Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kompas.com - Meski makanan berwarna putih sering diidentikkan dengan sesuatu yang tidak sehat, misalnya tepung atau gula, tetapi jangan abaikan sayur-sayuran berwarna putih.
Memang tak bisa dipungkiri sayuran berwarna-warni mengandung lebih banyak antioksidan, seperti karotenoid yang memberikan warna merah, oranye dan kuning. Tetapi "si putih" sebenarnya juga mengandung nutrisi penting yang mungkin tidak kita dapatkan dari sumber lain.
Sayuran berwarna putih, seperti kentang, jamur, lobak, atau kol, sarat akan potasium, magnesium, dan juga serat.
"Mineral yang terkandung dalam tanaman lebih banyak terdapat pada akar dan umbinya," kata Connie M.Weaver, dari Purdue University yang banyak meneliti tentang nutrisi sayuran putih.
Manfaat lain yang kurang dikenal dari sayuran putih adalah tingkat kepuasan yang tinggi. Penelitian yang dimuat dalam European Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa dalam jumlah kalori yang sama, jika dibandingkan dengan sayuran berwarna gelap dan cerah, sayuran putih memiliki indeks rasa kenyang lebih tinggi.
Namun sejauh ini memang tidak ada anjuran yang pasti mengenai jumlah sayuran putih yang harus diasup setiap hari. Tetapi Anda bisa memulainya dengan mencoba memasak sayur-sayuran berwarna putih.
Kompas.com - Air merupakan elemen paling penting dalam kesehatan. Kehilangan air dalam tubuh merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit dan penuaan.
Salah satu tanda kurangnya air dalam tubuh adalah kulit yang mulai berkerut, sulit berkonsentrasi, hingga sakit kepala tanpa sebab yang jelas. Karena kita perlu memastikan kecukupan air dari pola makan sehari-hari.
Setiap harinya pria disarankan mengkonsumsi 3 liter (13 gelas) air. Sedangkan wanita mengkonsumsi 2,2 liter (9 gelas) dari total minuman dalam sehari. Jumlah tersebut bisa disesuaikan tergantung dari cuaca, kesehatan, serta status kesehatan seseorang.
Air juga berfungsi untuk mengurangi jumlah racun yang masuk dalam tubuh. Makin banyak racun yang masuk dalam tubuh, makin besar air yang diperlukan.
Menurut pakar kesehatan kulit, Howard Murad, kondisi stres juga turut berperan dalam berkurangnya air. "Saat Anda sehat dan muda, sel-sel dalam tubuh penuh dengan air. Tapi saat Anda sedih, sakit, atau tua, sel-sel hanya mengandung sedikit air," kata di Jakarta pekan lalu.
Menurutnya sel-sel yang mendapat cukup air akan meregenerasi lebih cepat sehingga sel tersebut tidak mudah menua.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Murad menekankan pentingnya mengambil air dari sayur dan buah-buahan segar. "Selain mengandung air, sayur dan buah juga mengandung nutrisilain yang penting," katanya.
Menurut penelitian yang diadakan Murad pada 100 orang diketahui mereka yang minum sekitar tiga gelas sehari ditambah dengan konsumsi sayur dan buah, lebih mampu mencegah dehidrasi dibanding yang minum 8 gelas sehari tetapi tidak makan sayur dan buah.
KOMPAS.com - Salah satu penerapan dari konsep gizi seimbang adalah membiasakan mengonsumsi makanan yang bervariasi. Pasalnya, tak ada suatu makanan yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Oleh karena itulah, dengan menu makanan yang semakin beragam, diharapkan kebutuhan tubuh akan zat gizi makin terpenuhi atau tercukupi.
Nah, pola makan gizi seimbang harus mencakup sumber zat-zat gizi makro yaitu karbohidrat, lemak, dan protein, serta zumber zat-zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral. Berikut ini adalah uraian selengkapnya terkait sumber zat gizi tersebut.
