Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Alkes Ritel, Penyedia Alkes Terlengkap di Jawa Barat

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Kamis, 02 Mei 2013

Kurang Tidur Bikin Testis Menciut

KOMPAS.com — Satu lagi alasan kenapa Anda harus cukup tidur. Para peneliti dari Denmark menemukan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kadar testosteron dan mengurangi jumlah sperma. Hal itu akibat ukuran testis yang menyusut, terutama pada pria yang kurang tidur.

Dalam era industri yang berkembang pesat seperti sepuluh tahun terakhir ini, jumlah sperma ikut mengalami penurunan. Penurunan tersebut diduga akibat gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tidak baik dan kurang bergerak aktif.

Dalam studi yang dilakukan tim dari University of Southern Denmark ini, para peneliti melakukan survei terhadap 1.000 pria yang berusia rata-rata 20 tahun. Mereka menanyai peserta tentang jadwal, gangguan, dan kebiasaan tidur peserta. Para peneliti juga melakukan pengukuran terhadap ukuran testis dan jumlah sperma. Selain itu, dianalisis pula kualitas sperma.

Pria dengan gangguan tidur seperti insomnia, hobi begadang, tidak memiliki jadwal tidur yang pasti sepanjang malam, dan sering terbangun tercatat mengalami penurunan jumlah sperma hingga 29 persen. Mereka juga dilaporkan memiliki sperma cacat sekitar 1,6 persen dan ukuran testis yang lebih kecil dibandingkan dengan pria yang cukup tidur.

Terkait dengan teori gaya hidup tidak sehat, para peneliti mengakui bahwa pria dengan kualitas tidur  buruk biasanya juga bergaya hidup tidak sehat dibandingkan dengan mereka yang memiliki kualitas tidur yang baik.

Para peneliti mengatakan, pria yang kurang tidur lebih mungkin untuk kelebihan berat badan, minum lebih banyak alkohol, dan merokok lebih banyak daripada mereka yang cukup tidur.

Studi yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology ini belum dapat menentukan, apakah kurang tidur atau gaya hidup yang tidak sehat yang menyebabkan menurunnya kualitas dan jumlah sperma. Para peneliti mengatakan, perlu studi lanjutan untuk menentukan hal tersebut.



Sumber Kompas



Info Alkes

Rabu, 01 Mei 2013

Benturan di Kepala Paling Berbahaya

Kompas.com - Jaringan saraf dalam otak sangat halus dan mudah robek, memar, atau rusak akibat tekanan. Dalam kondisi normal, jaringan saraf dilindungi oleh tulang tengkorak. Terjadinya benturan mendadak dalam suatu kecelakaan bisa membuat perlindungan tersebut hilang.

Cedera kepala biasanya disebabkan oleh kecelakaan di jalan raya, pabrik, terjatuh, atau serangan fisik. Kecelakaan merupakan penyabab utama kematian pada orang-orang di bawah usia 44 tahun.

"Trauma pada otak bisa menyebabkan perdarahan yang berakhir fatal atau kematian. Pecahnya pembuluh darah atau perdarahan akan mengakibatkan korban meninggal lebih cepat," kata dr.Pukovisa, Spesialis Saraf dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ia menjelaskan, ada beberapa mekanisme terjadinya trauma pada kepala. Pertama adalah benturan yang merusak otak secara langsung, benturan yang menyebabkan reaksi radang (inflamasi) hebat dan terus berproses hingga merusak otak, dan terakhir adalah peningkatkan volume darah dalam rongga otak.

"Karena rongga otak tidak mungkin bertambah besar, maka peningkatan volume akan menekan batang otak. Padahal bagian ini sangat vital untuk pusat kesadaran, pengatur pernapasan, dan pengatur denyut jantung," paparnya.

Kefatalan akibat cedera kepala bisa dikurangi dengan penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor dan saat berolahraga, topi keras, serta pelayanan gawat darurat yang lebih baik.

