegahan penyakit bukan saja menghemat biaya kesehatan, tapi juga menghindari penularan penyakit yang lebih luas. Dokter umum merupakan kelompok strategis untuk melakukan kampanye promotif dan preventif kepada masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan Dr.Dyah Agustina Waluyo, anggota presidium Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dalam acara jumpa pers simposium ilmiah Musyawarah Kerja Nasional dan Pertemuan Ilmiah PDUI bekerja sama dengan PT.Unilever Indonesia di Jakarta (28/3/13).

Saat ini Indonesia memiliki sekitar 80.000 dokter umum. Angka tersebut menurut Dyah sudah mendekati ideal namun penyebarannya memang belum merata.

"Dengan diberlakukannya sistem jaminan sosial nasional tahun depan, peran dokter sebagai penyedia layanan primer sangat besar. Karenanya kompetensi dokter harus ditingkatkan, termasuk dalam hal soft skill berupa kemampuan berkomunikasi dengan pasien," katanya.

Ia menambahkan, dokter berkewajiban memberikan konseling serta arahan untuk mengubah perilaku pasien menjadi lebih sehat. "Pengobatan tidak melulu dengan terapi obat tapi juga mengedukasi gaya hidup sehat," imbuhnya.

Prof.Umar Fahmi Achmadi, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menjelaskan, sampai saat ini dokter masih menjadi sumber informasi kesehatan yang paling kuat di masyarakat. "Kata-kata dokter seperti resep obat yang harus diikuti," katanya.

Karena itu menurut Umar dokter umum seharusnya menjadi lini terdepan dalam upaya pencegahan penyakit. Upaya pencegahan penyakit bisa dilakukan melalui banyak hal, mulai dari imunisasi, perbaikan lingkungan hidup, konsumsi makanan sehat, hingga menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Pelaksaan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain dengan mencuci tangan dengan sabun pada saat-saat penting, telah terbukti mencegah penyebaran penyakit infeksi. Hasil riset menunjukkan, cuci tangan pakai sabun bisa mengurangi kejadian diare sampai 50 persen dan kejadian infeksi saluran pernapasan atas sampai 45 persen.



Sumber Kompas



Info Alkes

Minggu, 31 Maret 2013

Sebaran Dokter Bedah Belum Merata di Daerah

Balikpapan, Kompas - Pemerintah dinilai perlu turun tangan dan membuat aturan agar penempatan dokter bedah merata di rumah sakit tipe C dan D. Salah satunya, mengangkat dokter bedah menjadi pegawai negeri dan menempatkan mereka ke daerah terpencil.

”Saat ini, ada 100 rumah sakit tipe C dan D yang belum punya dokter bedah. Pengangkatan jadi PNS dan ditempatkan ke daerah beberapa tahun, menarik. Tidak asal ditempatkan, namun juga dijamin kesejahteraannya,” ujar Paul L Tahalele, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (Ikabi), seusai acara Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan X yang diadakan Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (Pabi), 19-23 Maret di Balikpapaan, Sabtu (23/3). Kegiatan diikuti 1.300 dokter spesialis bedah umum.

”Selain mengangkat langsung, dibentuk gugus tugas beranggota dokter-dokter bedah. Mereka jadi relawan bergiliran bertugas ke rumah sakit tipe C dan D selama beberapa tahun,” kata Paul. Rekomendasi itu akan disampaikan kepada Menteri Kesehatan dan Presiden.

Secara terpisah, Urip Murtedjo, Ketua PABI, mendesak pemerintah membuat aturan tentang pengangkatan dan penempatan dokter bedah. ”Dulu, Indonesia punya UU Wajib Kerja yang mengatur itu. Saat UU itu masih diterapkan, dokter yang belum ditempatkan ke daerah, belum bisa ambil spesialis. Konsep ini bagus,” kata dia.

Menurut Urip, dokter bedah muda akan mendapat pengalaman sangat berharga jika ditempatkan di daerah terpencil. Namun, itu perlu diikuti jaminan kesejahteraan. Saat ini, ada 1.700 dokter spesialis bedah umum di Indonesia.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di RS Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, Jumat lalu, meminta dokter terjun melayani ke daerah. ”Rumah sakit harus jadi rumah sakit tanpa dinding. Dokter harus lihat rakyat di daerah yang belum ada dokternya. Jangan semua kumpul di rumah sakit di kota,” katanya. (PRA)



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 29 Maret 2013

Masih Banyak Dokter Belum Mengerti SJSN

JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan digulirkan mulai tahun 2014 mendatang masih belum tersosialisasi dengan baik. Bahkan, dokter yang merupakan profesi yang bersinggungan langsung dengan sistem ini pun masih banyak yang belum memahaminya.

"Wacana terhadap SJSN yang dipublikasikan tidak memberikan kejelasan dan pemahaman pada tenaga praktisi kesehatan," ujar Vice Chairman dan Head of Consulting Edelman Indonesia Bambang Chriswanto dalam acara peluncuran Edelman Healthcare Professional Survey 2013 di Jakarta, Selasa (19/3/2013) kemarin.

Berdasarkan hasil survei terhadap dokter umum dan spesialis di 4 kota besar yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan selama November-Desember 2012, hanya kurang dari 50 persen mereka yang memahami alur dan proses SJSN. Bahkan, dokter di Jakarta merasa memahami SJSN sedikit lebih rendah dibandingkan dengan praktisi kesehatan di kota lainnya.

Di Jakarta, praktisi kesehatan yang mengaku mengerti sepenuhnya adalah 3 persen, mengerti 35 persen, ragu-ragu 35 persen, tidak mengerti 35 persen, dan tidak menjawab 1 persen. Sedangkan di tiga kota lainnya, mengerti sepenuhnya 5 persen, mengerti 38 persen, ragu-ragu 32 persen, tidak mengerti 19 persen, dan tidak menjawab 6 persen.

