Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium terlengkap di Jawa Barat. Hubungi kami untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: alkesritel.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kompas.com - Sauna mungkin baik untuk melancarkan sirkulasi darah, namun tidak untuk jumlah sperma. Sebuah studi baru menemukan bahwa panas dari sauna akan mempengaruhi produksi sperma. Kunjungan rutin ke sauna bakal menurunkan jumlah sperma, meskipun efeknya mungkin hanya sementara.
Para peneliti melibatkan 10 pria Finlandia sehat berusia 30-an yang memiliki jumlah sperma normal dan tidak pernah pergi ke sauna dalam satu tahun terakhir. Kemudian para peserta mengikuti program sauna selama tiga bulan, yaitu 15 menit melakukan sauna dua kali dalam seminggu.
Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah dan kepekatan sperma para peserta lebih rendah setelah mengikuti program sauna selama tiga bulan tersebut. Bahkan hingga tiga bulan setelah mengikuti program, angka-angka tersebut masih rendah. Baru setelah enam bulan, produksi sperma mulai normal kembali.
Para peneliti berpendapat bahwa suhu tinggi dalam sauna lah yang mengganggu produksi sperma, sehingga menyebabkan jumlah dan kepekatan sperma menurun. Skrotum para peserta pun suhunya meningkat sekitar 5 derajat Fahrenheit setiap selesai satu sesi sauna.
"Testis berfungsi untuk mendinginkannya," ujar dr. Andrew Kramer, ahli urologi dari University of Maryland Medical Center. Jika testis dipanaskan beberapa derajat maka produksi sperma akan terhambat.
Penjelasan ini juga berlaku untuk menjawab mengapa jumlah sperma juga menurun sementara waktu ketika pria menggunakan celana ketat, rutin berendam air panas, atau menaruh laptop pada pangkuannya dalam periode waktu yang lama.
Kendati demikian, masih belum jelas apakah sauna dapat mempengaruhi kesuburan pria. Livescience melansir, jumlah sperma tidak berhubungan dengan kesuburannya. Kesuburan lebih diukur dari bentuk dan motilitas sperma. Dengan kata lain, kualitas sperma lebih menentukan kesuburan daripada kuantitas.
Lantaran ini adalah studi kecil dan hanya melibatkan pria sehat, maka belum dapat dipastikan hasil ini bisa digeneralisasi untuk keseluruhan pria. Kramer pun menuturkan bahwa studi ini belum menunjukkan bukti yang cukup bagi pria sehat untuk menghindari pergi ke sauna.
KOMPAS.com — Cukup banyak pasangan yang mengalami gangguan kesuburan melakukan program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) di luar negeri. Padahal, kualitas klinik bayi tabung di Indonesia tak kalah dengan negara tetangga.
Diperkirakan sekitar 4 persen pasangan suami istri (pasutri) yang belum memiliki keturunan melakukan program bayi tabung di luar negeri.
Dibandingkan dengan negara tetangga, jumlah klinik bayi tabung di Indonesia memang masih sedikit, yakni baru 26 klinik di 11 kota, terutama di kota-kota besar. Bandingkan dengan Jepang yang berpenduduk 110 juta orang dan memiliki 600 klinik kesuburan.
"Tetapi, dari segi fasilitas dan kemampuan, dokter kita sudah setara dengan negara tetangga. Angka keberhasilannya pun hampir sama, sekitar 40 persen," kata dr Budi Wiwengko, Sp OG, sekjen Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) dalam acara media edukasi perkembangan terkini infertilitas dan bayi tabung di Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Ia mengatakan, teknik-teknik terbaru yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi sudah bisa dilakukan di klinik dalam negeri, misalnya teknik ICSI atau menyuntikkan satu sel sperma ke dalam sel telur sehingga terjadi pembuahan.
Fasilitas laboratorium yang canggih juga berperan cukup besar dalam menurunkan risiko kegagalan, terutama untuk memilih sel telur dan sel sperma berkualitas baik.
"Teknik dan pemeriksaan laboratorium terbaru sudah mampu melakukan pembesaran sel sperma hingga 6.000 kali sehingga bisa dilihat dengan jelas ada tidaknya kerusakan," imbuh dokter yang biasa disapa Iko ini.
Iko menambahkan, memang ada beberapa hal yang belum dapat dikerjakan dokter di Indonesia, tetapi hal tersebut disebabkan faktor regulasi, bukan kemampuan.