* KARBOHIDRAT
Seperti dikutip www.nutristrategy.com, karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Dianjurkan konsumsi karbohidrat mencakup 50-60 persen dari total kalori setiap hari. Kita bisa mendapatkan karbohidrat dari berbagai bahan pangan, di antaranya beras, jagung, kentang, singkong, ubi, talas, mi, roti, sereal, oat, kacang-kacangan dan lain-lain.
Ada dua jenis karbohidrat, yaitu karbohidrat kompleks (polisakarida) dan zat gula (monosakarida dan disakadrida) yang dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Unsur gula bisa didapat dari buah-buahan (sukrosa, glukosa, fruktosa, pentose) dan susu (laktosa). Sumber karbohidrat juga ada dalam bentuk serat yang larut dalam air dan yang tidak larut dalam air.
Serat yang larut dalam air dapat mengikat lemak sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Unsur serat juga membantu mengatur penggunaan gula oleh tubuh. Sedangkan, serat yang tidak larut membantu mendorong sisa makanan melewati saluran cerna sehingga buang air besar jadi lancar dan teratur.
* LEMAK
Lemak sebaiknya boleh dikonsumsi sebesar 30 persen dari total kalori setiap hari. Lemak merupakan sumber energi yang berfungsi mempertahankan suhu tubuh, melindungi jaringan dan organ tubuh. Lemak juga berperan penting membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Lemak terbagi dua yaitu asam lemak jenuh (lemak jahat) yang mengandung kolestrol jahat (LDL). Satu lagi, asam lemak tak jenuh/ (lemak baik) yang mengandung kolesterol baik (HDL). Lemak jenuh bisa didapat pada mentega, makanan bersantan, lemak daging, tart dan lainnya. Sedangkan, lemak tak jenuh terdapat pada minyak goreng yang terbuat dari biji-bijian seperti jagung, kedelai, kacang tanah, zaitun dan biji bunga matahari. Nah, dari total 30 persen lemak yang dikonsumsi, sebaiknya tidak lebih dari 7 persen lemak adalah lemak jenuh (SAFA) dan 25 persen adalah lemak tidak jenuh
* PROTEIN
Kebutuhan protein adalah 10-20 persen dari dari total kalori sehari-hari. Ada banyak fungsi protein di antaranya pertumbuhan serta pemeliharaan sel dan struktur tubuh yang mencakup tulang, otot, sel darah, kulit bahkan rambut. Protein mengganti jaringan sel-sel yang rusak, membantu reaksi kimia tubuh seperti enzim atau hormon.
Protein terdiri dari asam amino. Tubuh memproduksi asam amino yang nonesensial yaitu diproduksi oleh hati. Sedangkan asam amino yang esensial didapat dari makanan. Bahan makanan sumber protein bisa nabati dan hewati. Untuk nabati di antaranya: tempe, tahu, kacang ijo, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah. Sedangkan, bahan makanan sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, hati, udang, teri, susu dan olahannya.
* VITAMIN DAN MINERAL
Vitamin dan mineral dibutuhkan untuk mengatur fungsi metabolisme tubuh. Kedua unsur zat gizi mikro ini berperan memperlancar proses pembuatan energi serta proses biologis lainnya untuk mempertahankan kondisi kesehatan.
Vitamin dan mineral secara alami didapat dari makanan yang kita konsumsi, di antaranya sayuran hijau tua seperti bayam, sawi hijau, daun singkong, daun kacang panjang, daun papaya, kangkung, daun melinjo. Beitu juga sayuran berwarna kuning jingga seperti wortel , labu kuning, tomat. Bisa juga didapat dari sayuran golongan kacang - kacangan seperti buncis, kacang panjang, atau kecipir. Kemudian sumber vitamin mineral dari golongan buah-buahan bisa didapat dari apel, papaya, rambutan, nanas, jambu biji, jambu air, pisang, mangga, jeruk.
KOMPAS.com - Rutin makan sayur adalah salah satu cara untuk menghindari berbagai penyakit kronis seperti jantung, diabetes, obesitas, bahkan kanker. Sayangnya, tidak semua dari kita mampu untuk memenuhi anjuran untuk memakan sayuran tiga sampai lima sajian perhari. Namun tak perlu khawatir, ada beberapa cara mudah yang dapat membantu kita untuk lebih banyak makan sayur.