Survei tersebut dilakukan oleh Edelman Indonesia bekerja sama dengan Unit Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FKUGM) dan melibatkan 421 praktisi kesehatan, 44 persen di antaranya merupakan dokter spesialis dan 56 persennya merupakan dokter umum.

Menariknya, 57 persen dari responden pernah merawat peserta ASKES. Hal ini membuktikan sosialisasi SJSN masih sangat kurang. Maka, menurut Bambang, pesan positif dari SJSN perlu dikomunikasikan secara berkelanjutan sehingga dapat memperkuat optimisme dan menggalang kepercayaan publik terhadap SJSN.

"Riset menunjukkan bahwa mayoritas publik perlu mendengar sepucuk informasi sebanyak tiga hingga lima kali untuk mempercayai pesannya," tutur Bambang.



Sumber Kompas



Info Alkes

Senin, 25 Maret 2013

Dokter di Indonesia Andalkan Internet

JAKARTA, KOMPAS.com - Internet dewasa ini sudah menjadi andalan bagi siapapun yang mencari informasi, termasuk informasi di bidang kesehatan. Bahkan, dokter sebagai pakar di bidang kesehatan pun menggunakan internet untuk membantu menentukan diagnosa dan pengobatan penyakit, serta kesehatan umum.

Survei yang dilakukan oleh Edelman Indonesia bekerja sama dengan Unit Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FKUGM) mengatakan, sebanyak 64 persen responden lebih memilih internet sebagai sumber informasi terkait pekerjaan atau profesi medis mereka.

"Praktisi kesehatan Indonesia beralih ke konten digital untuk pencarian dan pendalaman informasi mengenai diagnosa," ujar Vice Chairman dan Head of Consulting Edelman Indonesia Bambang Chriswanto dalam peluncuran Edelman Healthcare Professional Survey 2013, Selasa (19/3/2013), di Jakarta.

Responden terdiri dari 421 praktisi kesehatan di 4 kota besar yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan, 44 persen di antaranya merupakan dokter spesialis dan 56 persennya merupakan dokter umum. Responden yang dipilih telah melakukan praktik lebih dari 3 tahun. Jika dikelompokan berdasarkan kota, maka 4 dari 5 dokter di Jakarta menjadikan internet sebagai sumber informasi utama yang berhubungan dengan profesi mereka.

Sedangkan untuk kota 3 kota lain yaitu sebanyak 3 dari 4 dokter. Selain internet, sumber lain yang dijadikan pilihan praktisi kesehatan bagi informasi baru diagnosa adalah forum ilmiah yaitu sebanyak 75 persen, text book 26 persen, majalah ilmiah 26 persen, majalah umum 7 persen, medical representative 4 persen, surat kabar 2 persen, dan media penyiaran 1 persen.

Menurut dokter sekaligus peneliti dari Unit Kesehatan Masyarakat FKUGM Lutfan Lazuardi, informasi kesehatan terkini di Indonesia masih kurang tersedia, sehingga internet merupakan salah satu sarana yang baik dalam memperkaya informasi kesehatan terkini yang dapat menunjang diagnosa.

"Informasi dari internet perlu untuk meng-update pengetahuan kedokteran, namun tentu dari situs yang terpercaya," ujarnya.

Sayangnya, survei belum dapat menunjukkan situs apa saja yang menjadi andalan dokter-dokter di Indonesia saat ini.



Sumber Kompas



Info Alkes

Jumat, 22 Maret 2013

Miris, Gaji Dokter Setengah Gaji Supir Busway

JAKARTA, KOMPAS.com - Kritik dan cercaan kerap kali datang untuk dokter. Sedangkan perjuangan dokter yang mengabdi hingga ke pelosok jarang mendapat apresiasi. Hal itulah yang membuat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menginginkan adanya seimbangan antara keduanya.

Salah satu anggota IDI Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, bahkan untuk dokter baru, mereka hanya digaji Rp 2 juta hingga Rp 3 juta rupiah per bulan. "Jumlah itu hanya setengah dari gaji supir busway," ujar pada wartawan dalam konferensi pers Senin (18/3/2013) di Jakarta.

Konferensi pers tersebut diadakan untuk mengonfirmasi kritik-kritikan yang selama ini kurang tepat ditujukan pada dokter. Dalam konferensi pers turut hadir dokter-dokter yang bekerja di wilayah pelosok seperti Aceh Timur.

Sekretaris Jenderal IDI Daeng M. Faqih mengatakan, dokter selalu dituntut profesional, memiliki kemampuan setinggi-tingginya dalam penguasaan ilmu dan teknologi kedokteran, tapi jauh lebih penting lagi dokter harus memiliki integritas etik dan moral yang tinggi.

"Pekerjaan profesi dokter (harus) diniatkan dan diarahkan untuk mengabdi kepada kepentingan kemanusiaan," ungkapnya.

Kendati demikian, kata Daeng, masih ada aja oknum dokter yang tidak menjunjung tinggi tradisi luhur kedokteran. Hal inilah yang menciptakan banyak kritik bahkan cercaan datang pada profesi ini.

"Memang ada kalanya dokter berbuat kesalahan, namun tidak semua dokter berlaku demikian. Jangan digeneralisasikan," tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar IDI Zaenal Abidin mengatakan, sistem kedokteran di Indonesia masih belum baik. Hal itu yang lebih kurang mempengaruhi kinerja dokter.

"Sepandai apapun dokternya jika ada di sistem yang buruk, tidak akan terlihat kepandaiannya," ujarnya.



Sumber Kompas



Info Alkes