"Kita tidak boleh melakukan donor sel telur atau sel sperma. Demikian juga dengan surrogate atau ibu pengganti. Di luar itu, kemampuan dokter kita tak kalah," katanya.
Selain soal fasilitas dan kemampuan dokter, menurut Iko, melakukan program bayi tabung di dalam negeri juga lebih menghemat biaya. Di Indonesia, program bayi tabung membutuhkan dana sekitar Rp 30-60 juta.
"Di negara lain tentu lebih mahal karena harus mengeluarkan biaya akomodasi. Selain itu, jika kita melakukannya di sini tentu akan mendapat dukungan psikologis lebih besar dari keluarga," katanya.
Dukungan dari keluarga, menurut dia, berpengaruh besar terhadap keberhasilan program bayi tabung. Faktor lain yang berpengaruh adalah usia calon ibu.
Jakarta, Kompas - Sejumlah rumah sakit menyatakan tidak siap menyambut penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional pada 1 Januari 2014. Diperlukan uji coba bagi pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional agar pengelola rumah sakit memiliki panduan pelaksanaan yang tepat.
Hal itu mengemuka dalam Pelatihan dan Lokakarya ”Meningkatkan Kualitas Layanan dan Kesiapan Rumah Sakit dalam Penerapan Jamkesnas”, Senin (25/3), di Jakarta.
Perwakilan Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, Lies Dina Liastuti, mengatakan, RS Harapan Kita belum siap melaksanakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pihaknya masih mempersiapkan antara lain sistem remunerasi, bonus kinerja bagi dokter spesialis dan tenaga kesehatan lain, serta pembentukan tim kerja untuk menyiasati pos- pos yang bisa dihemat.
”Kalau ada pilot project (proyek percontohan) pelaksanaan JKN, tentu sangat baik,” kata Liastuti. Proyek percontohan diharapkan memberi panduan tepat terkait pelaksanaan JKN.
Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Kanker Dharmais, Dody Ranuhardy, menyatakan, uji coba sebaiknya dilaksanakan di rumah sakit pemerintah yang wajib melaksanakan JKN. Bila uji coba terbukti berjalan baik dan tidak membebani rumah sakit, rumah sakit swasta tentu akan mengikuti.
Saat ini, beberapa hal yang menjadi kendala JKN adalah tidak berjalannya sistem rujukan. Dody mencontohkan, sejumlah pasien tumor payudara kerap langsung datang ke Dharmais meski tumor yang diderita kategori jinak dan bisa ditangani rumah sakit tipe C atau D.
Keterbatasan dokter spesialis dan sebaran yang tidak merata juga rawan jadi masalah. Persoalan lain adalah keterbatasan peralatan kesehatan yang memadai.
Direktur Medis dan Keperawatan RSUP Sanglah, Bali, A A Ngurah Jaya Kusuma mengatakan, sejauh ini sistem rujukan rumah sakit di Bali berjalan cukup baik. Namun, masih perlu diupayakan agar sistem rujukan yang berlaku semakin efisien.
Hal lain adalah penyusunan Panduan Praktik Klinik (PPK) untuk beberapa penyakit. PPK adalah standar prosedur operasional untuk membantu dokter dan tenaga kesehatan lain terkait tata laksana penyakit atau kondisi klinis yang spesifik.
Sistem pembayaran
Secara terpisah, Ketua Umum Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Sutoto menyatakan, rumah sakit yang siap melaksanakan JKN adalah rumah sakit yang sudah melayani Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Sistem pembayaran yang digunakan sama, yaitu INA CBGs (Indonesia Case Base Group’s). Suatu aplikasi untuk pengajuan klaim oleh penyedia pelayanan kesehatan, puskesmas, klinik maupun RS. Dalam aplikasi ini penyakit dikelompokkan berdasarkan ciri klinis dan biaya yang sama. Tujuannya untuk meningkatkan mutu dan efektivitas pelayanan.
Saat ini jumlah rumah sakit yang telah melayani Jamkesmas ada 1.240, baik rumah sakit swasta maupun pemerintah.
Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengatakan, tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan JKN adalah agar seluruh rakyat Indonesia bisa berobat dan mendapat pelayanan kesehatan.
”Selama ini, 50 persen dari penduduk Indonesia tidak bisa berobat karena tidak punya uang. Persoalan ini yang ingin diselesaikan terlebih dulu,” katanya.