1. Mulailah di pagi hari
Mulai menyisipkan sayuran di menu sarapan memudahkan kita untuk mencukupi porsi yang dianjurkan. Cobalah untuk memasukkan potongan bayam, bawang, paprika, dan jamur ke dalam omelet saat sarapan. Jika ingin mengurangi kolesterol, maka jangan sertakan kuning telur ke dalam menu makan.
2. Minum sayuran
Cobalah untuk membuat minuman yang terbuat dari sayuran, seperti jus atau smoothies sayur. Campurkan dengan buah-buahan supaya rasanya tak terlalu pahit.
3. Ganti camilan
Jika terbiasa ngemil biskuit atau keripik, cobalah untuk menggantinya dengan potongan sayuran seperti stik wortel, seledri, ketimun bahkan kacang. Campurkan dengan yogurt rendah lemak atau perasan lemon agar lebih enak.
4. Lipat gandakan
Setiap memasukkan sayur ke dalam menu makanan, maka lipat gandakanlah jumlahnya. Selain itu, salad bisa jadi pilihan yang baik untuk cukup konsumsi sayur di tengah kesibukan.
5. Saus sayuran
Saat membuat saus, daging umumnya dipilih sebagai campuran guna menambah kaya tekstur dan rasanya. Namun ternyata sayuran juga bisa memiliki peran yang sama seperti daging. Cobalah gunakan terong dan jamur untuk campuran saus pasta, dan rasakan manfaatnya.
6. Pesan lebih banyak
saat sedang makan di restoran, upayakan untuk memesan lebih banyak sayuran dalam menu makanan. Bahkan jika bisa, mintalah untuk mengganti beberapa bahan pada menu dengan sayuran.
7. Hari tanpa daging
Meskipun tidak memilih menjadi vegetarian, namun kita bisa mengupayakan satu hari tanpa daging untuk memperbanyak konsumsi sayuran kita. Gantilah daging dengan sayuran-sayuran seperti bayam, brokoli dan sayur-sayuran lainnya.
Kompas.com - Penerapan pelayanan berjenjang, sistem kapitasi, dan standardisasi penggunaan obat mutlak dilakukan agar sistem asuransi kesehatan sosial berjalan baik.
Demikian pendapat Direktur Utama PT Askes Fachmi Idris dan Sulastomo, mantan Ketua Tim SJSN 2001-2004, yang dihubungi secara terpisah, Kamis (23/5), di Jakarta. Mereka dimintai tanggapan terkait karut- marut pelaksanaan Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang diluncurkan Pemprov DKI Jakarta.
Fachmi menyatakan, sampai saat ini premi Rp 23.000 per orang per bulan dikelola Unit Pelaksana Jamkesda Dinas Kesehatan DKI Jakarta. ”Dalam KJS PT Askes hanya verifikator, apakah klaim rumah sakit telah sesuai dengan INA-CBG. Selain itu, melakukan pendataan peserta serta membantu informasi teknologi untuk melihat pemanfaatan fasilitas kesehatan secara real time,” kata Fachmi.
INA-CBG (Indonesia Case Based Group) adalah sistem pembayaran kepada pemberi pelayanan kesehatan yang dikelompokkan berdasarkan ciri klinis dan pemakaian sumber daya yang sama. Besaran tarif INA-CBG ditetapkan National Casemix Centre (NCC) Kementerian Kesehatan yang saat ini terdiri dari para wakil rumah sakit pemerintah dan jajaran Kementerian Kesehatan.
Menurut Fachmi, dalam skema asuransi kesehatan sosial, akses pelayanan kesehatan dilakukan berjenjang dari fasilitas pelayanan primer, sekunder, hingga tersier. Pelayanan primer adalah entitas pelayanan kesehatan (puskesmas, klinik, atau dokter keluarga) yang bertanggung jawab atas kesehatan populasi, sekitar 3.000 penduduk.