Menggunakan helm dengan pengamanan penuh (full face) akan mencegah terjadinya benturan pada kepala serta menekan risiko perdarahan jika terjadi trauma kepala.

Penanganan

Penangangan gawat darurat diperlukan bagi korban kecelakaan dengan trauma pada kepala. Menurut dr.Roslan Yusni Hasan, spesialis bedah saraf dari RS. Mayapada Tangerang, daerah leher wajib menjadi perhatian saat mengamankan korban kecelakaan dengan trauma kepala.

"Prinsipnya bila korban menderita trauma kepala harus beranggapan ada trauma juga pada lehernya. Sedapat mungkin leher jangan digerakkan," kata Roslan.

Daerah leher adalah salah satu jalan nafas. Benturan yang menyebabkan tulang leher luka atau patah akan menyebabkan jalan nafas terganggu sehingga menyebabkan kematian dengan cepat.

"Sebelum korban dipindahkan dari area kecelakaan, daerah leher harus diberi pengaman sehingga leher tidak terkulai atau tertekuk ke satu sisi yang bisa menyebabkan patah," katanya.

Ditambahkan oleh Pukovisa, jika korban menggunakan helm sebaiknya helm jangan dilepas. Pelepasan helm dikhawatirkan akan menggerakkan leher dan mengakibatkan patah tulang leher.

"Bila ingin memberi udara sebaiknya kaca helm dibuka sedikit dan jangan membiarkan orang berkerumun di sekitar korban. Selanjutnya bisa dilakukan pengecekan jantung, paru, dan otak," katanya.



Sumber Kompas



Info Alkes

Perbaiki Postur Tubuh dengan Olahraga Air

KOMPAS.com - Siapa yang tidak ingin memiliki postur tubuh yang tegap dan kokoh? Sayangnya postur tubuh yang salah menyebabkan derajat kemiringan punggung terus bertambah. Kebiasaan duduk, berjalan, atau berdiri yang tidak tepat bisa menjadi penyebab kebungkukan yang semakin menjauhkan dari postur tegap.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Departemen Rehabilitasi Medik RSCM/FKUI dr. Siti Annisa Nuhonni mengatakan, bungkuk atau kifosis terdiri dari dua jenis yaitu kifosis fungsional dan struktural. Kifosis fungsional masih dapat disembuhkan sehingga masih ada kemungkinan orang dengan kifosis fungsional bisa kembali berpostur tegap.

"Dengan beberapa jenis terapi, kifosis fungsional bisa disembuhkan," ujar Honni, panggilannya, dalam talk show bertajuk 'Kenali Kifosis, Jauhi Penyebabnya: Osteoporosis. Demi Esok yang Lebih Baik' Kamis (25/4/2013) kemarin di Jakarta.

Honni mengatakan, terapi yang terbaik untuk membantu memperbaiki postur orang dengan kifosis fungsional yaitu dengan melakukan olahraga air. Berenang, mengapung, dan berjalan di dalam air adalah beberapa variasinya.

"Banyak gaya berenang yang dapat menarik bahu dan tulang punggung sehingga menjadi lebih tegap, seperti gaya dada atau kupu-kupu. Bahkan dengan berjalan di air yang setinggi dada saja sudah bisa membantu" paparnya.

Prinsip olahraga air dalam mengatasi kifosis fungsional adalah tekanan air yang "memaksa" tubuh untuk memasang postur tegap. "Tidak mungkin kan berjalan bungkuk di air, karena akan lebih sulit," ujar Honni.

Cegah lebih baik

Kifosis fungsional, tutur Honni, disebabkan oleh kebiasaan duduk yang tidak tegak, terlalu banyak membungkuk, kurang menarik bahu, dan beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan postur lainnya. Bahkan, berbaring dua bulan di tempat tidur karena sakit juga menyebabkan kifosis jenis ini.

Untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan kifosis, sebenarnya dapat dimulai sedini mungkin. "Sebelum terjadi kifosis, sebaiknya menghindari kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkannya," kata Honni.