Hingga saat ini, rata-rata kapasitas rumah sakit yang digunakan baru 60 persen. Artinya, infrastruktur ada, tetapi belum digunakan secara maksimal.
Karena itu, tidak masalah apabila dalam pelaksanaannya pada tahun-tahun pertama akan terjadi keguncangan. Dia optimistis, ke depan, JKN akan makin baik. Yang terpenting, tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia akan tercapai.
Terkait uji coba pelaksanaan JKN, sebagaimana dikemukakan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Akmal Taher, rencananya akan dilaksanakan pada 1 Oktober 2013. Teknis pelaksanaannya saat ini tengah disusun. Rumah sakit diharapkan dapat memberikan masukan. (DOE)
Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap 24 Maret baru saja berlalu. Tidak banyak ulasan media meskipun Kementerian Kesehatan menyelenggarakan lomba gerak jalan yang melibatkan beberapa pejabat pula. Gaungnya tertutup drama Cebongan dan isu kudeta yang ditanggapi berlebihan.
Terlepas dari pilihan acara peringatan yang kurang ”seksi”, tuberkulosis memang sering luput dari perhatian publik. Padahal, Indonesia adalah negara kelima dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2010 menunjukkan, estimasi prevalensi adalah 660.000 dengan 61.000 kematian per tahun.
Dalam Terobosan Menuju Akses Universal: Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014 (Kementerian Kesehatan, 2011) disebutkan, Indonesia merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV tertinggi di antara negara-negara Asia. Inilah yang turut memicu peningkatan kasus tuberkulosis—dikenal juga sebagai TB—di Tanah Air. Prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2,8 persen.
Meski demikian, Indonesia merupakan negara pertama di antara high burden country di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada 2006. Tahun 2009 ada 294.732 kasus TB ditemukan dan diobati.
Dengan demikian, rata-rata pencapaian keberhasilan pengobatan selama empat tahun terakhir adalah 90 persen. Inilah tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional, yang baru saja mendapat penghargaan di Washington DC, Amerika Serikat. Global Health USAID yang menyerahkan penghargaan tersebut menilai, Indonesia tidak hanya mencapai kemajuan dalam pengendalian TB, tetapi juga menjadi pelopor penerapan strategi yang inovatif dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan.
Riwayat TB
Peringatan Hari Tuberkulosis berpijak pada keberhasilan mikrobiolog Jerman Robert Koch mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis sebagai kuman penyebab infeksi TB. Koch mengumumkan temuan itu pada 24 Maret 1882 setelah berhasil menumbuhkan koloni TB di laboratorium untuk pertama kalinya. Kumpulan kuman biru itu berbuah Nobel tahun 1905.
Meskipun baru dikenali 131 tahun lalu, sebenarnya penyakit tuberkulosis sudah ada seiring peradaban manusia. Kehadiran kuman ini ditemukan pada tulang belakang mumi Mesir berusia ribuan tahun yang kini disimpan di British Museum, London. TB juga menjadi penyakit umum pada zaman kekaisaran Romawi dan Yunani kuno.
Sejak itulah upaya ilmiah untuk mengatasi TB terus berlangsung. Temuan kuman TB diikuti dengan pengembangan obat dan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) yang efektif mencegah penularan. Meski angka kasus sempat menurun signifikan, kehadiran human immunodeficiency virus (HIV) yang menurunkan sistem kekebalan tubuh meningkatkan kembali penularan TB. Di Indonesia, sebagai contoh, TB menjadi pembunuh utama orang dengan HIV/AIDS.
Kondisi tersebut, ditambah dengan meningkatnya strain kuman yang resistan terhadap obat, membuat TB masih menjadi penyakit infeksi utama yang banyak membunuh umat manusia sampai hari ini.
Tidak tepat dan tidak taat
Prof Dr Samsuridjal Djauzi dalam kolom kesehatan di Kompas (1 April 2012) mengingatkan, resistansi obat terjadi akibat terapi yang tidak tepat dan ketaatan pasien yang rendah. Hal ini karena pengobatan TB baru tuntas setelah enam bulan, dan dalam banyak kasus pasien berhenti sebelum waktunya karena merasa sudah sehat.
Dampaknya adalah multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB), yang berarti kuman sudah kebal terhadap dua obat lini pertama TB, yaitu rifampicin dan isoniazid. MDR-TB tentu saja memerlukan pengobatan yang lebih canggih dan dalam jangka waktu yang panjang sehingga lebih mahal biayanya.