Penduduk yang sakit harus ditangani di pelayanan kesehatan primer. Jika sudah tidak mampu atau di luar kompetensi pelayanan kesehatan primer, baru pasien dirujuk ke pelayanan kesehatan sekunder (rumah sakit di daerah). Jika penyakit terlalu berat, baru dirujuk ke pusat rujukan nasional (RS Cipto Mangunkusumo). ”Pasien tidak bisa melakukan jalan pintas langsung ke rumah sakit,” kata Fachmi.
Berdasarkan bukti dari sejumlah negara didapatkan, setiap bulan dari 1.000 penduduk, sekitar 250 orang berobat. Dari jumlah itu, hanya 21 orang yang harus dirujuk untuk rawat jalan dan 9 orang dirawat inap di RS daerah. Hanya 1 orang dirujuk ke pusat rujukan nasional.
Seharusnya kapitasi
Entitas pelayanan primer dibayar dengan sistem kapitasi, pembayaran jumlah uang tertentu di depan untuk menjamin kesehatan populasi penduduk. Penduduk yang sakit dirawat dengan uang kapitasi. Makin sedikit penduduk yang sakit, dokter makin untung. Karena itu, dokter harus menjaga penduduk tetap sehat dengan penyuluhan preventif dan promotif. Dokter tidak bisa sembarangan merujuk pasien ke pelayanan sekunder. Jika yang dirujuk melebihi jumlah wajar, biaya perawatan dibayar dengan uang kapitasi.
Persoalannya, kata Fachmi, dalam pelaksanaan KJS, pelayanan primer masih dibayar secara fee for service (dibayar per pelayanan diberikan kepada pasien). Karena itu, pelayanan kesehatan berjenjang kurang berjalan karena pelayanan kesehatan primer bebas merujuk pasien ke rumah sakit.
PT Askes mendorong penerapan kapitasi di pelayanan primer. ”Pelayanan primer harus diperkuat dengan pemberian kapitasi yang memadai dan regulasi bahwa dana kapitasi bisa langsung dimanfaatkan penyedia pelayanan, dokter keluarga maupun puskesmas. Jadi untuk puskesmas tidak lagi diserahkan ke negara,” kata Fachmi.
Biaya kapitasi adalah 30 persen premi. Hal itu termasuk untuk penyediaan obat dan pemeriksaan penunjang. Dengan demikian, tidak ada lagi mismatch alat serta obat yang diperlukan dan yang tersedia di puskesmas.
Di sisi lain, rumah sakit dibayar dengan tarif paket INA-CBG yang didasarkan pada perhitungan rumah sakit pemerintah. Tarif itu menjadi berat bagi rumah sakit swasta mengingat gaji dokter dan pegawai, serta belanja modal (peralatan, alat kesehatan, dan obat-obatan) dibiayai sendiri, bukan oleh pemerintah. Karena itu, tarif INA-CBG kini ditinjau kembali.
Tim di NCC juga diusulkan ditambah wakil dari BPJS, wakil asosiasi rumah sakit swasta, akademisi, organisasi profesi serta wakil konsumen.
Terkait paket INA-CBG, agar tidak merugi provider harus menggunakan obat-obatan yang bioavailabilitas maupun bioekuivalensi sama dengan obat asli/ paten agar efisien.
Standardisasi obat
Sulastomo yang juga mantan Direktur Operasi PT Askes 1986-2000 menekankan, standardisasi penggunaan obat mutlak dilakukan. Biaya obat adalah 40-45 persen biaya pelayanan kesehatan. Dengan melakukan efisiensi biaya obat, biaya kesehatan bisa efisien.
Menurut Sulastomo, seharusnya pelaksanaan JKS maupun JKN tahun depan mengikuti sistem Askes. ”Sistem itu sudah teruji selama puluhan tahun, tinggal diteruskan,” katanya.
Dalam hal ini, pelayanan kesehatan dilakukan secara berjenjang, pelayanan primer dibayar dengan kapitasi, rumah sakit dibayar dengan tarif paket, dan obat menggunakan Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO).
Kapitasi dan tarif paket harus dihitung sesuai harga keekonomian, karena mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan tetap berlaku. Jika terlalu rendah, tidak ada fasilitas pelayanan kesehatan yang mau bergabung. (ATK)