"Bila mulai membungkuk, tariklah bahu dan perut, dan busungkan dada. Bila perlu, mintalah orang terdekat untuk mengingatkan Anda," sarannya.

Selain meninggalkan kebiasaan buruk, pencegahan kifosis yaitu dengan menghindari pengeroposan tulang atau osteoporosis. Caranya antara lain yaitu dengan cukup asupan kalsium dan vitamin D serta memperbanyak olahraga hentakan.

Kendati demikian, tidak semua kifosis dapat disembuhkan. Honni mengatakan, untuk kifosis struktural hanya dapat dicegah agar tidak semakin parah, tetapi postur tubuh tidak bisa kembali tegap.



Sumber Kompas



Info Alkes

Indonesia Raih Penghargaan Pengendalian TB

KOMPAS.com - Indonesia menerima penghargaan atas keberhasilan pengendalian penyakit tuberkulosis (TB). Penghargaan Champion Award for Exceptional Work in the Fight Against TB diserahkan USAID Global Health, Kamis (18/4/2013), di Jakarta. Penghargaan diberikan karena keberhasilan pengobatan tuberkulosis yang mencapai 90 persen. Sementara tingkat deteksi kasus TB baru di atas 70 persen.

"Pencapaian ini menyebabkan Indonesia memiliki kontribusi dalam pemberantasan TB secara global. Meski tidak bisa bebas 100 persen, namun semoga pada 2015 TB bisa dikendalikan sepenuhnya," kata Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi.

Program diagnostik GeneXpert dianggap memiliki kontribusi signifikan pada keberhasilan pengendalian TB. Program ini mendiagnosis bakteri Mycrobacterium tuberkulosis dalam tubuh pasien resisten terhadap pengobatan rifampicin. Adanya program ini memungkinkan pasien menerima pengobatan sesuai kondisi yang diderita. Waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 90 menit. Bila tidak resisten maka pasien akan menjalani pengobatan biasa. Sedangkan pasien yang resisten akan menjalani pengobatan line 2. Seluruh pengobatan bersifat cuma-cuma.

Pengobatan TB biasa menggunakan anti-TB isoniazid (INH) dan rifampicin (RMP). Lama pengobatan biasanya sekitar 6-9 bulan. Sedangkan pasien yang mengalami multi drug resistence (MDR) akan menggunakan obat Pirazinamide, Ethambuthol, Cicloserine, Levofloxacin, di tambah dengan suntikan Kapreomicin selama 6 enam bulan. Seluruh pengobatan berlangsung 18-24 bulan.

Menkes mengatakan, pemerintah Indonesia menjadi salah satu di dunia yang mempelopori agar TB-MDR masuk dalam kebijakan nasional. Kebijakan ini ternyata menginspirasi beberapa negara di dunia. "Ada indikasi Programatic Multi Drug Resistance TB (PMDT) diterima sebagai masukan untuk negara lain," ujarnya.

TB-MDR merupakan masalah yang cukup menjadi ganjalan. Pengobatan untuk TB tipe ini lebih mahal dan lama, dikarenakan bakteri yang sudah resisten. Resisten ini bisa diakibatkan pasien yang berhenti minum obat karen sudah merasa sehat, atau kabur di tengah pengobatan. Tantangan lain adalah terjadinya ko-infeksi. Biasanya ko-infeksi TB berjalan dengan HIV. Adanya TB akan menurunkan data tubuh. Akibatnya, virus penyebab AIDS ini mudah masuk dan berkembang biak.