Tantangan ini diakui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP (K) MARS DTM&H DTCE. Menurut Tjandra, meningkatnya koinfeksi TB-HIV dan kasus MDR-TB membuat jumlah pasien TB dan kematian akibat TB masih cukup banyak di Indonesia.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mengupayakan sejumlah program TB, mulai dari penyertaan pengetahuan dan penatalaksanaan TB dalam proses akreditasi rumah sakit dan surat izin praktik dokter hingga bekerja sama dengan asuransi kesehatan dalam penerapan standar pengobatan TB dengan directly observed treatment short-course (DOTS) bagi seluruh pasien TB.
DOTS adalah metode pengawasan untuk meningkatkan ketaatan pasien menuntaskan pengobatan. Di puskesmas, misalnya, pasien TB wajib minum obat di depan petugas kesehatan.
Inovasi insentif
Di wilayah Serang dan Pandeglang, keduanya di Provinsi Banten, bahkan ada strategi yang layak diterapkan secara nasional. Nurul Agustina, antropolog kesehatan yang tengah melakukan penelitian etnografis untuk Program Initiatives for Maternal Mortality Program Assessment pada tahun 2005-2006, menyaksikan ada program menukar ongkos dengan beras untuk pasien TB di salah satu puskesmas.
”Setiap pasien yang datang mengambil obat mendapat 5 kilogram beras per bulan. Artinya, jika dalam satu keluarga ada tiga pasien TB, mereka akan menerima 15 kilogram beras.” ujar Nurul.
Ini sungguh suatu inovasi yang berdampak ganda: menyembuhkan TB sekaligus memperbaiki gizi keluarga yang pada gilirannya akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit pada keluarga miskin.
Tentu saja inovasi tidak harus berupa barter beras. Lokasi puskesmas yang sering tidak mudah diakses pasien dari pelosok mungkin bisa diatasi dengan upaya ”jemput bola”: petugas yang berkeliling membagikan obat.
Sanggupkah kita?
Kompas.com - Mungkin Anda pernah merasakan sensasi rasa panik saat tidur karena tubuh seolah-olah ditindih sesuatu namun Anda tidak bisa bergerak, berteriak, apalagi terbangun. Masyarakat menyebut fenomena itu sebagai tindihan karena mahluk halus.
Menurut penjelasan medis, tindihan disebut dengan kelumpuhan saat tidur (sleep paralysis). Ini adalah fenomena yang normal. Hampir setiap orang dalam hidupnya pernah mengalami kelumpuhan saat tidur, termasuk orang dari negara maju.
Kelumpuhan saat tidur, menurut penjelasan dr.Rismawati Tedjakusuma, spesialis saraf dan ahli tidur, disebabkan karena adanya ketidaksesuaian antara tidur REM dengan bangun.
Fase tidur REM adalah periode tidur yang paling dalam nyenyak. Pada tahap inilah mimpi terjadi. Selama tidur REM otot-otot berada dalam kondisi yang sangat lemah. "Ini mekanisme alami supaya kita tidak memeragakan mimpi yang dialami," katanya.
Nah, saat mengalami sleep paralysis otak sebenarnya sudah keluar dari tahap REM tetapi tubuh belum sehingga otot-otot masih lemah. "Jadi rasanya seolah-olah kita ingin bangun dan buka mata tapi tubuh tidak bisa digerakkan," kata Risma yang juga anggota Indonesia Sleep Society ini.
Sebagian besar orang percaya bahwa tindihan bisa mengancam nyawa. Namun menurut Risma ketakutan itu tidak berdasar. "Memang rasanya sesak napas, tetapi jika kita rileks dan tenang lama-lama perasaan lumpuh itu akan hilang sendiri," katanya.
Meski tidak berbahaya, namun sleep paralysis yang terlalu sering perlu diwaspadai. "Jika kita mengalami fenomena itu seminggu dua kali saja, perlu diperiksakan," imbuh dokter dari RS.Medistra Jakarta ini.
Sleep paralysis bisa menjadi gejala dari penyakit gangguan tidur lainnya, misalnya saja henti napas saat tidur (sleep apnea), serangan tidur mendadak (narcolepsy), kecemasan, bahkan depresi. Orang-orang yang pernah mengalami trauma psikologis juga lebih rentan mengalami sleep paralysis.
Sleep paralysis juga biasanya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi terlentang atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur. Karena itu sebaiknya kita mengubah posisi tidur beberapa kali saat tidur.