Beberapa program yang menonjol dalam pemberantasan TB di daerah adalah Public Private Mix (PPM) layanan DOTS pada kelompok praktek dokter, penguatan jejaring layanan TB, pengembangan rumah sakit rujukan untuk TB-MDR, penguatan kebijakan satu pintu untuk obat anti TB, sertifikasi WHO dan Institute of Medical and Veterinary Science (IMVS) pada 5 laboratorium kultur dan Drug Suspensibility Test (DST). Kolaborasi dengan perkumpulan pasien.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan USAID (The United States Agency for International Development), Dr. Andrew Sisson mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah TB terbanyak berhak menerima penghargaan ini. Indonesia adalah penyumbang TB nomor empat di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. Diperkirakan ada 430 ribu kasus TBC baru dan 169 orang di antaranya meninggal setiap hari.  USAID memberikan sumbangan untuk pengendalian TB sebesar 13 juta dolar AS per tahun.

"Semakin besar negara tentu makin banyak kasus TB yang ditemukan. Cara pengendalian inovatif diperlukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit," kata Andrew.

Rrajin minum obat

Menkes juga berpesan agar pasien TB harus rajin minum obat untuk melindungi diri dari ko-infeksi dan resistensi kuman. Menurut Menkes, satu pengobatan TB MDR berharga sama dengan 206 pengobatan TB biasa. Makin cepat sembuh, daya tahan tubuh semakin baik. Hasilnya tubuh makin terlindungi. "Harus cepat sembuh jangan sampai menulari," kata Nafsiah.

Menkes berharap, pemerintah dapat terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang mendukung pemberantasan TB, misalnya organisasi non profit, rumah sakit, dan tenaga kesehatan di semua puskesmas. Hal ini untuk mendorong fokus pemerintah pada pelaporan kasus TB di perempuan dan usia anak, memastikan universal access untuk TB-MDR, dan meningkatkan layanan dan pengobatan untuk TB-MDR.



Sumber Kompas



Info Alkes

Seribu Hari Pertama Tentukan Kecerdasan Anak

KOMPAS.com - Kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama dapat menentukan masa depan dan kecerdasan anak. Seribu hari pertama adalah saat hari pertama ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun.

Kecukupan gizi ini akan membantu tubuh mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh dan menyambungkan jaringan saraf di otak. Semakin banyak jaringan saraf yang tersambung, makin cepat anak menangkap informasi. Proses perkembangan pun akan semakin sempurna dan anak tumbuh cerdas.

"Ada berbagai bukti global yang menunjukkan pentingnya gizi di 1.000 hari pertama. Gizi termasuk mikronutrien dan makronutrien di tiga tahun pertama kehidupan anak, berfungsi sebagai fondasi pertumbuhan di usia selanjutnya," kata peneliti Endang L. Achadi dari Departemen Gizi FKM-UI pada Seminar Gizi dan Kesehatan bertajuk Public Private Partnership dalam Mendukung Scaling Up Nutrition (SUN) Melalui Peningkatan Perbaikan Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan di Jakarta, Rabu (17/4/2013).

Endang menunjukkan betapa besarnya risiko serta dampak buruk apabila kecukupan gizi pada 1000 hari pertama tidak terpenuhi dengan baik. Salah satunya adalah kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah. Padahal beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah berisiko mengalami masalah saat tumbuh dewasa.

Studi para ahli  di Inggris menunjukkan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibanding yang lahir dengan berat normal. Risiko penyakit jantung itu akan terus membayangi walau bayi minum ASI dan disapih. Studi lainnya  di Guatemala yang menunjukkan, anak yang mengalami stunting pada usia 3 tahun berisiko lebih besar bertubuh pendek saat dewasa.

Kasus bayi dengan berat lahir rendah semestinya dapat ditekan apabila masyarakat dan pemerintah juga peduli pada kecukupan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan. "Untuk pengawasan kecukupan gizi ini, kita dapat mengacu pada Kartu Menuju Sehat (KMS) di posyandu. peran swasta juga tidak boleh dilupakan," kata Ketua Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia, Prof. (Em) Soekirman, SKM, MPS-ID, PhD.

Pihak swasta menurut Soekirman bisa dijadikan mitra untuk meningkatkan efektivitas program perbaikan gizi dan peningkatan kesehatan masyarakat.



Sumber Kompas



Info Alkes